
Oleh: Drs. Akaha Taufan Aminudin
Ketua Umum SATUPENA Jawa Timur
Tak Sengguh Kemanten Anyar — sebuah tema yang lirih namun dalam, menghadirkan kesadaran tentang lahirnya pertemuan dua jiwa, dua alam, dua perjalanan yang berpadu menjadi satu makna.
Dalam setiap goresan dan instalasi karya Anang Prasetyo, kita membaca kembali bahasa kehidupan yang sering kali terucap tanpa kata — bahasa tentang kesetiaan, pengabdian, dan kelahiran nilai-nilai luhur yang menumbuhkan peradaban.
Seni, sebagaimana cinta, selalu mencari bentuk terbarunya.
Ia lahir dari proses yang jujur, dari permenungan dan laku, dari ruang batin yang meniti antara yang fana dan yang abadi.
Maka setiap karya sejatinya adalah doa — doa yang menjelma rupa, warna, dan cahaya.
Begitu pula pameran ini: doa panjang seorang perupa yang terus menumbuhkan makna tentang hidup, keluarga, dan rasa syukur kepada Sang Maha.
“Tak Sengguh Kemanten Anyar” mengingatkan kita bahwa setiap awal adalah perjumpaan dengan takdir.
Bahwa manusia dituntun bukan semata oleh logika, tetapi oleh cinta yang suci dan ketulusan yang menuntun ke jalan terang.
Dalam keluarga, sebagaimana dalam karya seni, diperlukan keberanian untuk terus memperbarui diri, memperhalus rasa, dan meneguhkan niat di bawah cahaya keilahian.
Anang Prasetyo tidak hanya memamerkan karya rupa, tetapi juga menghadirkan ruang perenungan bagi kita — tentang bagaimana manusia menjalani “pameran kehidupan” di hadapan Sang Maha Seniman.
Bahwa pada akhirnya, seni bukan hanya tentang estetika, tetapi tentang kesadaran akan makna dan cahaya kehidupan itu sendiri.
Selamat atas Pameran Tunggal ke-4 ini.
Semoga menjadi tanda tumbuhnya kesadaran seni dan spiritualitas yang berpadu indah dalam harmoni kebudayaan Nusantara.
—
🕊️
Kota Batu, 14 November 2025
Hormat dan Takzim,
Drs. Akaha Taufan Aminudin
Ketua Umum SATUPENA Jawa Timur
