*Bersyukur Bisa Berucap Alhamdulillah*

 

Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS

Terkadang kita tidak mudah merasakan mendapatkan karunia Allah SWT, bahkan merasa sedang teraniaya. Hal ini wajar sebab sifat dasar manusia ini memiliki rasa keluh kesah. Tetapi ada sifat dasar yang lain adalah ingin berbuat baik, di sisi lain diperintahkan syariat untuk bersyukur. Artikel ini menjelaskan bagaiman mengkombinasikan antar keluh-kesah dan berbuat baik dengan jalan bersyukur.

Ayat dari Surah Al-Ma’arij (QS. 70: 19) berbunyi,
إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.”
Ayat ini menggambarkan sifat dasar manusia ketika tidak dibimbing oleh iman dan ketaqwaan (ChatGPT).

Di sisi lain ada QS An-Nahl ayat 114 yang berbunyi,
…. وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تعبدون
“….bersyukurlah atas nikmat Allah jika kamu hanya menyembah-Nya.”
Ayat ini menekankan pentingnya bersyukur atas nikmat Allah, terutama bagi yang beriman dan menyembah-Nya dengan ikhlas (ChatGPT).

Sungguh tidak mudah mengkombinasikan dalam praktek dari kedua ayat tersebut. Meskipun kitap jelas konsisten dalam keinginan beribadah, tetapi dalam hal mensyukuri nikmat ada kendala (ujian) yakni ingin berkeluh kesah. Padahal apabila kita berpikir cerdas yang berbasis ketaqwaan maka sangat logis kalau kita harus selalu bersyukur. Kita diberi kemudahan setiap saat untuk mendapat oksigen dalam keperluan bernafas. Hal ini baru terasa bila kita tahu ada seseorang yang membeli oksigin untuk keperluan bernafas lantaran sakit misalkan.

Sementara kita biasanya bisa berucap alhamdulillah apabila ada suatu nikmat yang sifatnya berkala seperti ketika lulus ujian dll. Inipun hanya terpikir mensyukuri nikmatnya lulus ujian tersebut dan lupa pada sekian tumpukan nikmat yang telah dan sedang direnggut.

Sesungguhnya tak terhingga jumlahnya nikmat yang telah dan sedang kita renggut. Sistem kalkulasi apapun tidak akan mampu menghitung. Kita diberi nikmat pendengaran misalnya, yakni bisa menikmati satu macam suara musik sebagai contoh. Maka ketika kita bisa menikmati dari satu jarak dan posisi tertentu terhitung menjadi satu kenikmatan. Apabila kita merubah jarak dan posisi maka menjadi bentuk kenikmatan yang lain. Dengan bentuk perubahan yang banyak dan bahkan tak terhingga, maka artinya kenikmatan dari pendengaran yang berupa musik tersebut sudah tak terhingga. Belum lagi suara yang lain bahkan dari indra yang lain, maka kalkulasi apapun tidak akan mampu menghitung.

Contoh yang jarang terpikir nikmat yang harus disyukuri adalah barsyukur lantaran bisa berucap ALHAMDULILLAH.

Semoga manfaat barokah slamet aamiin.
🤲🤲🤲

Surabaya, 19 Shofar 1447 atau 13 Agustus 2025
m.mustain