
By : Dr.Ir. HADI PRAJOKO SH, MH
Harapan tinggal harapan, sekolah setinggi langit hanya diperintahkan oleh pasukan tentara, akal dan ilmunya sia sia, perguruan tinggi tempat para Brahmana dimana ilmu mengatur pemerintahan dan tempat para filsuf ilmu pengetahuan serta teknologi, akhirnya hanya sebagai hiasan dibawah sepatu Laras dan moncong senjata, mereka menyatakan sebagai Taruna taruna akademi yg sombong dan angkuh tetapi korup.
Pendidikan yg mengatur kekuasaan dan pemegang pemerintahan dibawah kadet kadet akademi militer, ada yg semi militer lulus menguasai pemerintah sampai tingkat desa dan kelurahan sampai kepala dinas, tetapi di puncaknya di perintah taruna akademi militer, tetapi apabila ada ke- gagalan pemerintahan itu kesalahan rakyat, kesalahan kaum muda yg di perguruan tinggi, para politikus berpesta pora membagi uang rakyat hasil memeras sumber daya alam, exploitasi laut sampai Bumi nya, mereka-partai politik – melalui wakil di parlemen membuat undang undang memberikan karpet merah kepada para taruna akademi militer atau akademi semi militer dan sekolah rakyat militer, tetapi membatasi dan membuang generasi muda yg cerdas produk perguruan tinggi, mereka meninggalkan para ilmuwan dan guru besar universitas Yg menjadi rumah para brahmana dan filsuf, dianggap sebagai sampah’ kekuasaan oleh penguasa tentara, rakyat harus ditata secara militer dan harus melihat film cabul para tokoh agama dan para jendral.
Generasi perguruan tinggi adalah generasi tumbal dari kebijakan pemerintah dan para politikus, mereka lulus hanya digunakan untuk bisa tampil di mimbar mimbar televisi, tetapi tidak pernah dilibatkan untuk mengurus politik dan negara, generasi yg hanya sebatas mimpi , seperti peran sandiwara pepesan, pelengkap penderita, peranan nya sekedar peran pengganti kambing hitam, partai politik mendapatkan anggaran untuk pendidikan politik rakyat tetapi dihabiskan oleh para ketua partai politik untuk kesejahteraan keluarganya yang membuat GENERASI MUDA semakin putus asa, tanpa harapan masa depan, berharap rakyat tidak lagi tuli tentang politik tetapi nyata nya partai politik membunuh rakyat serta dibutakan matanya dan sengsara, gelap gulita tentang pengetahuan politik, partai politik GAGAL mencerdaskan rakyat, pendidikan partai politik gagal berantakan mereka digiring di negara anta berantah, negara si Polin korup, ini Bangsa KONOHA, generasi muda dipersekusi habis’ habisan oleh kader kader Taruna dan partai politik.
Generasi muda berharap untuk bisa mendapatkan perahunya walaupun kecil perahu kecil yang digerakkan dayung, tetapi mereka dijebak oleh gelombang kapal bermesin yang meraung di tengah samudra luas. Mesin itu politik, itulah para perampok perompah kapal yg menggerakkan haluan bangsa, memberi tenaga untuk melawan arus, tapi sekaligus bisa membawa kehancuran bila salah kendali. Laut tetap sama: luas, penuh rahasia, kadang tenang, kadang mengguncang dengan badai yang menggulung kapal-kapal perkasa, illusi dan janji politik untuk kesejahteraan dan keadilan tetapi nyatanya mesin pembunuh.
Di dalam kapal itu, kita semua penumpang. Ada yang percaya pada nakhoda, ada yang ragu pada peta, ada pula yang hanya berdoa semoga mesin tidak mogok di tengah gelombang. Tetapi politik, sebagaimana mesin, tak pernah netral; ia tergantung pada tangan siapa yang memegang kemudi, pada niat siapa yang menyalakan dan mengendalikan kekuatannya.
Mesin yang bertenaga bisa menjadi penyelamat, tapi juga bisa menjelma bencana. Begitu pula politik: ia dapat membawa kita ke pantai harapan, atau justru menjerumuskan ke pusaran krisis. Maka yang menentukan bukan sekadar derasnya tenaga, melainkan kebijaksanaan membaca arah angin, memahami peta, dan keberanian menjaga keseimbangan.
Seperti mesin di tengah laut, politik bukan sekadar alat bergerak, melainkan cermin peradaban: apakah kita berlayar menuju masa depan, atau sekadar berputar-putar di tengah samudra yang tak bertepi.
Shang prajaka
