
Surabaya-menaramadinah.com-DPW MATRA Jatim besok Minggu. 5 Oktober 2025 pukul 08.00 wib di Bicopi Jl. Ir. Soekarno No. 878 Surabaya menggelar acara Sarasehan BUDAYA. Penghargaan Kepada Juru Pelihara Makam, Situs dan Pameran Wirausaha: Dari Peninggalan Menuju Kemandirian.
NaraSumber : CEO Brilliant KAMPUNG INGGRIS Pare Kadapub ediri KPP. Srie Soeputro Jowo Uja Ciptonagoro
Adapun Konsep dan Uraian Detail
Secara umum, sarasehan ini akan membahas bagaimana peninggalan budaya—seperti situs purbakala, tradisi, seni, hingga cerita rakyat—dapat diolah menjadi sumber daya ekono.mi yang menghasilkan kemandirian ekonomi bagi masyarakat. Konsep ini melampaui sekadar menjaga warisan, tetapi juga memanfaatkannya sebagai modal kreatif dan komersial.
Poin-poin utama yang bisa dibahas:
*Nilai Budaya Sebagai Modal*: Bahwa sebuah peninggalan tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga nilai ekonomi. Misalnya, situs makam kuno atau candi dapat menjadi destinasi wisata, yang menciptakan lapangan pekerjaan bagi pemandu lokal, pedagang suvenir, atau pengelola penginapan.
*Inovasi dan Kreativitas*: Menekankan pentingnya inovasi dalam mengadaptasi budaya.
Budaya tidak harus dijual dalam bentuk aslinya. Misalnya, batik yang merupakan seni tradisional dapat diubah menjadi produk fesyen modern, atau kerajinan tangan dari suku tertentu dapat dibuat menjadi dekorasi interior kontemporer.
*Penguatan Komunitas*: Wirausaha berbasis budaya akan berhasil jika melibatkan dan memberdayakan komunitas lokal. Misalnya, komunitas suku Tengger bisa mengembangkan paket wisata budaya yang dikelola oleh mereka sendiri, sehingga keuntungan kembali ke masyarakat. Ini menciptakan ekonomi sirkular di tingkat lokal.
*Contoh Konkret di Era Sekarang*
* Pengembangan Ekosistem Pariwisata Berbasis Budaya:
* Contoh: Sekitar Candi Borobudur, Yogyakarta, masyarakat tidak hanya menjual miniatur candi, tetapi juga mengembangkan desa wisata dengan homestay yang menawarkan pengalaman menginap ala Jawa, lokakarya membatik, dan pertunjukan seni tradisional. Ini menciptakan mata pencarian yang beragam dan berkelanjutan.
* Uraian: Model ini menunjukkan bagaimana peninggalan utama (Candi Borobudur) menjadi magnet yang menarik wisatawan, dan di sekitarnya tumbuh ekosistem ekonomi yang memanfaatkan budaya lokal lainnya.
*Produk Fesyen dan Kriya Berbasis Etnik:*
* Contoh: Brand fesyen lokal yang menggunakan motif kain ikat Sumba atau tenun Toraja. Mereka tidak hanya menjual baju, tetapi juga menceritakan filosofi di balik motif tersebut, meningkatkan nilai jual produk.
* Uraian: Pengrajin kain tradisional bisa bekerja sama dengan desainer modern, menggabungkan teknik kuno dengan tren masa kini. Hasilnya adalah produk yang memiliki cerita dan keunikan, yang sangat diminati oleh pasar global.
*Wisata Kuliner dan Makanan Khas:*
* Contoh: Restoran atau UMKM yang secara spesifik menjual makanan khas daerah yang resepnya diwariskan turun-temurun.
Misalnya, makanan khas Suku Tengger yang disajikan dengan konsep modern di sebuah kafe.
* Uraian: Kuliner adalah bagian tak terpisahkan dari budaya. Mengemasnya secara profesional dapat menarik minat wisatawan yang mencari pengalaman otentik, sekaligus menjaga resep dan tradisi dari generasi ke generasi.
*Konten Digital dan Media Baru:*
* Contoh: Seorang pemuda yang membuat kanal YouTube atau TikTok yang khusus mendokumentasikan situs-situs bersejarah, cerita rakyat, atau ritual adat yang hampir punah. Ia bisa mendapatkan penghasilan dari iklan atau donasi, sekaligus melestarikan budaya di platform digital.
* Uraian: Ini adalah contoh wirausaha yang memanfaatkan teknologi untuk melestarikan dan mengkomersialkan budaya tanpa harus mengubah wujud fisiknya. Ini menunjukkan bahwa peninggalan dapat memiliki nilai ekonomi dalam berbagai bentuk.
Sarasehan ini akan mendorong pemikiran bahwa melestarikan budaya bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan juga sebuah peluang untuk berkreasi dan menciptakan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.
Husnu Mufid
Humas DPW MATRA Jatim
