Mengayuh Harmoni Budaya Bersepeda Sebagai Cermin Peradaban Al-Zaytun (Mengenal Tradisi Al -Zaytun)

 

Oleh Ali Aminulloh

Di tengah riuh rendah upaya global menuju kehidupan berkelanjutan, Mahad Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, memberikan satu contoh konkret yang mengakar dalam budaya kesehariannya: bersepeda sebagai gaya hidup dan sistem transportasi utama. Ketika kebanyakan institusi pendidikan masih berkutat dengan kendaraan bermotor dan polusi, Al-Zaytun tampil beda. Kompleks pendidikan seluas 1.300 hektare ini membatasi kendaraan bermotor hanya di pinggir kawasan, sementara seluruh civitas akademika—mulai dari guru besar hingga anak-anak PAUD—mengandalkan sepeda untuk mobilitas sehari-hari.

Budaya ini bukan sekadar kebijakan logistik, melainkan bagian dari grand design kehidupan kampus yang sehat, efisien, dan ramah lingkungan. Setiap pagi, ratusan individu memenuhi jalur sepeda: dosen, santri, pelajar ekstra kurikuler pertanian dan perkapalan, bahkan anak-anak PAUD mengayuh sepeda mereka dengan semangat. Mereka tidak hanya berpindah tempat, tapi juga menjalani proses pembentukan karakter dan kesehatan fisik yang terstruktur.

Bersepeda telah lama dikenal memiliki manfaat fisiologis yang signifikan. Harvard Health Publishing (2020) menegaskan bahwa aktivitas ini meningkatkan kesehatan jantung, menguatkan otot, serta menurunkan risiko penyakit kronis. Di sisi lain, Pucher & Buehler (2017) menunjukkan bahwa infrastruktur ramah pesepeda secara langsung mendorong masyarakat untuk hidup lebih aktif. Dengan fasilitas yang terintegrasi dan rambu-rambu lalu lintas khusus sepeda, Al-Zaytun menunjukkan bagaimana teori bisa diimplementasikan secara nyata dan menyatu dalam sistem pendidikan.

Lebih dari itu, anak-anak PAUD yang terbiasa mengayuh sejak dini menandai bahwa budaya ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi nilai yang ditanamkan sejak awal. Inilah pembentukan generasi yang sehat secara fisik dan tangguh secara karakter, tanpa harus mengandalkan fasilitas mewah atau kampanye besar.

Diplomasi di Atas Roda Dua: Sepeda sebagai Medium Perubahan Sosial

Apa yang menjadikan budaya bersepeda di Al-Zaytun begitu istimewa bukan hanya soal efisiensi atau kesehatan, tetapi juga daya transformasinya dalam diplomasi dan pembentukan nilai sosial. Melalui Asosiasi Sepeda Sport Al-Zaytun (ASSA), kegiatan bersepeda menjelma menjadi wahana silaturahim lintas wilayah, ajang pertukaran budaya, bahkan diplomasi antarnegara.

Pada tahun 2008, ASSA memulai tur bersepeda keliling Jawa-Madura sejauh 2.000 km, disusul tur pra-Sumatera dengan 300 peserta. Puncaknya, tahun 2009, diselenggarakan Tur Tiga Negara (Malaysia, Singapura, Thailand) sejauh 2.000 km. Pada 2017, dan tur keliling Pulau Jawa dengan 405 peserta menempuh 2.727 km, menorehkan sejarah baru dalam olahraga sepeda di Indonesia.

Namun esensinya bukan pada catatan jarak, melainkan misi kebangsaan yang dibawa dalam setiap etape. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan dua kali sehari di setiap titik pemberhentian—sebuah simbol kuat nasionalisme dan pendidikan karakter melalui aksi nyata. Bahkan, lagu kebangsaan tersebut dikumandangkan di Gedung DPR RI, menjadi simbol bahwa sepeda bisa menjadi sarana edukatif sekaligus politis yang membawa pesan persatuan dan identitas bangsa.

Di dalam lingkungan kampus sendiri, budaya bersepeda juga menjadi alat pengajaran tentang kepatuhan terhadap aturan. Jalur sepeda, rambu larangan, hingga zona parkir sepeda ditata dengan ketat dan dijalankan dengan konsisten. Setiap orang, tanpa kecuali—dari dosen hingga anak-anak—mengikuti aturan yang berlaku. Dalam perspektif Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1991), perilaku seperti ini muncul dari tiga hal: sikap positif terhadap tindakan, norma sosial yang mendukung, dan persepsi bahwa tindakan itu mudah dilakukan karena didukung fasilitas. Al-Zaytun berhasil memenuhi ketiganya, sehingga budaya bersepeda menjadi perilaku kolektif yang ajeg.

Budaya ini tidak hanya melatih otot kaki, tetapi juga menguatkan otot disiplin dan tanggung jawab sosial. Dalam setiap rambu yang dipatuhi dan setiap sepeda yang terparkir rapi, terdapat pelajaran tentang bagaimana masyarakat seharusnya bergerak: teratur, sadar, dan harmonis.

Epilog: Dari Pedal ke Peradaban

Mahad Al-Zaytun telah menunjukkan bahwa sepeda bukan hanya alat transportasi, tetapi alat transformasi. Di kompleks ini, sepeda tidak hanya mengantarkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga mengantarkan nilai-nilai luhur ke dalam jiwa setiap individu. Dari gaya hidup sehat, disiplin, kepatuhan, hingga diplomasi lintas batas, semua terangkum dalam satu narasi: bersepeda adalah jalan menuju peradaban yang lebih mulia.

Mungkin dunia luar melihatnya hanya sebagai kebiasaan unik, tetapi di balik pedal-pedal yang berputar itu, terhampar visi besar tentang pendidikan, ketertiban sosial, dan masa depan bumi yang lestari. Semoga budaya ini menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga pendidikan lain, bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tindakan kecil—asal dilakukan dengan tekad besar dan nilai yang kokoh.