
*Akaha Taufan Aminudin*
Di gedung tinggi berlapis marmer,
kursi empuk menelan janji-janji,
sementara di jalanan—
perut rakyat keroncongan,
tulang buruh berderak
menahan harga yang terus naik.
Kalian berdiri atas sumpah
di bawah langit merah putih,
tapi mengapa langkahmu
menari di atas luka kami?
Wakil rakyat,
apakah telinga kalian tuli
pada jerit pasar,
pada derap mahasiswa
yang menuntut setetes keadilan?
Kami datang membawa puisi,
bukan sekadar kata,
tapi nyala api—
yang menyala dari dapur ibu,
dari keringat ayah,
dari doa anak-anak
yang ingin sekolah tanpa cemas biaya.
Dengarlah,
puisi ini bukan ancaman,
tapi jembatan nurani.
Jika masih ada iman
di balik jas dan dasi,
resapkanlah suara kami
sebelum gelombang amarah
menjadi badai tak terbendung.
Wakil rakyat,
ingatlah,
kalian bukan raja,
kalian hanyalah utusan.
Dan di hadapan rakyat—
puisi adalah pengadilan
yang tak bisa kalian bungkam.
Kamis Kliwon, 25 September 2025 Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR
#SatuPenaJawaTimur
#HP3NKreatifBatu
#KotaBatuLiterasiSastra
