
Oleh: Dr. H. Romadlon, MH.
Pagi itu, di antara puing-puing yang masih mengepulkan debu, ratusan buruh Jawa Timur membungkuk, mengangkat kayu hangus, menyapu abu, dan memungut pecahan kaca serta menyemprotkan air untuk membersihkan kotoran-kotoran di halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Bangunan cagar budaya yang berusia lebih dari dua abad itu baru saja menjadi saksi peristiwa kelam: kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran. Namun, alih-alih tenggelam dalam muram, Grahadi justru melahirkan kisah baru—tentang gotong royong, kepedulian, dan panggilan sejarah yang lebih besar. Di sinilah, gema masa lalu, tantangan hari ini, dan visi masa depan bertemu dalam satu narasi: menjaga warisan, merajut persatuan, dan meneguhkan harapan Indonesia Emas 2045.
Grahadi bukan sekadar gedung tua dengan dinding kolonial dan cat putih yang mulai memudar. Ia adalah simbol kekuasaan, diplomasi, sekaligus saksi bisu perjalanan Jawa Timur. Di serambinya pernah berkumandang pidato-pidato penting, di halamannya rakyat berkumpul, dan di ruang-ruangnya sejarah ditorehkan. Ketika api merambat ke dalamnya, bukan hanya kayu dan kaca yang terbakar, tetapi juga ingatan kolektif, kebanggaan, dan harga diri warga Jawa Timur.
Namun, dari puing-puing itulah muncul secercah cahaya: buruh, yang sering dianggap kelas pinggiran, tampil di garis depan menjaga simbol sejarah bangsanya. Mereka membersihkan, merapikan, memulihkan. Di samping mereka hadir Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang bergandengan tangan dengan para pekerja. Gambaran itu tidak sekadar simbol politik, melainkan manifestasi nilai luhur bangsa: gotong royong.
1. Sejarah yang Menyala: Dari Resolusi Jihad ke Grahadi.
Sejarah bangsa ini ditopang oleh keputusan-keputusan monumental para ulama dan rakyat. Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad yang menyerukan perlawanan terhadap kolonialisme. Seruan itu menggerakkan santri, petani, buruh, hingga rakyat jelata untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi Jihad menegaskan bahwa mempertahankan tanah air adalah bagian dari iman, jihad fi sabilillah.
Hari ini, gema itu terasa kembali. Jika dulu ulama menggerakkan rakyat mengangkat senjata, kini moralitas ulama, buruh, dan pemimpin daerah bergerak membersihkan puing sejarah dari perusakan. Musuhnya bukan lagi tentara kolonial, melainkan provokasi, anarkisme, dan krisis solidaritas.
2. Buruh sebagai Pahlawan: Jejak Gotong Royong di Puing-Puing.
Di halaman Gedung Negara Grahadi yang masih dipenuhi abu dan sisa bara, 250 buruh dari SPSI Jawa Timur dan GASPER Jatim berdiri tegak sebagai garda terdepan. Mereka datang ketika banyak pihak memilih diam, hadir bukan sekadar untuk membersihkan puing, melainkan untuk menjaga kehormatan sejarah. Dengan seragam sederhana, sepatu lusuh, tangan berbalut debu, dan wajah yang bercucur peluh, mereka menjelma menjadi pahlawan masa kini—pahlawan yang tidak mengangkat senjata, melainkan sapu, sekop, dan karung sebagai simbol perlawanan terhadap kehancuran.
Di antara mereka ada Slamet, seorang buruh pabrik yang baru saja pulang kerja malam. Alih-alih beristirahat, ia memilih bergabung membersihkan halaman Grahadi. “Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Bangunan ini bagian dari sejarah anak cucu kita,” katanya lirih sambil terus menyapu pecahan kaca. Ada pula Siti, buruh garmen, yang datang membawa serta anak lelakinya yang masih remaja. Ia ingin anaknya belajar bahwa mencintai bangsa bukan hanya lewat kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata. Potret mereka adalah bukti bahwa cinta tanah air tidak mengenal kelas sosial, dan bahwa semangat gotong royong tetap berdenyut di nadi rakyat kecil.
Ketua SPSI Jatim, H. Ahmad Fauzi, tampil sebagai komandan moral dalam aksi ini. Dengan suara lantang ia mengingatkan, “Jangan sampai ulah perusuh menghapus jejak sejarah yang berharga bagi Jawa Timur.”
Pernyataan itu bukan sekadar slogan, melainkan ikrar yang lahir dari kepedulian tulus. Ia menegaskan, buruh tidak hanya tulang punggung ekonomi, tetapi juga penjaga moral bangsa. Mereka tidak menunggu instruksi, tidak berharap pujian, tidak meminta imbalan. Mereka bergerak karena panggilan hati, karena cinta yang murni pada tanah air. Dan dari tangan-tangan mereka yang berdebu lahir pesan sederhana, tetapi menyengat: bahwa gotong royong adalah senjata paling ampuh melawan kehancuran, dan bahwa buruh adalah pahlawan yang menjaga agar sejarah tidak pernah terhapus dari ingatan bangsa.
Apa yang dilakukan para buruh di halaman Grahadi, seakan mengulang denyut sejarah 10 November 1945, ketika buruh pelabuhan, tukang becak, penjual kaki lima, hingga santri bersatu melawan pasukan kolonial setelah gema Resolusi Jihad dikumandangkan KH Hasyim Asy’ari. Jika dulu rakyat Surabaya mengangkat bambu runcing untuk mempertahankan kemerdekaan, maka kini para buruh mengangkat sapu, sekop, dan karung untuk mempertahankan warisan sejarah. Sama-sama sederhana, sama-sama lahir dari hati, dan sama-sama bermuara pada cinta tanah air yang menolak menyerah pada ancaman—baik kolonialisme di masa lalu maupun anarkisme di masa kini.
Oleh karena itu, perlu adanya Gerakan Ro’an atau kerja bhakti sosial perbaikan fasilitas umum di Gedung Negara Grahadi Surabaya lahir sebagai wujud kepedulian terhadap simbol kebanggaan Jawa Timur yang sempat mengalami kerusakan akibat ulah massa, sekaligus menjadi ikhtiar bersama untuk merawat marwah rumah rakyat Jawa Timur. Melibatkan relawan, santri, tokoh masyarakat, lintas ormas keagamaan dan pemuda, komunitas lintas profesi, serta para pendukung Ibu Khofifah, gerakan ini menegaskan bahwa masyarakat Jatim menjunjung tinggi nilai guyub rukun, gotong royong, dan cinta damai. Dengan semangat ro’an, kita ingin menunjukkan bahwa perbedaan tidak boleh meretakkan persaudaraan dan setiap kerusakan harus kita jawab dengan perbaikan, baik secara fisik pada fasum Grahadi maupun secara moral untuk memulihkan harmoni kebersamaan. Melalui sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan seluruh elemen masyarakat, Grahadi diharapkan kembali indah, bersih, dan terawat, sekaligus menjelma sebagai simbol rekonsiliasi dan komitmen menjaga Jawa Timur sebagai rumah besar yang aman, damai, dan penuh persaudaraan.
3. Cagar Budaya: Penjaga Ingatan, Identitas, dan Jati Diri.
Cagar budaya bukan sekadar bangunan tua yang berdiri pasif di tengah hiruk pikuk kota. Ia adalah jejak sejarah yang hidup, menyimpan nilai, cerita, dan identitas kolektif sebuah bangsa. Gedung Negara Grahadi, misalnya, adalah warisan arsitektur kolonial yang sekaligus menjadi saksi perjalanan panjang Jawa Timur, dari masa Hindia Belanda hingga era kemerdekaan. Ketika sebuah cagar budaya dirusak, yang hilang bukan hanya fisik bangunan, tetapi juga memori kolektif masyarakat. Sebagaimana ditegaskan arsitek konservasi Prof. Ir. Josef Prijotomo, “Bangunan bersejarah adalah dokumen tiga dimensi. Ia berbicara lebih jujur daripada arsip, sebab ia merekam cara hidup, teknologi, dan jiwa zaman.”
Antropolog Dr. Wardiman Djojonegoro menambahkan bahwa keberadaan cagar budaya menjadi penting karena ia berfungsi sebagai “penanda identitas” yang menyatukan masyarakat lintas generasi. Anak muda yang melihat Grahadi, misalnya, tidak hanya melihat gedung kolonial, tetapi juga menyerap nilai sejarah perjuangan rakyat Surabaya yang pernah berkumpul di depannya. Wardiman menekankan, “Cagar budaya adalah pengikat emosi kolektif. Tanpa itu, kita mudah terombang-ambing oleh arus globalisasi, kehilangan jangkar sejarah, dan kehilangan kebanggaan sebagai bangsa.”
Oleh sebab itu, upaya buruh, pemerintah, dan masyarakat dalam membersihkan serta merawat Grahadi pascakerusuhan memiliki makna yang jauh melampaui sekadar renovasi fisik. Ia adalah pernyataan moral untuk menjaga memori dan identitas bangsa. Dalam kerangka ini, menjaga cagar budaya sama artinya dengan menjaga masa depan. Sebab bangsa yang mampu merawat ingatannya akan lebih siap melangkah ke depan dengan penuh percaya diri, menuju visi besar Indonesia Emas 2045.
4. Khofifah dan Spirit Kepemimpinan Partisipatif.
Kehadiran Gubernur Khofifah di lokasi menambah makna. Ia bukan sekadar datang sebagai kepala daerah, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang peduli. Ia menyapu bersama, memungut puing, berterima kasih pada buruh. Inilah model kepemimpinan partisipatif: hadir, bersama, dan merawat simbol sejarah sebagai warisan kolektif.
Khofifah juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Delapan pemangku kepentingan, termasuk sejarawan dan pakar cagar budaya, telah digandeng untuk merancang renovasi Grahadi. Langkah ini menunjukkan bahwa membangun kembali bukan hanya soal arsitektur, tetapi juga soal menghidupkan kembali memori kolektif.
5. Anarkisme Bukan Aspirasi: Suara Tegas dari SPSI.
Ahmad Fauzi menyampaikan kritik tajam: apa yang terjadi di Grahadi bukanlah demonstrasi, tetapi kriminalitas. Penjarahan, pembakaran, dan perusakan dini hari jelas tidak bisa disebut aspirasi rakyat. Pandangan ini sejalan dengan teori sosial yang menyebut bahwa perusakan cagar budaya adalah serangan pada identitas kolektif.
Prof. Dr. Anhar Gonggong, sejarawan, pernah mengingatkan: “Bangsa yang kehilangan ingatannya, kehilangan arah masa depannya.” Dalam konteks ini, perusakan Grahadi adalah upaya memutus tali sejarah, sementara aksi buruh adalah upaya menyambungkannya kembali.
6. Era Digital: Antara Provokasi dan Solidaritas.
Kerusuhan yang melanda Grahadi tidak bisa dilepaskan dari dinamika era digital. Hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi mudah menyulut emosi massa. Namun, di saat yang sama, media sosial juga menjadi ruang solidaritas: ribuan unggahan warga mendukung aksi bersih-bersih buruh dan mengapresiasi Gubernur Khofifah.
Fenomena ini menegaskan bahwa era digital adalah pedang bermata dua. Di satu sisi ia dapat melahirkan perpecahan, di sisi lain ia mampu membangun solidaritas baru. Kuncinya ada pada literasi digital dan kesadaran kolektif untuk menyalurkan energi sosial ke arah positif.
7. Menyongsong Indonesia Emas 2045: Spirit Persatuan.
Jika Resolusi Jihad adalah fondasi spiritual masa lalu, dan gotong royong buruh Grahadi adalah cermin moral masa kini, maka Indonesia Emas 2045 adalah horizon masa depan. Bangsa ini tidak mungkin mencapai kejayaan jika terus diwarnai anarkisme dan perpecahan.
Gotong royong yang lahir di halaman Grahadi adalah miniatur dari energi bangsa: buruh, pemimpin daerah, masyarakat, dan ulama bergerak bersama. Inilah modal sosial yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan global—disrupsi teknologi, krisis pangan, perubahan iklim, hingga kompetisi geopolitik.
Dari Resolusi Jihad 1945 hingga gotong royong buruh di Grahadi 2025, ada satu benang merah yang tak terputus: energi spiritual bangsa yang lahir dari persatuan, pengorbanan, dan kepedulian. Anarkisme, sekeras apa pun, tidak mampu memadamkan nyala itu. Justru dari puing-puing itulah lahir energi baru untuk membangun kembali, lebih kokoh dan lebih bermartabat.
Menjaga Grahadi berarti menjaga ingatan, menjaga Jawa Timur berarti menjaga Indonesia. Dan dari Jawa Timur pula, bangsa ini belajar lagi bahwa jalan menuju Indonesia Emas 2045 tidak bisa ditempuh sendirian. Ia hanya mungkin diraih dengan gotong royong, sebagaimana para buruh dan pemimpin daerah tunjukkan di bawah bayangan Gedung Negara Grahadi.
Wallahu A’lamu Bisshawab.
Dr. H. Romadlon, MM.
Penulis adalah Pemerhati Kebijakan Publik, Kolumnis Pengembangan SDM, Lingkungan Hidup, Ekonomi Kerakyatan, dan Isu Strategis Pembangunan Daerah
.*Iman Kusnin Ahmad*
