
Pekalongan – menaramadinah.com
Sang Komadan Banser Penumpasan PKI di Karesidenan Pekalongan
KH.RM. Syarifuddin Bin KH. Zainal Abidin Bin KH. Tholhah Bin KH. Sa’iduddin Bin KH. Tholabuddin Bin KH. Saifuddin Bin KH. Asasuddin Bin KH. Zainal Abidin Bin KH. Sirojuddin Bin Maulana Wilayatullah ( Kasepuhan Cirebon ) Bin Maulana Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung Jati Cirebon ) Bin Raja Syarif Abdullah Umdatuddin Adzomat Khan Bin Imam ‘Ali Nurul ‘Alam Adzomat Khan – dengan istri Nyai Rara Santang Puteri Prabu Siliwangi ( Syarifah Mudaim setelah memeluk islam ) Bin Imam Jamaluddin Al Husaini Adzomat Khan Bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin Adzomat Khan Bin Amir ‘Adhomah Khon Bin Imam Abdul Malik Bin Sayyid ‘Alwi ‘Ammul Faqih Bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath Bin Sayyid Kholi’ Qosam Bin Sayyid ‘Alwi Bin Sayyid Muhammad Bin Sayyid ‘Alwi Bin Imam Ubaidillah Bin Imam Ahmad Al Muhajir Bin Imam Isa Annaqib Bin Imam Muhammad Annaqib Bin Imam ‘Ali Al ‘Aridh Bin Imam Ja’far Assodiq Bin Imam Muhammad Baqir Bin Imam Zainal Abidin Bin Sayyid Husain Assibthi Bin Sayyidah Fatimah Al Batul Binti Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW.
Sosok Ulama Sepuh Panutan Umat, Seorang Guru Mursyid Thoriqat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah (TQN) yang juga penerus trah TQN yang pertama kali diajarkan oleh sang kakek yaitu ( KH. Tolhah – Pangeran Kusumawijaya ) dan Pengasuh Ponpes Tarbiyatul Mubtadi’iin Raudhatussalikin Wonopringgo Pekalongan.
Bukan hanya Ulama, Beliau adalah pejuang Kemerdekaan.
Sejak remaja beliau telah ikut dalam perjuanagn melawan Belanda hingga bertemu dengan Imam Condro ( Pemimpin komandan Laskar Hizbullah Wonopringgo ) di Gunung Tugel Batang. Sehingga beliau diajak ke Wonopringgo hingga berguru kepada KH. Anwar Soleh Kwagean.
Beliau menetap di Rowokembu Wonopringgo usai diambil anak ( jadi anak angkat ) seorang janda bernama Mbah Ru.
Aktifitasnya dihabiskan di Rowokembu dan Kwagean sehingga belaiu menikah dengan Nyai Alfiyah.
KH.RM. Syarifuddin ( Mama Syarif ) memiliki rasa nasionalisme sangat tinggi dibuktikan dengan perjuangannya turut serta dalam berbagai pertempuran melawan Belanda sejak masih remaja hingga bahkan pasca Kemerdekaan beliau aktif di NU dan menjadi Komandan Banser Wilayah Karesidenan Pekalongan ( Batang-Brebes ).
Sebelum menetap dan mendirikan pondok pesantren di Desa Rowokembu Wonopringgo beliau adalah komando batalyon Banser Karesidenan Pekalongan, beliau diberi kepercayaan memimpin langsung saat pernumpasan antek-antek PKI tahun 1965-1966.
Petualangannya saat penumpasan antek-antek PKI dari desa ke desa dimanfaatkan beliau sambil berdakwah, mengajar agama dari musholla ke musholla. Usai menjalankan misi penumpasan para anggota PKI beliau kembai ke Wonopringgo, dan para jamaah dari berbagai desa, kampung, kecamatan yang dulu mendapat ilmu saat Mama Syarif berkeliling dalam upaya pemberantasan antek-antek PKI sowan ke ndalem beliau dan meminta agar bersedia menerima anak anak mereka untuk belajar ngaji, ini yang menjadi cikal bakal berdirinya pondok pesantren Tarbiyatul Mubtadi’in.
Selain mengajar anak-anak di pondok pesantren, beliau juga mengajar para jamah dari orang-orang tua, dan menjadi Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah Wa Naqsyabandiyah setalah mendapat ijin ( ijazah ) dari Sang Ayah KH.RM.Zainal Abidin Gunung Jati Cirebon.
Kiprahnya di NU semakin terlihat saat menjadi delegasi untuk Kabupaten Pekalongan diberbagai ajang Muktamar NU. Bahkan hampir semua anggota Banser di Karesidenan Pekalongan hingga Banjarnegara yang pernah mendapat langsung ilmu ilmu hikmah dari Beliau.
Pasca reformasi beliau juga masih aktif hadir di acara acara besar NU di Kabupaten Pekalongan, selain menjabat sebagai Rois Syuriyah PCNU Kabupaten Pekalongan. Dan terakhir pada Tahun 1999 belaiu pun membawa para santri ikut menghadiri acara Muktamar NU di Lirboyo Kediri Jawa Timur.
Semoga Allah menerima segala amal perjuangan dan ibadah beliau. Serta berikan kekuatan kepada kita para penerus untuk mengikuti jejak Perjuangan Sang Kyai.
Catatan:
Wafat : Ahad Legi, 26 Shofar 1438 H
27 November 2016, Makam beliau ada di belakang Dalem Ponpes Putri Raudlatussalikin (Mudinan Rowokembu Wonopringgo). hsn
