
Surabaya-menaramadinah.com-Semangat baru untuk meningkatkan kualitas pendidikan jasmani di Tanah Papua kembali digaungkan melalui kegiatan bertema “Mengubah Pesimis untuk Optimis di Tanah Papua: Tantangan Fasilitas Pendidikan dan Kreativitas Digital Guru Penjas di Era Gen Z” yang diselenggarakan pada Rabu, 19 November 2025. Kegiatan ini dihelat di Aula FKIP Universitas Cenderawasih dan menjadi ruang dialog penting antara mahasiswa, akademisi, dan praktisi pendidikan.
Acara resmi dibuka oleh Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP UNCEN, Dra. Siane Maria Tampi, M.Kes, yang menegaskan bahwa tantangan fasilitas pendidikan di Papua tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Ia mendorong para mahasiswa dan guru penjas di masa depan untuk terus berinovasi, terutama melalui pengembangan media digital sebagai jembatan kreativitas pembelajaran.
Kegiatan ini diketuai oleh Andi M. Akhyar, mahasiswa yang sekaligus menjadi motor penggerak terselenggaranya acara, dan dipandu oleh Nikon Pahabol, mahasiswa FKIP yang memoderatori jalannya diskusi dengan baik. Sementara itu, kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah yang diampu oleh Zainal Widyanto, S.Pd., M.Pd., dosen yang selama ini banyak mengenalkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi kepada mahasiswa.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua Program Studi Penjaskesrek, Dr. Heppy Hein Wainggai, S.Pd., M.Pd., bersama para dosen di lingkungan Program Studi Penjaskesrek Universitas Cenderawasih. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan penuh terhadap penguatan kompetensi calon guru PJOK di Papua.
Dua narasumber dihadirkan untuk memperkaya wawasan peserta. Narasumber pertama, Sudiman, S.Pd., M.Pd. dari Dinas Pendidikan Kota Jayapura, memaparkan realitas tantangan fasilitas pendidikan di Papua. Ia menekankan pentingnya guru untuk tetap kreatif meskipun berada pada kondisi sarana yang terbatas. Menurutnya, kreativitas guru adalah kunci untuk memastikan pembelajaran tetap hidup dan bermakna bagi anak-anak Papua.
Narasumber kedua, Dr. Rif’iy Qomarrullah, S.Pd., M.Or., mengajak para peserta melihat tantangan dari sudut pandang lebih luas: era Gen Z menuntut pendekatan digital yang inovatif. Guru Penjas harus mampu memanfaatkan teknologi untuk membantu siswa memahami konsep gerak, strategi permainan, hingga nilai-nilai karakter dalam pembelajaran jasmani. Ia juga menekankan bahwa kreativitas digital bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga cara berpikir yang adaptif, kritis, dan solutif.
Acara berlangsung hangat dan penuh antusiasme, ditandai dengan berbagai pertanyaan menarik dari peserta terkait peluang, kendala, dan strategi mengembangkan pembelajaran Penjas di Papua. Mahasiswa terlihat bersemangat untuk membangun optimisme baru, terutama dalam mempersiapkan diri menjadi guru Penjas yang relevan dengan tuntutan zaman.
Melalui kegiatan ini, FKIP Universitas Cenderawasih menegaskan komitmennya untuk terus mencetak pendidik yang kompeten, kreatif, dan responsif terhadap perkembangan teknologi serta dinamika pendidikan modern. Semangat optimisme ini diharapkan menjadi awal langkah besar bagi transformasi pembelajaran pendidikan jasmani di Tanah Papua.
(SN)
