Nalar Religius

Oleh : Achmad Isa Anshori dkk

Judul di atas kami ambil dari buku :
“Nalar religius, Memahami Hakikat Tuhan, Alam dan Manusia”
Karya: Mulyadhi Kartanegara
Penerbit: Erlangga
Tahun: 2007
Jumlah Halaman: 161 Halaman

Ini adalah tugas resensi buku mata kuliah public speaking yang dibimbing langsung oleh : Ust. Yahya Aziz Dosen PAI FTK UINSA.

Para penulis kelompok 5, mereka adalah :
1. Rafif Danu Pramatya (06020123068)
2. Achmad Isa Al Firdausi (06040123085)
3. Nur Azizah Tohhar (06020123065)
4. Alfa Nida Rahmadani (06020123031)
5. Ahmad Hasin Mubarok (06020123028)

Trilogi Metafisik (Bab 1)
Pembahasan pertama pada buku ini menyatakan bahwa Tuhan, Manusia dan alam merupakan trilogy metafisik yang memiliki keterkaitan. Bagi penulis, Tuhan adalah prinsip dari segala yang ada dan dia wajib adanya, sementara makhluk atau alam adalah hal yang bersifat mungkin adanya (mumkin al-maujud). Meskipun begitu alam semesta tidak dicipta melalui keniscayaan, seperti yang disangkakan naum neptonis, tetapi melalui kehendak bebas tuhan yang mutlak, dan alam dicipta dengan sengaja dan terencana, bukan secara kebetulan dan keniscayaan. Alam pun diatur oleh Sunnah Allah yang termaktub dalam al-Qur’an, menurut penulis Sunnah Allah berbeda dengan hukum alam, hukum alam tidak mengizinkan kreativitas apa pun, sedangkan Sunnah Allah memberikannya, Sunnah Allah diartikan sebagai kebiasaan atau cara Allah dalam menyelenggrakan alam. Manusia dalam konteks Trilogi Metafisik ialah hasil akhir dari proses evolusi penciptaan alam semesta. Manusia adalah makhluk dua-dimensi. Di satu pihak ia terbuat dari tanah (thin) yang yang menjadikannya makhluk fisik, di pihak lain, ia juga makhluk spiritual karena ditiupkan ke dalamnya roh Tuhan, dengan demikian manusia menduduki posisi yang unik antara alam semesta dan Tuhan, yang memungkinkannya berkomunikasi dengan keduanya.

Menangkap Tuhan Lewat Akal (Bab 2)
Penulis menyinggung tentang kepercayaan, bahwa meskipun pada hakikatnya kepercayaan itu bersifat emosional , namun cukup penting untuk menyokong apa yang kita percayai rasional. Dengan alasan dasar ini cara “menangkap” atau memahami tuhan lewat akal dikelompokkan menjadi tiga tahapan secara berturut-turut yakni 1. Dalil al hudus, yang dikemukakan oleh al-Kindi, 2.dalil al-Imkan yang dipelopori oleh Ibnu Sina, 3. Dalil al-Inayah yang menjadi hasil pemikiran Ibn Rusyd. Dalil pertama mengatakan tentang “Argumen Kebaruan” bahwa alam bersifat terbatas dan selalu dicipta oleh tuhan secara terus menerus, disini al-Kindi berargumen dengan menegaskan akan menolak seluruh konsep tentang keabadian alam semesta, ia memperkuat pernyataan nya dengan mengatakan bahwa alam semesta merupakan merupakaan hal yang dicipta, maka tentu ada penciptanya.

Dalil kedua, mengatakan bahwa tuhan yang esensi dan eksistensinya sama, adalh satu-satunya wujud yang niscaya oleh dan dalam diri-nya segala sesuatu selain tuhan secara inheren dipengaruhi oleh kemungkinan, ibnu Sina dengan lebih mudah membuktikan keberadaan tuhan, yang baginya puncak dari spekulasi metafisika. Dengan singkat Ibn Sina menyatakan, “tidak diragukan lagi bahwa wujud itu ada, dan bahwa setiap wujud yang ada bersifat niscaya atau mungkin. Jika niscaya itulah yang kita cari, jika ia mungkin, maka kewajiban kita adalah menunjukkan bahwa ia berasal dari wujud yang harus bersifat niscaya.

Dalil ketiga dengan pendekatan teologis , menjelaskan bahwa argument yang paling meyakinkan keberadaan tuhanbukanlah argument kosmologis atau teologis akan tetapi argument dari penciptaan dan perancangan yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an sehingga pada hakikatnya metode menangkap atau memahami tuhan hanya bisa diberlakukan melalui metode-metode yang dianjurkan dalam al-Qur’an. Pencarian rasional ilahi hanya dapat dilakukan dengan mempelajari ayat-ayat qur’an terutama pada ayat-ayat yang mengajak manusia untuk berfikir.

Alam sebagai Cermin Tuhan (Bab 3)
Bab ini membahas konsep alam semesta sebagai cermin yang merefleksikan sifat-sifat Tuhan. Mulyadhi Kartanegara berpendapat bahwa alam bukan sekadar objek fisik yang mati, tetapi sebuah entitas yang penuh makna dan memiliki tujuan. Dengan mengamati dan memahami alam, manusia dapat mengenal pencipta-Nya.

Ia menjelaskan bahwa setiap elemen di alam, mulai dari atom terkecil hingga galaksi terbesar, mencerminkan salah satu atau beberapa nama dan sifat Tuhan, seperti Al-Qadir (Yang Maha Kuasa), Al-Alim (Yang Maha Mengetahui), dan Al-Hayy (Yang Maha Hidup). Oleh karena itu, mempelajari ilmu pengetahuan alam (sains) pada hakikatnya adalah cara untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Etika dan Ilmu Pengetahuan (Bab 4)
Pada bab ini, Mulyadhi Kartanegara mengeksplorasi hubungan erat antara etika dan ilmu pengetahuan. Ia mengkritik pandangan modern yang memisahkan sains dari nilai-nilai moral. Menurutnya, ilmu pengetahuan tanpa etika dapat menjadi bahaya, karena bisa digunakan untuk tujuan yang merusak, seperti pembuatan senjata pemusnah massal atau eksploitasi alam tanpa batas.

Kartanegara menekankan bahwa ilmu pengetahuan harus dilandasi oleh etika religius. Dengan demikian, tujuan dari ilmu pengetahuan bukan hanya untuk mengakumulasi fakta atau menciptakan teknologi baru, tetapi juga untuk mencapai kebaikan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia dan alam. Ia berargumen bahwa Islam, dengan ajarannya yang holistik, menyediakan kerangka etika yang kuat untuk membimbing pengembangan ilmu pengetahuan ke arah yang positif.
Metode Kajian Filsafat (Bab 5)

Kajian filsafat memerlukan metode yang tepat agar menghasilkan pemahaman yang mendalam dan bermakna. Dalam mempelajari filsafat, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, penggunaan metode hermeneutik sangat dibutuhkan agar teks filsafat dapat dipahami secara objektif dan kontekstual.

Banyak naskah filsafat terasa asing karena perbedaan bahasa, latar sosial, budaya, dan zaman penulisan, sehingga untuk memahami makna aslinya perlu dipelajari konteks sejarah dan pemikiran tokoh tersebut. Kedua, filsafat seharusnya tidak hanya dipandang sebagai hasil akhir pemikiran, tetapi juga sebagai proses berpikir yang kompleks. Memahami cara berpikir dan alur penalaran tokoh akan membantu kita menangkap makna dari konsep-konsep filsafat secara utuh. Ketiga, kurikulum filsafat Islam perlu diperluas agar tidak hanya berfokus pada tokoh-tokoh besar seperti al-Farabi, Ibn Sina, atau al-Ghazali, tetapi juga mencakup tokoh-tokoh minor yang turut memberi kontribusi penting terhadap perkembangan filsafat Islam.

Hal ini penting untuk memperkaya wawasan dan menunjukkan kesinambungan sejarah pemikiran. Keempat, kajian filsafat tidak seharusnya berhenti pada pendekatan deskriptif yang hanya menjelaskan isi pemikiran tokoh, tetapi juga harus menggunakan pendekatan kritis yang menilai kelebihan, kekurangan, relevansi, serta implikasinya terhadap kondisi zaman sekarang. Dengan demikian, kajian filsafat dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat. Upaya perbaikan metodologi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran filsafat Islam di Indonesia.

Fondasi Metafisik Epistimologi & Sosiologi Ibn Khaldun (Bab 6 & 7)
Tulisan ini menyoroti persoalan fundamental dalam epistemologi, yakni fondasi metafisik yang menopang bangunan pengetahuan. Penulis dengan tepat menunjukkan bahwa setiap sistem epistemologi, baik Barat maupun Islam, tidak dapat dilepaskan dari basis metafisik tertentu yang mendasarinya. Perbedaan mendasar antara keduanya tampak jelas dalam lingkup objek yang diakui: epistemologi Barat modern cenderung membatasi dirinya hanya pada entitas fisik yang dapat diobservasi, sementara epistemologi Islam memandang realitas secara lebih luas dengan memasukkan juga dimensi metafisik yang tidak kasat mata namun diyakini memiliki status ontologis yang sama, bahkan lebih tinggi. Hal ini kemudian melahirkan klasifikasi ilmu yang khas dalam tradisi Islam, sebagaimana terlihat dalam karya al-Kindi, al-Farabi, dan Ibn Sina, di mana ilmu-ilmu teoritis dibagi ke dalam metafisika, matematika, dan ilmu-ilmu alam. Penulis juga menyinggung aspek metodologis, yakni bahwa epistemologi Islam tidak mengandalkan satu metode tunggal, melainkan menggunakan metodologi berlapis (multifold), yang meliputi metode demonstratif (burhānī) berbasis silogisme logis, metode empiris berbasis observasi dan eksperimen, serta metode intuitif (‘irfānī) yang berangkat dari pengalaman presensial dan iluminasi langsung.

Ketiganya bukan saja dipandang sah, melainkan saling melengkapi, sehingga ilmu dalam tradisi Islam tampil lebih kaya dan holistik. Keunggulan tulisan ini terletak pada keterampilan penulis dalam merangkai hubungan erat antara ontologi, klasifikasi ilmu, metodologi, dan problem reintegrasi ilmu, sekaligus mengaitkannya dengan krisis epistemologi modern yang ditandai oleh fragmentasi dan dikotomi ilmu agama-sekuler.

Namun demikian, tulisan ini masih bersifat deskriptif dan normatif, terutama dalam tawaran reintegrasi ilmu yang hanya berhenti pada level konseptual tanpa ditopang strategi praksis dalam konteks kontemporer, misalnya pada bidang pendidikan tinggi Islam atau riset interdisipliner. Selain itu, keterlibatan dengan wacana filsafat ilmu modern masih terbatas, padahal dialog kritis dengan tokoh seperti Kuhn, Popper, atau Feyerabend akan memperkuat daya tawar epistemologi Islam di hadapan sains global. Kendati demikian, secara keseluruhan karya ini layak diapresiasi sebagai upaya serius mengangkat kembali fondasi metafisik epistemologi Islam, sekaligus membuka ruang diskusi lebih lanjut mengenai relevansinya bagi rekonstruksi ilmu pengetahuan dewasa ini.
Filsafat Muthahhari (Bab 8)
Bab kedelapan buku Nalar Religius membahas pemikiran filsafat Murtadha Mutahhari. Diawali dengan biografinya, Mutahhari lahir di Faryan dekat Mashhad, kemudian menempuh pendidikan di berbagai tempat hingga mendalami ilmu filsafat pada usia 30 tahun. Ia aktif menulis, berdiskusi, dan menghasilkan karya penting, termasuk Introduction to Philosophy serta lima jilid Prinsip-Prinsip Filsafat dan Metode Realistik. Perjalanan intelektualnya berakhir tragis ketika ia terbunuh setelah kemenangan Revolusi Islam Iran tahun 1979.Bagi Mutahhari, filsafat memiliki peran strategis sebagai senjata intelektual untuk menghadapi tantangan pemikiran Barat. Dalam teologi, ia mengemukakan argumen rasional tentang keberadaan Tuhan melalui dalil imkan (kontingensi), dengan menegaskan bahwa alam tidak bersifat wajib wujud, melainkan bergantung pada wujud lain, yaitu Tuhan. Mutahhari menekankan konsep tauhid dalam tiga dimensi: tauhid esensi, tauhid sifat, dan tauhid af‘al. Tauhid esensi menolak adanya dualitas atau tandingan bagi Tuhan; tauhid sifat menegaskan kesempurnaan sifat-sifat Tuhan yang tidak terpisah dari zat-Nya; dan tauhid af‘al menunjukkan bahwa seluruh tindakan dan sistem alam semesta bersumber dari kehendak Tuhan.

Selain itu, Mutahhari menekankan kesatuan organik alam semesta. Menurutnya, alam bekerja layaknya tubuh manusia—setiap bagian saling terkait, dan kerusakan satu bagian dapat memengaruhi keseluruhan. Dalam pandangannya tentang manusia, Mutahhari menegaskan kedudukan istimewa manusia sebagai khalifah Allah di bumi, yang memiliki akal, kehendak bebas, serta tanggung jawab moral untuk mengelola alam. Ia menekankan bahwa manusia memiliki peran kausal atas tindakannya sendiri, sehingga pahala dan kebahagiaan akhirat sangat bergantung pada niat dan usaha yang lurus.

Bab 8 menegaskan kontribusi besar Mutahhari dalam filsafat Islam melalui pemikiran tentang Tuhan, alam, dan manusia, yang menekankan pentingnya rasionalitas, kesatuan kosmos, dan tanggung jawab moral manusia.

Masa Depan Filsafat Islam (Bab 9)
Bab kesembilan pada buku ini adalah masa depan filsafat islam, pembahasan ini menyoroti masa depan filsafat Islam dalam menghadapi dinamika kehidupan yang terus berubah. Perubahan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari dan memengaruhi seluruh aspek, termasuk lembaga sosial, keagamaan, dan pendidikan. Agar tetap relevan, lembaga pendidikan Islam perlu menyiapkan visi yang jelas dalam tiga ranah utama: metafisika, epistemologi, dan etika.

Dalam ranah metafisika, filsafat Islam dipandang sebagai upaya mengeksplorasi realitas non-empiris melalui argumen rasional. Lembaga pendidikan tinggi Islam dituntut memiliki visi metafisika yang inklusif, yang dapat menaungi beragam tradisi metafisika dalam Islam tanpa menyimpang dari prinsip pokok ajaran Islam.

Dalam ranah epistemologi, lembaga pendidikan Islam perlu merumuskan landasan pengetahuan yang sesuai dengan pandangan Islam, baik terkait ruang lingkup dan klasifikasi ilmu, maupun sumber dan metodologi ilmu. Hal ini mencakup pertanyaan mendasar: apa yang dapat diketahui, dan bagaimana cara mengetahuinya.

Dalam ranah etika, dibutuhkan visi moral yang mampu merespons tantangan masyarakat kontemporer. Etika diposisikan dalam kaitannya dengan pencarian kebahagiaan, hubungan antara rasionalitas dan ilmu, serta fungsi etika sebagai terapi rohani.

Selain itu, penting untuk mengembangkan pusat pemikiran Islam dan filsafatnya. Potensi besar ini harus diimplementasikan melalui penelitian, penerjemahan karya filosofis, pengenalan tokoh-tokoh filsafat Islam, serta pengembangan bidang kajian baru. Dengan dukungan sumber daya manusia yang mumpuni dan ketersediaan literatur, lembaga pendidikan tinggi Islam diharapkan mampu menjadi pusat pengembangan filsafat Islam yang dapat bersaing dengan lembaga pendidikan filsafat di Barat.

Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa masa depan filsafat Islam sangat bergantung pada kemampuan lembaga pendidikan Islam dalam mengintegrasikan visi metafisika, epistemologi, dan etika, sekaligus mengembangkan pusat pemikiran yang produktif dan relevan dengan kebutuhan zaman.