
Dr.Ir. HADI PRAJOKO SH, MH
Ada yang mengatakan bahwa Kejawen itu feodalisme, yg di jadikan doktrin sisa sisa raja Sultani Turkey – sultan Agung, raja Baru dari Nederland indie ( surat kekancing dari ratu Wilhelmina) saya tidak bisa menyalahkannya, memang betul! Dan fakta ditambah narasi agomo ageming aji tetapi tidak memberikan martabat kepada rakyat disuruh menjadi abdi dalem ( budak budak para raja sultan Turkey) Harus dibedakan antara Kejawen dan Kawruh Jawa.
Kejawen adalah memuja Bangsa Arab yang berbungkus budaya Jawa ( kadrun blangkonan) yang diterapkan untuk menggiring rakyat takluk dalam pemerintahan Sultani dan para raja-raja kecil yang saling berperang dimasa itu.
Oleh karena itu, disinilah letak Kawruh Luhur Nusantara mengalami degradasi, proses pemusnahan oleh slogan agama dan iming iming surga serta ancaman neraka, Tapi tentu itulah dampak yang diharapkan sehingga kemudian digiring perlahan-lahan untuk memeluk paham yang lebih “modern” melalui agama-agama impor.
Ini adalah bermain dengan kedua belah tangan : tangan kiri memeras, tangan kanan mewadahi.
Salah satu bentuk feodalisme itu adalah sikap “Ngawulo”. Mbabu
Apa yang seharusnya menghamba kepada Tuhan dialih geserkan menjadi menghamba kepada petinggi, pejabat, bangsawan,mengabdi bukan pada Tuhan tetapi mengapdi pada pemuka2 agama, Dengan topeng kawruh luhur yg mereka modifikasi, rakyat merasa mendapatkan pamomong. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Kejayaan korporasi Belanda dahulu telah berubah menjadi korporasi partai dan pemimpin agama mengeruk kekayaan Indonesia tidaklah mungkin terlaksana apabila tidak ada pemberian konsesi-konsesi tanah dari para Sultan itu, telah berubah dikungkungi oleh ketua partai dan pemimpin agama…. Dan lagi pula yang menjadi carik dan mandornya juga adalah kaum blangkon ngarab ngaranan kita sendiri yang tanpa kasihan menyunat bayaran upah kerjanya yang sudah kecil itu. Jadi bila pada masa modern ini terjadi penyunatan2 gaji, itu bukanlah hal yang baru. Bila anda protes, maka anda dianggap tidak ngawulo. BIla anda bangun berdiri dan menyuarakan ketidak-adilan maka anda didakwa tidak ngawulo. Sementara tanpa henti mulut mereka terus meneriakkan slogan “keadilan” dengan jari menudingkan pada pihak kompeni Belanda VOC sebagai biang KELADINYA SERTA penyebabnya.
Imperalisme MONARKHI HEDONISTIK ,itu sudah disusup sisipkan secara tersamar didalam doktrin-doktrin Kejawen. Yang tidak saja selalu menganjurkan untuk bersikap nrimo, pasrah, berserah diri , sumeleh sebagai sebuah kebajikan, sementara satu persatu ladang dan kedaulatan rakyat Jawa dipreteli satu persatu. Kalau anda berteriak saja, maka dianggap bukan orang “Jawa” karena tidak nrimo-pasrah-sumeleh. Ini tentu merupakan akal-akalan yang keji. Sikap dasar orang Jawa yang sejati sebenarnya telah musnah, Jawa Yg sebenarnya adalah seperti Werkudoro : tegas, tanpa kompromi, blak-blakan, hitam ya hitam putih ya putih. Tapi semenjak jaman Imperalisme Sultani maka orang Jawa tidak berani bersuara, sehingga lalu muncul gejala “mbendhol mburi”… persis blangkonan menggerutu di belakang….atau “injih-injih mboten kepanggih” …”iya-iya” tapi mendongkel menusuk dari belakang. Sebuah mekanisme pertahanan diri dalam situasi yang ganas menekan secara terselubung : sebuah perang di bawah arus permukaan antara kaum jawa ndheles dan kaum njawan irib-iriban. Tapi disi lain, kaum njawan irib-iriban juga ditandingkan dengan kaum putihan. Makanya semenjak kecil sampai mati tabrakan, kalau minta hadiah dari ayahnya selalu mintanya cuman bola ping pong…haha. Mungkin dengan harapan ayahnya mikir sendiri bahwa selama ini cuman mempingpong hidupnya. Maka tidak penah maju sementara bangsa lain sudah meroket. Penempaan sikap khianat bawah sadar yang berbungkus kesucian ini adalah sebuah perusakan moral dan jiwa anak bangsa yang sangat keji!
Jangan heran bila kondisi pada era tahun 2000-an ini masih tetap sama : negeri dihisap oleh korporasi asing dengan izin kerja dan konsesi yang diberikan oleh para mandor (komprador) lokal kita sendiri yang selalu membungkusnya dengan jargon-jargon agama. “Berjuanglah untuk agama” untuk masuk surga….tiada lain artinya adalah “Berjuanglah untuk KEKUASAAN KAMI para salesman pemimpin agama (penguasa pemerintahan dan agama) mengatas namakan rakyat dan negeri ini”.
Semenjak ‘kebijaksanaan’ Otonomi Daerah diberlakukan, raja raja baru semakin gila lihatlah bagaimana korupsi segera meledak di berbagai penjuru Nusantara. Bagaimana para Kepala Daerah bak raja-raja kecil , para pemimpin agama dan Gus Gus pemenang pertempuran yg Baru berperang dg KOMPENI baalawi Yaman, yang hendak mengungkungi daerah perdikan-nya, mensodomi seluruh sumber alam Nya, Berapa banyak pungutan yang sudah diambil dar kalangan rakyat dan pengusaha? Mengapa sepertinya pembangunan jalan di tempat? Kemanakah dana raksasa itu? Yg diambil dari hutang menggadaikan tanah tanah adat????
Untuk jangka panjangnya, tentu hal ini sesuatu yang membahayakan keutuhan NKRI. Karena NKRI “dijajah” kembali oleh korporasi (hehe…dijajah kok dijajah perusahaan, perseroan terbatas?) tiada lain adalah karena raja-raja kecil yang selalu bersaing (berperang), raja yg berganti jubah mereka telah menjelma menjadi ketua partai, ketua organisasi agama, rohaniawan pemimpin agama, dan muncul raja kampung yg disebut Gus Gus bercula syahwat, para pemimpin pondok pesantren, bupati dan gubernur dll, mereka berebut kekuasaan dan menindas rakyat,tanpa mau peduli penderitaan rakyat dan bersatu memperkosa rakyat tanpa batas kewajaran.
Marilah persatuan bangsa yang susah payah telah digalang oleh Bapak Proklamasi Kemerdekaan kita Ir.Soekarno & kawan kawan, kita jaga melalui penyadaran hal yang sangat mendasar dan penting ini. Tanpa itu, kita akan kembali ke jaman Feodalisme.
*Feodalisme modern yg berlandaskan fasisme*
Saya memperjuangkan kemerdekaan rakyat dalam artian seutuhnya, tidak hanya sisi lahir yg kasat mata, tapi juga sisi jiwa / batinnya. Oleh karena itu budaya dan tradisi lokal yg merupakan kristalisasi jiwa asli haruslah digali kembali dan dilestarikan. Ehhhh…..yang menuduh saya feodal dan bersifat kedaerahan ya juga mulut-mulut mereka itu juga. Luarbiasa lidah tak bertulang apalagi bercabang dua. Pantas saja rakyat terbelah satu pro kiri satu pro kanan. Rupanya dipermainkan oleh satu kepala denngan dua tangan. Inilah arti pentingnya memahami Jalan Tengah sebagai sarana untuk menuju Kemerdekaan Sejati.
…..Hong Mandera ulum Basuki langgeng
Dr. Ir. Hadi Prajoko,SH, MH
Rahayu!
