TRADISI ” MUDIK” atau “PULANG KAMPUNG” Oleh:Musthofa Zuhri

Berkat perdebatan tentang istilah Mudik vs Pulang kampung , membuat rumahku ikut-ikut an membincang tentang hal itu. Tentu dengan nafas dan ritme yang berbeda . Anak ku yang nomor 2 sudah purna , maka dia ingin pulang kampung , sementara anakku yang pertama masih harus berjibaku dengan waktu , menyelesaikan tugas-tugas Madrasah dengan belajar di rumah .Demikian juga aku dan istriku. Maka mudik menjadi tema di pikiran kami.

Saat ini Musim “Mudik”, kita “mudik” kemana?”ujar anaku
Emangnya kakak mau minta “mudik” kemana??”tanyaku balik.

Tahun kemarin kita mudik ke rumah yang di Jember, gimana jika tahun ini kita “mudik” ke Situbondo aja, karena saya sudah lama tak menengok rumah kita yang di di Situbondon!”jawab anakku yang cewek. Sementara adiknya lagi asik main mobil mobilan.

Gimana dengan pendapat MAS?” tanyaku pada anakku yg cowok.

Anak lelakiku ini memang orangnya cuek kalau urusan ginian. Dia dbilang ” saya terserah saja mau mudik ke Jember, tetap Lumajang atau di rumah Situhondo, asal bisa happy ” jawabnya sambil nyisirin rambut yang sudah mulai awut awutan.

Istriku melirik ku, dan bertanya, kok Diem??” tanya dia padaku..

Akupun mendesah . Dan akhirnya ku jelaskan begini :

Begini lho mi, kak, dan mas bagi ayah, kita mau mudik kemanapun tak masalah, di Jember ada rumah kita , di ditubondo ada rumah kita , di Lumajang juga ada rumah kita . Semua berada dalam nafas NKRI.

Bagi kita, tanah air ini adalah tempat terbaik untuk mudik , agar bisa berkumpul bareng keluarga kita dinafas Republik yg kaya dengan ke khasan. Khas gotong royong dan kebersamaan. Dan ditanah air inilah tempat terbaik keluarga kita untuk mudik. Yang repot adalah bagi mereka yang tidak memiliki tanah air. Tak memiliki kampung halaman. Mereka mau mudik kemana?” jawabku sekaligus memberikan pertanyaan

Maka, tradisi mudik sebenarnya sangat khas bagi kita yang memiliki tanah air, bangsa dan negara. Hubbul wathan minal iman.” jlentrehku

Saya sepakat dengan kalian semua. Kita mudik kerumah kita. Rumah asli. Yakni di kawasan tanah air NKRI. Situbondo, Jember, Lumajang adalah tempat kelahiran kalian. ,”pungkasku

Nah..bagi yang tak punya kampung halaman, mudiknya kemana yah?

Kuyakin jawabanya “mudik itu bid’ah”!!

Begitulah, maklum tak punya.kampung halaman!! Jangankan KAMPUNG, lha Halamanya aja mereka masih dalam MIMPI Khilafah…

Lah , ini kan musim covid 19, ayah?” tiba -tiba anak yang nomor 3 , nyeletuk ”

Katanya,, sejak tanggal 24 April 2020 , dilarang Mudik?” lanjut dia.

Kita kan, bisa keluar sebentar menuju rumah yang di jember, lalu balik lagi toh dik” jawab anakku yang ke dua. Yang penting “Mudik” !!

Aku dan istriku hanya tertawa terbahak bahak.” kita bisa MUDIK dan sekaligus Pulang Kampung, karena kakak sudah Nganggur sementara, Mas, adik, umi dan ayah masih ada pekerjaan. Yang penting tetap mengikuti anjuran pemerintah, lapor pada pihak terkait, cuci tangan, pakai masker, jaga jarak , karantina mandiri. Itupun jika Mudik memang menjadi pilihan kita .

Gitu aja kok repot!

Selamat bertengkar!!