
JAKARTA– Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan arah baru dakwah Indonesia di panggung global. Melalui program Daurah Internasional Dai dan Daiyah Angkatan III di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Kemenag mendorong para peserta membawa misi dakwah yang berorientasi pada ekoteologi dan kurikulum berbasis cinta. Program ini menjadi simbol penguatan diplomasi keagamaan Indonesia yang menampilkan wajah Islam ramah, ekologis, dan berkeadaban.
Plt. Direktur Penerangan Agama Islam Prof Ahmad Zayadi menjelaskan, Daurah Internasional merupakan hasil kerja sama antara Ditjen Bimas Islam Kemenag dan Otoritas Umum Urusan Islam, Wakaf, dan Zakat Uni Emirat Arab. Kegiatan ini akan berlangsung pada 8–22 November 2025 di Abu Dhabi dan diikuti 20 peserta dari berbagai unsur: tokoh agama, penyuluh, penghulu, akademisi, dan aktivis ormas.
“Ini bagian dari misi besar Kemenag memperkuat kapasitas dai Indonesia yang siap tampil di level internasional dengan wawasan yang lebih inklusif dan solutif,” ujarnya di Jakarta, Senin (10/11/2025).
Menurut Prof.Zayadi, penguatan tema ekoteologi dan kurikulum cinta dalam misi dakwah menjadi pesan utama yang diamanatkan Menteri Agama. Ekoteologi mengajarkan kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai keagamaan, sementara kurikulum cinta mendorong penyebaran Islam yang menebar kasih sayang, menghargai keberagaman, dan menolak kekerasan.
“Dua konsep ini penting untuk diarusutamakan dalam dakwah kontemporer, termasuk di kancah global. Islam bukan hanya bicara hubungan dengan Tuhan, tetapi juga tanggung jawab sosial dan ekologis,” jelasnya.
Ia menambahkan, Daurah Internasional di UEA menjadi momentum strategis memperkenalkan praktik moderasi beragama khas Indonesia yang diakui dunia. “Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar yang sukses memadukan nilai-nilai Islam dengan demokrasi dan kemajemukan. Ini menjadi keunikan yang menarik perhatian banyak negara,” ujar Zayadi.
Lebih jauh, ia berharap para peserta Daurah dapat menjadi diplomat moral yang membawa narasi Islam Indonesia yang damai dan terbuka. “Kita ingin para dai ini tidak hanya belajar di Abu Dhabi, tetapi juga memperkenalkan pengalaman Indonesia dalam mengelola keragaman, membangun harmoni, dan menanamkan nilai-nilai keberlanjutan lingkungan,” katanya.
Zayadi menegaskan, pendekatan dakwah Kemenag kini diarahkan pada penguatan humanisasi, spiritualisasi, dan ekologi. “Kita tidak lagi berbicara dakwah yang hanya berorientasi seremonial, tapi dakwah yang menghidupkan cinta, merawat bumi, dan memperkuat kemanusiaan,” tuturnya.
Daurah ini, lanjutnya, menjadi bukti bahwa Indonesia bukan sekadar peserta dalam percakapan global tentang Islam, tapi juga penggerak. “Kita membawa Islam yang menyejukkan, membumi, dan berperan aktif dalam membangun peradaban dunia,” pungkasnya.
Sementara itu, Kasubdit Kemitraan Umat Islam H Ali Sibromalisi menambahkan, pengiriman 20 dai ke Uni Emirat Arab merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam membangun jejaring dakwah internasional. Menurutnya, kegiatan ini telah memasuki tahun ketiga dan menjadi bukti kuatnya kepercayaan dunia terhadap model dakwah Indonesia. “Kerja sama ini adalah tindak lanjut dari hubungan baik antara Kemenag dan Otoritas Umum Urusan Islam UEA yang telah berjalan produktif,” jelasnya.
Ali menjelaskan, peserta Daurah akan mendapatkan pelatihan intensif tentang pendekatan dakwah modern, manajemen pesan keagamaan lintas budaya, serta isu-isu aktual global seperti perubahan iklim, perdamaian, dan etika digital. “Mereka tidak hanya belajar, tapi juga berdialog. Ini menjadi ruang tukar pengetahuan antara ulama Indonesia dan UEA,” ujarnya.
Menurutnya, Kemenag menekankan agar para peserta mampu membawa nilai moderasi beragama dalam setiap interaksi selama program berlangsung. “Para da’i diharapkan dapat memperlihatkan bagaimana Islam Indonesia hadir dengan karakter tawasuth, tasamuh, dan tawazun, yang sejalan dengan semangat Islam rahmatan lil ‘alamin,” katanya.
Ali juga menyebutkan bahwa seluruh pembiayaan kegiatan, termasuk transportasi dan akomodasi, ditanggung oleh pihak Otoritas Umum Urusan Islam, Wakaf, dan Zakat UEA. “Ini bentuk apresiasi dan penghormatan terhadap peran Kemenag RI dalam membangun kerja sama keagamaan yang produktif dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, misi utama yang diusung sederhana namun strategis, yaitu menghadirkan Islam Indonesia yang mencintai manusia dan alam. “Karena pada akhirnya, cinta dan kepedulian ekologis adalah fondasi peradaban yang berkeadaban,” pungkasnya.*Imam Kusnin Ahmad*
