Menanti Ulama Bersuara, Saat Bangsa Kecewa dan Menderita

 

Oleh : H. Sujaya, S. Pd. Gr.
( Dewan Penasihat DPP ASWIN)

Pendahuluan

Ulama adalah pewaris para nabi. Rasulullah ﷺ telah wafat, dan yang mewarisi perjuangan beliau bukanlah raja, bukan pejabat, bukan pula orang kaya, melainkan para ulama. Mereka memikul amanah suci untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, menjaga umat dari kehancuran, dan menuntun bangsa agar tetap berada di jalan Allah.

Namun, ketika umat Islam sedang menderita, terpuruk dalam sistem zalim, dan dikuasai riba serta ketidakadilan, banyak ulama memilih diam. Diam bukanlah netral, sebab diam di hadapan kezaliman adalah bentuk persetujuan. Di sinilah kegelisahan itu muncul: di mana suara ulama ketika umat sedang terluka?

Ulama sebagai Pewaris Nabi

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan ilmu. Barang siapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Hadits ini menegaskan bahwa ulama tidak boleh hanya membatasi diri pada urusan ibadah ritual, tetapi juga bertanggung jawab atas kehidupan umat. Sebagaimana Nabi ﷺ menegakkan keadilan, menolak riba, melawan penindasan, maka ulama juga wajib mengemban misi tersebut.

Kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Amar ma’ruf nahi munkar adalah inti peran ulama. Allah berfirman:

> “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali Imran: 104)

Bahkan Allah memperingatkan:

> “Dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak saling mencegah kemungkaran yang mereka perbuat. Sungguh amat buruk apa yang mereka lakukan itu.”
(QS. Al-Maidah: 78–79)

Ayat ini memberi pelajaran bahwa jika ulama diam dan tidak melaksanakan nahi munkar, umat akan ditimpa laknat Allah.

Diamnya Ulama di Tengah Kezaliman

Hari ini, umat tidak sedang kalah perang fisik, tetapi kalah dalam sistem. Ekonomi dikuasai riba, hukum lebih berpihak pada penguasa, sumber daya alam dijual ke asing, korupsi merajalela, sementara moral generasi muda hancur diterpa liberalisme.

Apa reaksi sebagian ulama? Mereka lebih suka membicarakan perkara cabang—tayamum, fiqh kecil—namun menghindari isu besar yang merusak umat. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan:

> “Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim)

Maka, ulama yang diam justru menunjukkan kelemahan iman, padahal mereka adalah benteng terakhir umat.

Sabar Bukan Pasif

Seringkali umat hanya diajarkan “sabar” tanpa solusi struktural. Padahal sabar bukan berarti pasif. Allah memerintahkan sabar dalam perjuangan, bukan sabar dalam menerima penindasan. Firman-Nya:

> “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.”
(QS. Ali Imran: 200)

Sabar yang benar adalah sabar aktif—bertahan dalam ketaatan, konsisten menolak kezaliman, dan terus memperjuangkan keadilan.

Contoh Sejarah Ulama Pejuang

Sejarah Islam dan bangsa Indonesia penuh dengan teladan ulama yang tidak diam menghadapi kezaliman.

1. Imam Ahmad bin Hanbal – beliau menolak doktrin sesat Khalq al-Qur’an yang dipaksakan penguasa Abbasiyah. Meski dipenjara dan disiksa, beliau tidak tunduk. Suaranya menyelamatkan aqidah umat.

2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – berani menegur penguasa dan menentang kezaliman bangsa Mongol yang mengaku Muslim tapi berhukum dengan undang-undang zalim. Beliau berkata: “Barang siapa meninggalkan hukum Allah dan berhukum dengan selainnya, maka ia telah menyalahi ajaran Islam.”

3. KH. Hasyim Asy’ari – pendiri Nahdlatul Ulama, mengeluarkan Resolusi Jihad 1945 yang mewajibkan umat Islam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah Belanda. Seruan ulama inilah yang memicu perlawanan rakyat pada 10 November di Surabaya.

4. KH. Ahmad Dahlan – pendiri Muhammadiyah, berjuang melawan kebodohan dan kemiskinan dengan pendidikan. Beliau mengingatkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar tidak hanya melawan penjajah, tapi juga melawan sistem sosial yang merendahkan martabat manusia.

5. KH. Zainal Mustafa dari Tasikmalaya – memimpin perlawanan bersenjata melawan Jepang yang zalim. Meski akhirnya gugur, beliau menjadi simbol ulama yang tidak tunduk pada tirani.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa ulama sejati tidak hanya berkutat pada mimbar, tetapi hadir di tengah umat, melawan sistem zalim, dan menyalakan api perjuangan.

Penutup: Menanti Ulama yang Berani

Bangsa ini membutuhkan ulama yang berani, bukan ulama yang hanya menjadi corong penguasa. Ulama harus kembali pada peran utamanya: menerangi umat dengan ilmu, memperjuangkan keadilan, melawan kezaliman, dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Jika ulama diam, maka kezaliman akan semakin menjadi-jadi, dan murka Allah bisa saja turun, sebagaimana firman-Nya:

> “Dan takutlah kalian akan fitnah (bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.”
(QS. Al-Anfal: 25)

Maka, menanti ulama bersuara bukanlah sekadar kerinduan, tetapi kebutuhan mendesak. Umat membutuhkan ulama pemberani seperti Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, KH. Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, dan Zainal Mustafa. Ulama yang menolak diam, ulama yang berani menyuarakan kebenaran, meski berhadapan dengan penguasa dan risiko kematian.

Tanpa mereka, umat akan gelap. Dengan mereka, umat akan kembali menemukan cahaya.

Indramayu. 27/8/2025