Wali Di Tanah Nusantara

 

Oleh : Raden Kusuma Permata.

Konon katanya dahulu kala para wali di tanah Nusantara bersurban dan memakai pakaian Arab hanya Sunan Kali Jaga saja yg memakai pakaian adat Jawa,Konon katanya para Wali di Bumi Nusantara semua keturunan Arab hanya Sunan Kali Jaga saja yg keturunan Jawa tapi…tahukah kalian bahwa pada kenyataannya tidak satupun Wali yg pernah menyebarkan Agama Islam di Nusantara berasal dari Arab,para Wali yg menyebarkan Agama Islam semua berasal dari Cina sebagaimana kita ketahui bersama para Wali mendapatkan gelar Sunan,yg berarti guru agama atau ustadz,namum perkataan Sunan itu sebenarnya diambil dari perkataan “Suhu/Saihu” yg berarti guru dlm bhs dialek Hokkian,sebab para wali itu adalah guru-guru Pesantren Hanafiyah dari mazhab (sekte) Hanafi. “Su” singkatan dari kata “Suhu” dan “Nan” berarti selatan,sebab para penganut sekte Hanafi ini berasal dari selatan Tiongkok.Perlu diketahui bahwa sebutan “Kyai” yg kita kenal sekarang ini sebagai sebutan untuk guru agama Islam setidak-tidaknya hingga jaman pendudukan Jepang masih digunakan untuk panggilan bagi seorang lelaki Tionghoa totok seperti pangggilan “Encek”.Walisongo didirikan oleh Sunan Ampel pada th 1474 yg terdiri dari 9 wali yaitu:
Sunan Ampel alias Bong Swie Ho
Sunan Drajat alias Bong Tak Keng
Sunan Bonang alias Bong Tak Ang
Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang
Sunan Gunung Jati alias Du Anbo – Toh A Bo
Sunan Kudus alias Zha Dexu – Ja Tik Su
Sunan Giri adalah cucunya Bong Swie Ho
Sunan Muria Maulana Malik Ibrahim alias Chen Yinghua/Tan Eng Hoat
Sunan Ampel (Bong Swie Ho) alias raden Rahmat lahir pada th 1401 di Champa (Kamboja),ia tiba di Jawa pada th 1443.Pada saat itu di Champa banyak sekali orang Tionghoa penganut agama Muslim yg bermukim disana.Pada th 1479 ia mendirikan Mesjid Demak.Ia juga perencana kerajaan Islam pertama di Jawa yang beribu kota di Bintoro Demak dengan mengangkat Raden Patah alias Chen Jinwen (Tan Jin Bun) sebagai Sultan yang pertama,orang Portugis menyebut Raden Patah “Pate Rodin Sr.” sebagai “persona de grande syso” (orang yg sangat bijaksana) atau “cavaleiro” (bangsawan yg mulia),walaupun demikian orang Belanda sendiri tidak percaya masak sih sultan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa.Oleh sebab itulah Residen Poortman 1928 mendapat tugas dari pemerintah Belanda untuk menyelidikinya,apakah Raden Patah itu benar2 orang Tionghoa tulen?Poortman diperintahkan untuk menggeledah Kelenteng Sam Po Kong dan menyita naskah berbahasa Tionghoa,dimana sebagian sudah berusia 400 tahun sebanyak tiga cikar/pedati.Arsip Poortman ini dikutip oleh Parlindungan yang menulis buku yang juga kontroversial Tuanku Rao dan Slamet Mulyana juga banyak menyitir dari buku ini.Pernyataan Raden Patah adalah seorang Tionghoa ini tercantum dlm Serat Kanda Raden Patah bergelar Panembahan Jimbun dan dalam Babad Tanah Jawi disebut sebagai Senapati Jimbun.Kata Jin Bun (Jinwen) dalam dialek Hokkian berarti “orang kuat”.Cucunya dari Raden patah Sunan Prawata atau Chen Muming/Tan Muk Ming adalah Sultan terakhir dari Kerajaan Demak,berambisi untuk meng-Islamkan seluruh Jawa,sehingga apabila ia berhasil maka ia bisa menjadi “segundo Turco” (seorang Sultan Turki ke II) setanding sultan Turki Suleiman I dengan kemegahannya,diantara para Wali tersebut diatas adalah Leluhurku datang ke Bumi Nusantara Sebagai Guru dan Mengajarkan Ajaran Kebajikan ilmu yg berguna serta Agama Islam maka beruntunglah Rakyat Nusantara telah belajar langsung kepada para Maha Guru Cina padahal Nabi Muhammad SAW sendiri pernah bersabda “Tuntutlah ilmu walau sampai negeri Cina” (Al Hadits),nah pada saat itu orang Tionghoanya sendirilah yg datang ke Indonesia,sehingga mereka tidak perlu repot2 harus pergi belajar ke Tiongkok untuk menuntut ilmu disana(Foto: Kusuma Advokat keturunan Bong Swie Ho dari Silsilah Raden Musrifah yang menikah dengan Raden Asyukur Keturunan Raden Nur Rochmat bin Syech Qohar Bin Syech Sultan Abuyashi Raja Bagdad), Sekretariat Permata Pusat North West Park Nc 5 No 30 Citraland Surabaya Phone: 081357575858,0816563676