Renungan Agustus Harapan Jiwa

,Dr.Ir. HADI PRAJOKO SH, MH Ketua HPK Pusat.

Keadilan adalah denyut nadi dari relasi manusia. Ia bukan sekadar hukum yang tertulis, melainkan keseimbangan yang membuat hidup bersama mungkin untuk berlangsung tanpa saling melukai.

Plato melihatnya sebagai HARMONI: sebuah orkestra sosial di mana setiap peran dijalankan sesuai tempatnya, sehingga tercipta keselarasan.

MPU Tantular memberikan pesan PANCASILA KRAMA bagaimana keadilan menciptakan kerukunan, harmonis, menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa atas hak individu dan kelompok.

Sedangkan MPU PRAPANCA Secara jelas disampaikan dalam kakawin NEGARAKRETAGAMA dalam pesan sucinya bagaimana Raja Hayam Wuruk diminta untuk menjaga sistem pemerintahan Yg sudah ditulis oleh para Brahmana untuk dijaga dan harmonisasi antara raja dan rakyat sebagai ketauladanan untuk menjaga keseimbangan dan keselarasan terwujudnya masyarakat Yg adil bagi generasi kedepannya, bahwasanya nilai nilai keadilan dan ketertiban adalah cerminan kepribadian Raja, dan itulah kemartabatan.

MPU SEDAH Menutur kan dalam Epos Kakawin Bharatayudha yg merupakan cerminan kepribadian seseorang Satri Pandawa… Sungguh epos hidup yang harus dibaca sebagai panduan hidup untuk mencari keadilan yang sejati

Aristoteles menekankannya pada PEMBAGIAN DAN PEMULIHAN HAK: memberi kepada setiap orang apa yang memang menjadi miliknya, dan mengembalikan yang hilang bila terjadi ketidakadilan.

Rawls, dalam zaman modern, merumuskannya sebagai KESEPAKATAN RASIONAL: manusia yang setara duduk bersama, menutup mata pada kepentingan pribadi, dan memilih aturan yang paling adil bagi semua.

Meski berbeda jalan, ketiganya berjumpa pada satu titik: keadilan selalu tentang relasi.

Ia mengatur bagaimana manusia berdiri satu sama lain, tidak menindas, tidak mendominasi, tidak memanfaatkan, tetapi berjalan bersama dalam kebersamaan yang bermartabat.

TANPA KEADILAN, RELASI MANUSIA RUNTUH MENJADI KEKACAUAN, DENGAN KEADILAN, RELASI BERUBAH MENJADI RUMAH YANG TEDUH.

Jika adab adalah inti dari moralitas individu, maka keadilan adalah inti dari moralitas sosial. Adab menjaga jiwa, keadilan menjaga dunia.

Keduanya ibarat dua pilar, satu menopang batin, satu menopang masyarakat. Dari sinilah lahir peradaban yang benar, indah, dan manusiawi
Rahayu.

Saka Dwipa-PRAJOKO.
Mahardika putra
Merdeka berfikir sehat