Mini Belajar di Rumah Mau Diam Takut Dosa

Oleh : Dwi Yanto

Akhirnya, tidak tahan juga puasa bicara soal pendidikan dan sangat terpaksa berpendapat. Soal setelah unggah gagasan lalu disayang teman “Kok, masih bahas pendidikan, sih?”. Tidak mengapa, preketek dengan semua itu.

Semua berangkat dari kondisi wabah pegeblug Qif 19 (Covid 19) yang penyebarannya kian mengarah pada percepatan infeksi Qif 19 dalam potensi kerumunan siswa dan memicu interaksi sosial. Proses belajar mengajar di kelas salah satu dari potensi kerumunan siswa dan interaksi sosial dimaksud.

Salah satu upaya mempertahankan pembelajaran namun tanpa potensi kerumunan dan interaksi sosial adalah belajar di rumah masing-masing. Upaya ini relatif dapat memutus mata rantai penyebaran Qif 19 dan terhindar dari infeksi virus dimaksud.

Dalam pelaksanaannya, program belajar di rumah belum sesuai harapan. Konsep “belajar di rumah” justru berubah menjadi “sibuk tugas di rumah”, salah satunya merangkum. Masing-masing guru memberikan tugas di rumah. Bukan hanya siswa yang bingung, ortu pun kebingungan karena harus mencari materi jawaban di internet karena anaknya menyerah. Konsep belajar yang menyenangkan justru berubah menjadi “mblenger bin klenger” kalau tidak boleh dikatakan “tertekan”. Siswa pun lebih senang belajar di sekolah dan bermimpi sesegera mungkin dapat belajar kembali di sekolah di samping menghemat tugas guru. Apalagi penugasan guru, lazimnya, berbasis dan serba e-lektronik.

Keluhan siswa terhadap titik jenuh penugasan guru memantik reaksi masyarakat baik lembaga bahkan kepala daerah juga turut berkomentar, “Siswa bisa klenger,” kalau mendapatkan penugasan seperti itu. Konsep belajar di rumah masih jauh dari harapan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyadari betapa berat penugasan tersebut baik secara mental maupun teknis, yakni mental siswa dan keterbatasan bahkan ketiadaan perangkat internet maupun pembiayaan kuota internet. Atas kondisi tersebut konsep belajar di rumah berubah menjadi pembelajaran visual di rumah melalui saluran TVRI. Konsep belajar visual ini lebih meringankan siswa dan orang tua baik mental maupun teknis. Pun demikian waktu 30 menit, untuk masing-masing jenjang pendidikan, belum mencukupi dan belum menyentuh keseluruhan substansi mata pelajaran yang ideal.

Atas kondisi tersebut, di medsos terdapat candaan beberapa guru (yang mulai jenuh vakum mengajar) yang bersikap konyol di mana guru berada dalam ruang kelas lalu mengajar sebagaimana biasanya di depan bangku dan kursi kosong. Pun dalam kondisi kelas tidak terdapat satu siswa pun guru-guru tetap bertanya, “Mengerti anak-anak?” atau “Ada yang bertanya?” (Aneh!)

Berangkat dari candaan-candaan tersebut perlu kiranya memformulasikan belajar di rumah menjadi mini belajar di rumah masing-masing. Konsep pembelajaran ini berupa pembelajaran nyata di kelas atau di ruang mana pun yang memungkinkan di mana guru-guru mengajar secara nyata sebagaimana biasanya berdasarkan jadwal jam pelajaran termasuk jam istirahat. Sementara siswa mengikuti pembelajaran seperti biasanya berdasarkan jam pelajaran.

Secara teknis selama guru mengajar aktivitasnya direkam visual baik menggunakan telepon genggam atau alat perekam visual lainnya selama waktu yang dianggap ideal. Secara teknis pula guru menyimpan hasil rekaman visual lalu membagikan rekaman pembelajaran ke WAG kelas yang diampunya . Agar materi mudah dipahami dapat disisipkan perintah “Putarlah x kali dan ikuti petunjuk yang ada!”

Prinsip yang harus dipegang dalam pembelajaran tersebut adalah materi pelajaran berbasis buku teks bukan yang lain, apalagi Lembar Kerja Siswa (LKS). Ini penting karena sekiranya ada pengerjaan 2 atau 3 soal inti guru cukup perintah di WAG kelas “Bukalah buku A halaman Y dan kerjakan latihan soal nomor sekian dan sekian!” atau berupa aktivitas sebuah projek tertentu dengan penjelasan langkah-langkah yang sudah direkam. Tidak terkecuali guru PAUD seyognyanya berlaku dan bersikap saat mengajarkan siswanya menyanyikan lagu “Cicak-Cicak di Dinding”, misalnya, dan siswa di rumah, dengan centilnya, mengikuti gerak manis ibu/bapak guru “Hap, lalu kutangkap”. (Sudah jangan nangis lagi ya, Dik, setidaknya ini bisa mengobati rasa kangen Adik, nggak lama lagi ketemu sama teman-teman dan ibu/bapak guru!).

Semoga dalam 3 bulan ke depan para siswa dapat mengejar ketertinggalan materi pembelajaran, diajar oleh gurunya sendiri, dalam kedekatan emosi yang nyata dan sudah terbangun serta dalam sekuen jadwal mata pelajaran setiap hari.

Semoga konsep pembelajaran mini belajar di rumah lebih bisa menjawab polemik konsep belajar di rumah di samping menjawab anggapan orang luar bahwa guru makan gaji buta (karena guru memang benar-benar mengajar setiap hari) dan tetap mendapatkan hak-haknya di samping dapat mengurung siswa agar tidak keluyuran dan nongkrong. Semoga — maaf, sudah tidak tahan, mau diam takut dosa.

(Abaikan! Hanya gagasan ngelantur dari orang santuy. #santuygang)