
Ketika kesulitan mengidentifikasi standar ukuran tingkat keikhlasan ibadah kita, maka sangat membahagiakan bila ketemu ibadah puasa sebagai contoh solusi. Standar ibadah puasa diangkat sebagai contoh lantaran ada ukuran ikhlas yang sekaligus bisa dirasakan. Hal ini sangat penting untuk dijelaskan dalam artikel ini, yang selanjutnya bisa diterapkan pada bentuk ibadah yang lain yang kwalitas ibadahnya sangat bergantung pada tingkat keikhlasan.
Ada dua kebahagiaan untuk orang berpuasa yang dijelaskan sangat gamblang dalam riwayat hadits Bukhori-Muslim, yakni:
“للصائم فرحتان: فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه”
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.”
Kontek kebahagiaan yang hubungannya dengan keikhlasan adalah ketika berbuka puasa. Orang yang berpuasa dengan IKHLAS (sesuai dengan syarat dan rukun) akan merasakan kebahagiaan karena telah menyelesaikan ibadah puasa dengan baik. Sehingga pada saat buka puasa terasa betul kenikmatannya. Kita bisa membandingkan dengan buka puasanya orang yang berpura-pura puasa atau puasa yang bukan murni karena Allah misal mencuri minum air kran saat wudlu. Sungguh kita bisa mengakui bahwa sangat berbeda rasa makan saat maghrib untuk orang berpuasa dengan yang tidak.
Kata kunci ikhlas di sini adalah yang bisa tahu seseorang itu betul puasa atau tidak adalah hanya yang melakukan dan Allah SWT. Tidak ada bukti puasa yang bisa dibaca atau dilihat oleh orang lain. Makan di siang hari yang bisa tampak oleh orang lain adalah bukti tidak puasa. Sedangkan tidak makan bukan berarti menjadi bukti puasa.
Alhasil, ibadah puasa bisa digunakan sebagai standar ikhlas yang bisa dirasakan, dalam hal ini ketika buka puasa. Hal ini menyimpan rahasia yang bisa ditularkan terhadap ibadah yang lain. Yakni ibadah yang hanya diketahui oleh yang melakukan dan Allah SWT saja. Di sini terkuak bagaimana kita bisa membenarkan adanya kisah wali yang tidak ingin diketahui kewaliannya oleh orang lain.
Mungkin diantara kita ada yang bisa merasakan nikmatnya uzlah, menyendiri, atau dzikir yang tidak ingin diketahui oleh orang lain. Mari kita sama-sama meningkatkan keikhlasan kita dalam beribadah sehingga bisa merasakan ladzatnya ibadah lantaran bisa tercapai standar ikhlas sebagaiman puasa. Semoga bisa demikian Allahumma aamiin.
Semoga manfaat barokah selamat dunia akhirat aamiin.
🤲🤲🤲
Surabaya, 5 Robiul Awal 1447 atau 27 Agustus 2025
m.mustain
