
Oleh : Fedy Amry Muh. Shobirin dkk.
Inilah tulisan resensi buku tugas mata kuliah public speaking yang dibimbing langsung oleh : Ust. Yahya Aziz Dosen PAI FTK UINSA.
Kelompok kami ada 5 orang :
1. Fedy Amry Muchamad Shobirin 06030123154
2. M. Multazami (06010123011)
3. Isa Tsalitsatul Mufidah (06010123007)
4. Abdul Khamid (06040123073)
5. Febriani Nur Sholekha (06020123040)
Buku yang kami resensi berjudul ;
” Allah saja suka yang indah”
Penulis: Syarif Hade Masyah
Penerbit: Erlangga
Tahun: 2009
Jumlah halaman: 60 halaman.
Isi buku ini sangat bagus dan menjadi referensi para dai untuk bekal dakwah di komunitas masyarakat perkotaan.
Aisyah menjelaskan bahwa ada sepuluh akhlak terpuji yang bisa dimiliki oleh manusia dari berbagai lapisan sosial, baik seorang ayah, anak, tuan, maupun budak. Namun, jarang sekali semua akhlak tersebut terkumpul secara bersamaan dalam diri satu orang. Hal ini menunjukkan bahwa akhlak adalah sesuatu yang berlapis, bertingkat, dan memerlukan perjuangan untuk menguasainya. Akhlak yang dimaksud mencakup perilaku yang menguatkan hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Inilah sebabnya umat terdahulu mendapat kemuliaan dari Allah ketika mereka menjaga akhlak dan amal shalih. Sebaliknya, umat yang lalai dalam menjaga akhlak mengalami kehinaan, bahkan mendapat siksa, bukan hanya karena kesalahan dalam akidah atau keyakinan, tetapi terutama karena kerusakan moral dan perilaku. Dari sini terlihat bahwa akhlak memiliki peran sangat penting dalam menentukan kualitas suatu umat.
Ayyub as-Sakhtiyani memberikan penekanan khusus bahwa tanda kemuliaan seseorang bukan terletak pada harta, pangkat, atau kedudukan sosial, tetapi pada dua hal utama: menjaga kehormatan diri dan mampu memaafkan kesalahan orang lain. Menjaga kehormatan diri berarti tidak merendahkan martabat pribadi dengan perbuatan tercela, tidak mengumbar aib, serta tetap berpegang pada nilai kesucian meski dalam keadaan sulit. Sedangkan memaafkan kesalahan orang lain menunjukkan kelapangan hati, kebeningan jiwa, dan kemampuan menahan amarah. Dua akhlak ini dianggap sebagai ciri ketinggian derajat seseorang di hadapan Allah maupun manusia.
Namun, diakui bahwa sangat sulit bagi seorang manusia untuk menguasai kesepuluh akhlak terpuji sekaligus. Karena itu, anjuran yang diberikan adalah agar setiap orang berusaha memiliki setidaknya satu akhlak mulia yang benar-benar bisa dijaga dan diamalkan. Dengan cara itu, meski sedikit, ia tetap berada di jalur orang-orang yang berakhlak mulia, dan usahanya akan menjadi wasilah untuk meraih kemuliaan di sisi Allah.
Hal ini ditegaskan pula melalui dialog antara Hammad dengan seorang lelaki. Dalam percakapan tersebut, Hammad menekankan bahwa semua amal kebaikan—baik shalat, puasa, jihad, maupun ibadah lainnya—adalah jalan menuju Allah. Tidak ada satupun amal yang dianggap sia-sia, semuanya memiliki nilai mulia. Karena itu, amal-amal tersebut harus terus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Namun, kunci dari keberlangsungan amal adalah adanya pengaturan waktu dan manajemen diri. Tanpa pengaturan yang baik, amal bisa terputus, tidak konsisten, atau bahkan berbenturan satu sama lain.
Dari penjelasan ini, tampak bahwa inti dari akhlak dan ibadah adalah keseimbangan. Akhlak mulia berfungsi menjaga hubungan horizontal dengan sesama, sedangkan ibadah menjaga hubungan vertikal dengan Allah. Keduanya tidak bisa dipisahkan, dan keduanya harus ditata dengan baik. Sejarah umat terdahulu menjadi pelajaran bahwa kemuliaan suatu kaum ditentukan bukan hanya oleh keteguhan iman, melainkan juga oleh kualitas akhlaknya. Umat yang menjaga akhlak akan diberi keberkahan, sementara yang meremehkannya akan jatuh dalam kehinaan.
Kesimpulannya, pesan Aisyah, Ayyub as-Sakhtiyani, dan Hammad saling melengkapi. Aisyah menekankan pentingnya akhlak sebagai warisan kemuliaan umat, Ayyub menekankan inti kemuliaan pribadi ada pada menjaga kehormatan diri dan memaafkan, sedangkan Hammad menekankan konsistensi amal dengan pengaturan waktu yang baik. Dari semuanya, kita bisa mengambil hikmah bahwa meski tidak mudah menguasai semua akhlak, setiap orang bisa berusaha memiliki sebagian darinya dan menjaga konsistensi ibadah agar menjadi bekal menuju ridha Allah.
