
Catatan Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH, MH Ketua HPK Pusat.
Kiblat kebudayaan Nusantara mengapa harus ke Barat dan ke Arab, negeri Konoha. “Negeri ini tidak kehilangan masa lalunya. Ia hanya dikurung dalam lemari yang tak boleh dibuka.”
Oleh penjajah…
Sementara anak-anak tumbuh tanpa tahu cerita ibu leluhurnya.
Mereka bermain dengan kepalsuan.
Dan negeri tanpa cerita, masa lalunya hanyalah tanah
yang ditinggali oleh tubuh-tubuh mati dan jiwa-jiwa kosong.
Mereka kehilangan kesadaran murni, tanpa mengerti identitasnya.
Itulah wajah dunia ketika kesejatian hidup disingkirkan.
Ketika manusia tak lagi percaya pada dirinya sendiri,
pada tanah tempat ia berpijak, pada akar yang menghidupinya.
Keyakinan bukan sekadar tentang Tuhan yang jauh di langit,
tetapi juga tentang kepercayaan pada nurani yang berbicara lirih dalam dada.
Ketika masa lalu dikubur, maka cahaya masa depan pun padam.
Sebab hidup yang sejati dibangun dari jalinan antara yang dulu, yang kini, dan yang akan datang.
Dan mereka yang melupakan cerita leluhur, kehilangan peta untuk pulang ke diri.
Kesejatian hidup adalah saat manusia tahu dari mana ia berasal,
dan untuk apa ia berjalan.
Ia tak lahir hanya untuk menjadi roda dari sistem yang membutakannya,
tetapi untuk menjadi mata air bagi makna.
Untuk menyalakan kembali api yang nyaris padam di balik lemari warisan itu.
Setiap anak yang berani membuka lemari sejarahnya,
setiap jiwa yang mencari makna di balik nama-nama purba,
adalah nyala dari kesejatian itu sendiri.
Sebab hidup bukan tentang menjadi seperti dunia,
tapi tentang menjadi seperti yang dirancang semesta sejak mula:
penuh cahaya, jujur, utuh, dan sadar.
Kesejatian itu mungkin tersembunyi,
tapi ia tidak pernah mati.
Ia menunggu, di balik lemari itu—
bersama keyakinan yang tak bisa dibunuh oleh zaman.
