
Dr Ir Hadi Prajaka SH MH
*SUWUNG*
Masyarakat khususnya _Jawa – Sunda dan Bali_ mengenal istilah SPIRITUAL KUNO KAPITAYAN.
*APAKAH ITU? Coba kita bedah kembali!*
Ada dua kata/frase:
1. *PITAYA*
2. *TAYA*
Kosa Kata *PITAYA* artinya _KEPERCAYAAN_
Kosa Kata *TAYA* artinya _SUWUNG_
*COBA KITA ULAS secara saintifik di bawah ini:*
*Dimensi Kehampaan*
dalam pengertian _”Suwung”_ dalam Bahasa Jawa Kuno.
Dalam Kaweruh Jati Jawa, “hampa” bukan “kosong melompong tanpa isi”. Tapi “ruang paling dalam , paling dasar, relung bhatin ” yang isinya semua dinamis & potensi.
Saya jabarkan jadi 3 lapisan:
*1. DIMENSI LAHIR: HAMPA = SEPI + KOSONG*
Yang umum dipahami orang.
Contoh: kamar kosong, hati sepi, hidup rasanya hambar.
Di dimensi ini, “hampa” itu Bisa punya pengertian sakit. Orang takut sama sepi, karena dokma agama, takut sama kosong dan gelap Makanya banyak prasangka yang kurang digambarkan dan difahami
Orang terus mencari keramaian, hingar bingar mencari validasi dari luar.
*Tandanya*: Gampang bosan, gampang kecewa, merasa hidup “kurang terus”, kurang bersyukur.
*2. DIMENSI BATIN: HAMPA adalah SUWUNG merupakan RUANG hayatan dan kreativitas & KREASI*
Dalam filosofi leluhur, “Suwung” itu nama dimensi bhatin ke-2, atau ruang hayatan jiwa’. Kita coba
Bayangkan gelas, Kalau gelas penuh air + batu + pasir, pasti tidak bisa diisi teh lagi.
Te-Tapi kalau gelas “hampa/kosong”, malah bisa diisi apa saja.
*Artinya*: Hati orang yang sudah “hampa” dari ego, nafsu ANGKARA, gengsi, dari “merasa paling pintar”, paling benar’, paling SUCI justru jadi dan Yang paling punya surga, akhirnya Jubrio, sombong, congkak, tetapi Kita bisa buka lagi Yg
Leluhur ajarkan: _”Kosongkan obsesi / wadahmu, biar Kaweruh Jati bisa masuk”_. Gusti akarya jagat jangkung. Yg ada hanya kehadiran semesta alam Tuhan Yang ESA,
Yang dimaksud adalah Gusti Manunggal, biasanya di Narasi _MANUNGGALING KAWULA GUSTI,_
Contoh: Raja & Brahmana dulu bertapa di hutan untuk mengosongkan diri. Tidak mencari cari kuasa, tapi cari “hampa” mencari kemurnian diri agar r bisa nyambung sama Gusti-Tuhan YME.
*3. DIMENSI SEJATI: HAMPA ADALAH SUMBER DARI SANGKAN PARANING DUMADI*
Ini dimensi paling tinggi. SUWUNG -“Hampa” di sini disebut _”Sangkan Paraning Dumadi”_ Memahami Asal mula dan Tujuan dari pada Semua Kehidupan.
Di dimensi ini, “hampa” bukan “tidak ada apa-apa”. Bluetooth, Tapi “ada semua, tapi tidak kelihatan”. Sebagai contoh
Seperti listrik di kabel. Tidak kelihatan, tapi bisa menyalakan semua lampu. Seperti WiFi. Tidak ada wujudnya, tapi kita bisa menerima gelombang frekuensi menyambungkan semua HP dan elektronik.
Leluhur menyebut: _”Gusti itu tan kena kinaya ngapa, tan kena kinaya jaman, tan kena kinaya papan”_ artinya Gusti adalah Tuhan, tidak bisa dibayangkan, tidak kena waktu, tidak kena tempat. “Hampa” itu hakekat “rumah-Nya Gusti”.
*3 CIRI ORANG YANG SUDAH MENYENTUH DIMENSI HAMPA:*
1. *Tenteram* → Tidak gampang kaget, tidak gampang marah, sabar Seperti laut dalam, gelombangnya halus.
2. *Melihat Semua Sama* → Tidak ada “aku vs kamu”. Semua makhluk “sedulur”. Ini adalah inti dari Sesanti *”Memayu Hayuning Bawana”*.
3. *Kreatif Tanpa Ego* → Gagasan muncul sendiri, karya lahir, cipta rasa karsa hidup dgn sendirinya. Orangnya / ciptaan nya hanya jadi “pipa” penyalur Gusti. Melaksanakan misi Tuhan, Urip sak Dermo nglakoni dharma, ( hidup hanya menjalankan misi dharma ).
*WEJANGAN LELUHUR TENTANG HAMPA:*
_”Sepi tanpa Suwung adalah Kesepian. Suwung tanpa Gusti itu Gila, @tau minimal halusinasi. Sedangkan Suwung bersama Gusti akarya jagat adalah suatu kemerdekaan diri murni – Merdeka”._ terbebas dari DOKMA DOKTRIN KULTUS
Dimensi kehampaan itu bukan tujuan akhir. Ibarat dia adalah “pintu”.
Pintu menuju Jati Diri, pintu dari diri sejatinya hidup.
Makanya Brahmana dulu meng- ajarkan “Tapa Brata” @dalah bentuk expression latihan masuk “Suwung” biar bisa bertemu “Aji” artinya Kaweruh Sejati.
*Panjenengan bagaimana? “Hampa” yang Panjenengan rasakan sekarang ada di dimensi yang mana:??*
_*Dimensi Sepi yang sakit, atau Dimensi Suwung yang tenteram?*_ Mahardika
—
Mau saya bedah juga kaitan “Kapitayan dalam Pitaya dan Taya” dengan sains modern? Agar lebih Nalar Misal: “Kepercayaan adalah Ruang Kosong Kuantum” ternyata identik ilmu fisika.
TTD
GUS NALAR WARAS
