
Catatan Dwi Wulandari dkk, Yahya Aziz & Saefullah Azhari : Mahasiswi PAI & Dosen FTK UINSA
Inilah catatan kecil riset penelitian kami :
1. Dwi Wulandari (06040121102)
2. Yessilya Ayu Nur Febryandhiny (06020121073)
3. Nur Indah Kurniawati (06040121120)
4. Tsalis Febrianti M.N(06040121128)
5. Fi’Lolla Uswatun Hasanah (06020121042)
6. Ilahana Sajidah (06020121046)
Ke 6 mahasiswi ini dibimbing langsung oleh Yahya Aziz & Saefullah Azhari dalam riset penelitian buku pada mata kuliah materi public speaking.
Tulisan berjudul Spritualitas Dalam Prespektif Haidar Bagir adalah intisari dari buku
berjudul : “Islam Tuhan, Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau”
Penulis : Haidar Bagir
Penerbit : PT. Mizan Pustaka
Cetakan : Cet:1
Tempat Terbit : Bandung, Maret 2017
Bahasa : Indonesia
Bentuk Karya : Bukan Fiksi
Subjek : Filsafat Islam
ISBN / ISNN : 978-602-441-016-2
Deskripsi Fisik : xxxiii, 288 hal.
Buku ini mengupas permasalahan dalam dunia Islam yang diawali dengan masalah kebangsaan, politik, hingga ekonomi dan sejarah. Lewat pendekatan hermeneutik, beliau mengajak pembacanya menyelami dunia Islam lebih dalam, memungut akar permasalahan yang sebenarnya, dan menyelesaikan masalah dengan solusi yang dihadirkan, hasil dari perenungannya. Haidar menggunakan bahasa yang mudah diterima oleh akal serta logis. Meski dipenuhi referensi buku dan menyertakan banyak pemikiran tokoh di dalamnya, buku ini layak dinikmati saat ada waktu luang. Selain terdapat banyak informasi di dalamnya, buku ini juga sangat reflektif. Haidar menyeret kita berpikir dengan runtut atas permasalahan yang terjadi dalam dunia Islam.
Bab 1: Dunia Kita yang Sedang Meluruh. Membahas tentang krisis-krisis yang terjadi, seperti krisis dalam pendekatan multilateral, krisis ekonomi global, fanatisme, hingga terorisme. Hal ini juga tak lepas dari pengaruh kemajuan teknologi. Sehingga manusia perlu menyeimbangkan keajaiban material teknologi dengan tuntutan spritualnya dan perlu falsafah hidup untuk berbangsa dan bernegara.
Bab 2: Negara Tuna Budaya. Membahas tentang spiritualitas, kemanusian, dan integritas masyarakat Indonesia yang semakin menurun sebab pengaruh budaya asing dan kapitalisme. Sehingga perlu agama untuk menentukan arah kebaikan. Dan pengembangan budaya ini perlu keterlibatan semua masyarakat Indonesia.
Bab 3: Zaman Kacau. Membahas tentang masa penemuan media audiovisual. Zaman dimana informasi sangat mudah menyebar dan memungkinkan terjadinya disorientasi sehingga dapat memicu konflik.
Bab 4: Akar Ideologis Radikalisme. Membahas tentang faktor-faktor yang menyebabkan gerakan radikalisme. Selain itu juga terdapat faktor sosial ekonomi yang turut mendorong timbulnya gerakan tersebut.
Bab 5: Takfirisme: Asal Usul dan Pengembangannya. Membahas tentang latar belakang terjadinya pembunuhan 3 pemimpin penting umat Islam di Mekkah pada 40 H. Doktrin takfiriyah dapat dilacak dengan mudah yakni cara pandangnya terhadap agama cenderung menekankan kepada kekerasan.
Bab 5: Akal, Imajinasi, dan Pengalaman Tasawuf. Haidar menjelaskan bahwa optimisme umat Islam merujuk pada filsafat Islam, akan tetapi hal tersebut telah ditinggalkan begitu lama. Orang-orang banyak yang tidak ingin bersusah payah mempelajari filsafat sehingga pemahaman Islam pada dirinya menjadi sangat tekstual, tak mengindahkan sejarah dan konteks yang ada. Dengan akal dan daya berpikir manusia, Haidar yakin, permasalahan dalam Islam akan bisa diselesaikan.
Bab 7: Beragama dengan Akal. Memaparkan bahwa posisi akal dalam Islam sangat penting, hal itu sejalan dengan sebuah hadis yang dengan tegas menyatakan “Tak ada agama bagi orang yang tak punya (menggunakan) akal”. Sedangkan dalam filsafat Islam, proses berpikir biasanya melibatkan dua daya (quwwah) yakni “kehewanan” termasuk pancaindra, sensus communis, imajinasi, estimasi. Daya yang kedua ialah daya rasional termasuk akal material atau potensial, habitual, dan akal aktif. Dalam khazanah pemikiran Islam akal dipahami tidak semata-mata sebagai rasio akan tetapi dipahami dalam makna yang melampaui rasio.
Bab 8: Hermeneutika dan Teks Agama. Secara ringkas pendekatan hermeneutik terdapat dua langkah. Pertama pemahaman teks melalui penguasaan terhadap aturan-aturan sintaksis. Kedua, melalui penangkapan muatan emosional dan batiniah. Memahami sebuah teks sama denga memahami makna otentik. Pandangan hermeneutic menganggap dunia sebagai suatu universum atau kosmis dunia karena itu memungkinkan adanya komunikasi intuitif, maka eksistensi manusia menurut Heidegger disebut sebagai being the world.
Bab 9: Tentang Takwil. Pada Bab ini dijelaskan definisi takwil secara umum. Takwil telah digunakan sejak zaman awal tabi’in, namun secara berangsur-angsur digantikan oleh istilah ijtihad bi al-ra’y. Dari konsep takwil ini juga melahirkan konsep qiyas, kemudian lahir berbagai metode deduksi hukum.
Bab 10: Peran Filsafat Keagamaan dalam rekonstruksi ilmu dan kehidupan. Pada bab ini membahas tentang bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari induknya, yaitu filsafat. Dengan kata lain, pemisahan keduanya secara paksa telah terbukti menimbulkan berbagai krisis kemanusiaan, krisis ekologi, krisis keyakinan yang melahirkan alienasi dan sebagainya.
Bab 11: Peran Pemikiran Keagamaan dalam Sains. Pada bab ini menjelaskan bahwa kegiatan perenungan (dzikr) dan pemikiran rasional (fikr), pengetahuan tentang Allah SWT. dapat diketahui lewat observasi (tadabbur) atas tanda-tandanya di alam semesta itu, yaitu gejala-gejala alam semesta. para pemikir islam memberontak terhadap sifat antiklasik alias spekulatif filsafat Yunani. Sehingga mendorong para pemikir islam tersebut untuk melahirkan metode observasi yang kelak menjadi salah satu pilar metode ilmiah (scienctific method) seperti yang kita kenal sekarang ini.
Bab 12: Agama itu Akal. Pada bab ini menjelaskan bahwa akal itu adalah rasul di dalam diri manusia, sementara rasul adalah akal di luar manusia. bahwa sesungguhnya wahyu yang dibawa oleh para rasul itu membawa kita ke satu titik yang akal juga bisa membawanya. wahyu fungsinya adalah mengisi tempat-tempat dimana agama percaya itu berada di luar batasan manusia. Aliran filsafat pasca Ibnu Rusyd, terutama yang berkembang di Iran, metode ini dipostulasikan dlaam bentuk kebenaran yang harus dicapai oleh suatu metode yang suprarasional. suprarasional itu tidak berarti antirasional, tetapi melampaui sekadar batas rasional yang pada saat yang sama harus bisa diverifikasi dengan pendekatan rasional. Karena kalau tidak bisa diverifikasi lewat pendekatan raisonal, maka apa bedanya suatu pencapaian kebenaran objektif dengan khayalan, halusinasi, dan sejenisnya.
Bab 13: Postmodernisme dan penafsiran islam yang lebih terbuka. Pada bab ini menjelaskan mengenai postmodernisme yang pada dasarnya merupakan bentuk pemberontakan terhadap sains modern pasca renasains. Dalam konteks islam, adanya fundamentalisme sebagai respon keberagaman dalam era postmodernisme. Selain itu, dalam ajaran islam intelek menyangkut juga mengenai qalb(hati). Bagi islam, postmodernisme atau beyond postmodern mind memberikan dorongan pada sejenis islam yang lebih terbuka.
Bab 14: Relativitas mazhab-mazhab dalam islam. Pada bab ini menjelaskan bahwa tidak setiap orang memiliki kualifikasi sebagai mutjahid sehingga mereka hanya dapat menempuh jalan sebagai mukallaf yakni taklid. Namun, orang tidak boleh memutlakan taqlid suatu madzhab. Para mutjahid sendiri merelatifkan pandangannya sendiri. Saat ini diakui 4 madzhab sunni, 2 madzhab syiah, dan 2 madzhab yang berada diluar dari rumpun tersebut.
Bab 15: Menjelaskan mengenai Ummatan Wasathan. Dalam persoalan duniawi dan aktivitas ibadah yang sakral nabi melarang ekstremisme. Muslim sejati sesungguhnya merupakan muslim yang memegang teguh prinsip moderasi.
Bab 16: Menjelaskan mengenai aliran sesat. Penting bagi kaum muslimin untuk memiliki pemahaman mengenai madzhab dan firqah agar tidak mudah menuduh suatu pemahaman terhadap islam sebagai sesat.
Bab 17: mengenai Syiah. Meski dalam banyak hal kecaman terhadap pandangan Syiah itu memiliki dasar, ada 3 kelemahan mendasar para pengecam Syiah yaitu generalisasi, tidak terpeliharanya keseimbangan pandangan, serta kurangnya perhatian pada perkembangan pandangan yang terjadi dalam madzhab.
Bab 18: menjelaskan mengenai Wa’tashimu bi Habl Allah Jami’an. Belakangan ini, mungkin terdorong oleh semangat untuk mengamalkan islam dan menegakkan sunnah Rasul, cukup banyak dijumpai di kalangan umat islam yang dengan begitu mudah memberi stempel kafir, syirik, munafik, bid’ah kepada muslim lain yang dianggap tidak memiliki pemahaman yang sama. Padahal Allah telah memerintahkan agar menempatkan persatuan umat diatas segalanya.
Bab 19: Menjelaskan mengenai sejarah Sunni-Syiah adalah sejarah perdamaian. Kalangan anti Syiah lazim menuduh Syiah sesat, bukan islam, dan mempunyai al-Qur’an yang berbeda dengan Sunni. Menurut penulis ketegangan Sunni-Syiah menguat karena memang ada persoalan laten dalam hubungan Sunni-Syiah, tetapi ketegangan yang ada saat ini lebih menguat karena ideologi takfiri yang menyertai gerakan salafisme.
Bab 20: Membahas tentang Islam, Dialog Islam, Dialog Agama. Dalam bab tersebut terbagi menjadi tiga bagian yakni cita, sejarah, dan realitas. Cita yang berisi tentang asal muasal peradaban dunia. Lalu di dalam bagian sejarah menyatakan bahwasannya pencapaian ilmiah yang maju dari perdaban kita adalah merupakan karya kombinasi Barat dan Timur. Ex oriente lux, ex occidente lex. Dari Timur muncul Cahaya, Dari Barat muncul hukum. Bagian terakhir realitas menyebutkan bahwasannya peradaban tidak akan berkembang tanpa memerhatikan keadaan dunia di masa sekarang.
Bab 21: Menjelaskan tentang perbedaan kafir dan non-muslim bahwa apakah benar orang non-muslim identik dengan kafir?, membahas pula tentang Kristen dan Trinitas atau tiga tuhan, kemudian diakhir penulis menguraikan Kekafiran sebagai Kategori Moral. Penulis mendeskripsikan tentang “kafir” dengan begitu jelas dan lugas.
Bab 22: Berisi tentang islam dan budaya lokal dalam bab ini menjabarkan tentang hubungan agama dan budaya pertama sebagai keberagaamn dan kebudayaan, kedua warisan hikmah ketuhanan yang diturunkan lewat Nabi-nabi yang pernah diutus Tuhan sepanjang sejarah umat manusia.
Bab 23: Menerangkan tentang kebangkitan agama dan spiritualisme.
Bab 24: Menegaskan atau mengingatkan kembali bahwa agama islam adalah agama kasih sayang dan agama cinta.
Bab 25: Cinta Sebagai Asas Agama. Bab ini membahas tentang hidup bermewah-mewah dengan menjual keulamaannya kepada publik atau kekuasaan, entah menjual diri demi meraih kekuasaan atau jabatan, tak terkecuali juga popularitas. Bab ini juga membahas tentang beribadah tak penting, tetapi bahwa membanyak-banyakkan ibadah tanpa disertai wawasan cukup dan pikiran terbuka justru bisa melipat gandakan kerusakan akibat semangat kesalehan yang sering tak terkendali. Yakni, dengan membatasi agama hanya dalam hal syariat-dalam makna aspek hukum yang semata-mata verbal dan fisik- dan keimanan yang melulu rasional, agama kembali kepada perannya sebagal oase spiritualitas dan moralitas di tengah kemanusiaan yang berada dalam ancaman belakangan ini dan bukannya justru menuang bensin kepada kobaran api kekacauan kemanusiaan itu.
Bab 26: Dakwah Dalam Menolak Kemungkaran. Menjelaskan tentang Dakwah berasal dari kata da’a yang berarti memanggil, menyeru, atau mengajak. Dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Pengendalian Diri Perhatikan bahwa syarat awal bagi pelaku amar makruf nahi mungkar adalah “bertobat”. Sebelum dapat berbuat baik, seseorang harus melakukan pertobatan sesungguh- sungguhnya. Dengan pertobatan ini diharapkan hati jadi bersih dan dipenuhi semangat berbuat baik, dengan cara-cara yang lebih bijaksana. Dengan kata lain, hati terbebas dari nafsu rendah, seperti kedengkian, dendam, kebencian, dan niat buruk. Al-Qur’an sendiri dengan tegas mempromosikan pentingnya kelembutan, bahkan ketika orang melancarkan kegiatan menolak kemungkaran di hadapan seorang tiran. Lalu, kelemahlembutan harus mewarnai proses menolak kemungkaran itu sendiri. Akhirnya, sikap sabar harus dirawat sesudahnya untuk memastikan bahwa kita terus memelihara ketelatenan untuk melakukannya dengan penuh kebijaksanaan.
Bab 27: Menafsirkan Ulang Perang Dan Kekerasan Dalam Islam. Membahas tentang Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Ayat-ayat yang menjelaskan larangan membunuh/berperang di bulan Muharram. Akhirnya, di bawah ini saya ringkasan bagian pertama tulisan/esal Caner K. Dagli dalam The Study Quran-nya Seyyed Hossein Nasr tentang syarat-syarat kebolehan perang dalam Islam. Untuk melindungi dan menegakkan agama 2. Bahkan bagi warga Kristen mayoritas sendiri, Kaisar Heraklius tak disenangi karena gaya hidupnya yang ekstravagan dan melanggar ajaran-ajaran Kristen sendiri. Sebenarnya, masih ada beberapa kasus yang dapat dibahas sehubungan dengan apa yang disebut-sebut kekerasan yang terjadi terkait dengan Nabi. Misal, terkait kisah tentang pembunuhan yang disebut-sebut sebagai diperintahkan oleh Nabi atas para penistanya.
Bab 28: Kata Akhir: Agama Dan Spiritualitas. Menjelaskan makna -makna spiritualnya bahwa manusia menjadi sepenuhnya rohani lagi setelah mati. Yakni, mati secara fisik, agar yang tinggal adalah rohani kita. Meski masih dalam selubung fisik, kita tak pernah kehilangan kontak dengan yang rohani, seperti ditekankan oleh Teilhard de Chardin, Kita bukanlah makhluk manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Kita adalah makhluk spiritual yang menjalani pengalaman manusia. Yakni, kesadaran keilahian yang sepenuhnya bersifat maknawi atau rohani itu. Manusia yang dibatasi oleh ruang dan waktu, memang sesungguhnya hidup di alam makna . Semua manusia dicipta dengan fitrah atau tabiat bawaan spiritual. Lebih jauh lagi, jika tidak dilambari makna-makna spiritualnya.
Kelebihan isi buku sangat menjawab isu-isu agama kontemporer. Penggunaan gaya penulisan sangat menarik, gaya penulisan yang disajikan begitu menarik seolah-olah dapat menarik perhatian pembaca, namun terdapat beberapa kalimat atau kata yang sulit untuk dipahami untuk orang awam.
Kelemahan dari buku kumpulan tulisan adalah hilangnya fokus kepada gagasan utama penulis meskipun di sisi lain kita memiliki pilihan untuk membaca tema dan tulisan tertentu. Tapi, dengan merumuskan narasi besar “Islam Tuhan, Islam Manusia”, penulis cukup berhasil mengikat tulisan-tulisan beragam tema dalam buku ini. Kita bisa melihat benang merah dalam pikiran Haidar Bagir. Ada konsistensi gagasan dalam tulisan-tulisannya.
