Kediri-menaramadinah.com-Sudah sejak tahun 2017 penulis bersama istri, ngaji kepada Mbah Kiyai Zein Matsaun, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri. Tepatnya di Komplek Masjid Amal Bakti Pancasila, barat nya atau mepet dengan Kantor Polsek Kunjang.

Tata cara ngajinya santri sowan ke beliau diantar santri senior, di sowan kan dan setelah ditanya seputar nama, alamat, pekerjaan dan sebagainya, sampai nomor telepon juga. Beliau sendiri yang mencatat dalam buku besar daftar para santri.
Penulis juga menyampaikan tentang ke manpauan melukis dengan cekakik, juga menceritakan pengalaman mengajar dan berpameran Lukisan Cekakik diberbagai iven dan di beberapa kota.

Beliau mendengarkan dan kadang juga memberikan beberapa pertanyaan. Proses ‘sowan’ tersebut ya secukupnya saja, diakhir sowan penulis diarahkan untuk belajar dulu kepada santri senior yang terdekat dengan rumah tempat tinggal untuk belajar jurus-jurus yang mengutamakan atau berbasis olah pernafasan dan olah batin.
Santri senior yang mengantar penulis adalah teman se kampus dulu, waktu kuliah di UNISKA Kediri, yaitu Mbak Sri Tamami dan suaminya, beliau dari Kota Blitar.
Untuk belajar jurus-jurusnya di bimbing Bapak Wiyoto, dari Desa Gadungan Timur.
Penulis bersama istri menemui Bapak Wiyoto, yang ternya beliau juga mempunyai jamaah pengajian dan ‘mangku’ masjid yang cukup besar, dan juga mengurusi pendidikan al Qur’an, gedung di sebelah barat rumahnya sekitar 50 meter lah.
“Alhamdulillah, insyaallah” jawaban beliau setelah penulis menyampaikan salam dari Mbah Zein dan mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan penulis, dalam perbincangan yang santai, akrap dan menyenangkan tersebut, disepakati waktu belajar jurus-jurus yang harus dipelajari juga ‘rapalan’ doa atau mantra yang dilakukan saat belajar jurus-jurus tersebut.
Sekitar lebih dari dua bulan penulis belajar berbagai jurus tersebut, setelah hafal di rumah tepatnya di halaman pada saat malam hari penulis berlatih dengan istri terkasih dan tercinta.
Pada saat yang telah ditentukan Si Mbah Kiyai Zein, melalui santri senior calon santri baru ini di sowankan lagi untuk prosesi ‘Bukaan’ atau penerimaan secara resmi menjadi santri beliau.
Proses ‘bukaan’ ini juga di saksikan dan di semangati, di bantu para santri senior. Setelah semuanya siap, para santri baru di bariskan menghadap kiblat dan di wejang ilmu ‘Dunung’ beliau menjelaskan panjang lebar termasuk kimiawi manusia, agar mengerti ‘dunungeng pribadi’ mengerti tentang dirinya sendiri dan memahi hakekat kehidupan ini, penjelasan itu juga kadang diselingi ‘sanepan’. Proses terakhir Si Mbah Kiyai berada di belakang santri baru dengan melakukan berbagai jurus-jurus, yang membutuhkan enegi besar, para santri baru diperintahkan menahan nafas disaat-saat tertentu sesuai arahan beliau.
Usai sudah masa penerimaan santri baru, berikutnya giliran nya proses ‘Ngaji’ Si Mbah Zein, dalam pengajian nya ada jamaah yang di beri nama Taawun, ngaji rutin setiap malam sabtu minggu pertama setiap bulan, majelis ini dihadiri umum semua santri, selain itu saat dan hari tertentu dan jumlah santri juga tertentu biasanya ini acara tahunan, yaitu malam jum’at, setelah sholat isa berjamaah, yang pernah penulis dan istri beberapa tahun yang lalu 11 kali, sekitar lebih tiga bulan lah. Didalam pengajian-pengajian beliau mengajar dari cara bersuci sampai sholat, sering diulang-ulang agar santri bisa mengerti.
Selain kegiatan ngaji yang terjadwal itu para santri bebas sowan untuk menyampaikan berbagai hal dan persoalan hidup yang mereka hadapi.
Dalam beberapa kali sowan penulis baik sendiri maupun bersama istri Si Mbah Yai Zein, menyampaikan kepada santri lain atau tamu yang kebetulan sama-sama bahwa penulis adalah pelukis cekakik.
” Saya ingin tahu contohnya Lukisan Cekakik” kata beliau saat penulis sowan, dalam perbincangan yang menyejukkan, penuh kasih, beliau menasehati agar penulis melukis para ulama, para kiyai, dan dari perbincangan itu penulis merasakan bahwa beliau juga senang dengan Gus Baha, maka lahir lah sebuah Lukisan Cekakik Gus Baha, kunjuk katur kagem Simbah Zein.
“Lukislah para kiyai dan ulama agar kita bisa mencintai beliau-belia” dawuhnya, yang terus penulis ingat.
Semoga karya penulis berkenan.
Nur Habib.
