
By : Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Kita tahu bahwa peradaban moderen adalah peradaban ilmu-teknologi atau peradaban ilmiyah atau peradaban saintifik. Sedangkan karakter saintifik kita ini adalah profesional yakni dominan berbasis logika. Maka jelas roh atau jiwa peradaban kita sekarang ini adalah dominan logika. Artikel ini mengusulkan bahwa peradaban ke depan misalkan kita sebut peradaban postmoderen, adalah peradaban yang tidak hanya dijiwai oleh akal tetapi juga oleh hati.
Ada hadits yang melatar belakangi pemikiriran tersebut, yakni:
“أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ”
“Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menekankan pentingnya hati dalam menentukan kualitas iman dan amal seseorang. Jika hati seseorang baik, maka akan baik pula amal perbuatannya. Sebaliknya, jika hati seseorang rusak, maka akan rusak pula amal perbuatannya (Meta AI, 2025).
Ide yang diusulkan untuk peradaban postmoderen adalah kita hubungkan dengan nurani setiap orang untuk hidup damai sejahtera. InsyaAllah dengan basis pemikiran ini semua penghuni muka bumi ini setuju dan senang. Dengan demikian peradaban postmoderen berobsesi atau bertujuan tercapainya perdamaian global.
Secara langsung saja bahwa saintifik postmoderen kita buat berjiwa dominan hati disamping juga ada akal atau logika profesional. Ini adalah ide besarnya.
Di dalam saintifik moderen ini ada domain/alam riil (logika) juga ada alam imajiner. Tetapi domain imajiner tidak pernah tersentuh kecuali hanya hubungannya saja antara kedua domain atau alam tersebut, yakni imajiner kwadrat sama dengan minus satu (setahu penulis). Nah di alam saintifik postmoderen kita usulkan alam imajiner kita isi ilmu keimanan, sehangga jelas bisa menggunakan dalil naqliyah untuk domain imajiner dan dalil ‘aqliyah untuk domain riil. InsyaAllah kebebasan akal akan terbatasi oleh iman. Tidak seperti sekarang akal sangat bebas nilai bisa diajak maksiat.
Semoga manfaat barokah selamat aamiin.
🤲🤲🤲
Surabaya,
04 Jumadil Ula 1447
atau
26 Oktober 2025
m.mustain
