Nasi Boranan Lamongan, Cintaku

NASI BORANAN, CINTAKU

: curhat siang Mashuri Alhamdulillah.

Setelah berjalan
Jauh dari bebayang
Tangan besi Deandles
Melewati gapura paduraksa
Tiruan Sendang Duwur, Pantura
Dengan mengendarai motor
Berdaya 120 lebih tenaga kuda
Kita pun berhenti di trotoar
Pinggir kota
Di bawah pohon keres
Rimbun & besar

Kita lalu memesan dua porsi
Nasi boranan
Ke penjaja perempuan
Setengah baya
Kenes
Ia berkerudung jingga
Mirip perawan desa
Berbaju kembang-kembang
Biru
Mengenakan rok panjang kelabu
Menutupi kakinya
Yang mungkin berbulu

Di atas tikar plastik
Kita bersimpuh asyik
Seperti sedang tahiyat
Ketika kita tiba-tiba ingat akhirat
Tapi tak ada gorengan ikan sili
Katanya, tak musim lagi

“Aku suka udang,”serumu.

Aku pun memesan kepala
Ikan gabus
Meski bumbunya mirip bali pedas
Bikin keringat menetes
Tapi ingatanku
Meneroka perjalanan kudus
Syekh Wahdat menembus
Pedalaman Jawa
Menundukkan jin-jin
Bersemayam di pring apus
Dalam Gotholoco & Darmogandul
Yang aus
Dibungkus sindirian agung:
Kuthuk buntung!

“Desis kepedasanmu
Senyaring seruling bambu,” serumu.

Mataku merah
Tapi bukan kesurupan, cinta
Mungkin bukan jin-jin di bibirku
Yang melengkingkan ingin
Menggigit sisa udang
Di bibirmu
Sambil menggumamkan lagu dangdut
Koplo, paling yahud
“Sayang”

Dalam bayanganku
Via Valen sedang bergoyang
Sepanjang jalan raya
Di atas truk tronton
Dengan iringan klakson

Crit!

MA
On Siwalanpanji, 2021
Ilustrasi ramban Googe. Jepretan sendiri ketlisut.