
KEDIRI — Pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, suasana berbeda tercipta dengan penabuhan kentheng besi yang unik.
Kentheng tersebut bukan sembarang alat musik, melainkan terbuat dari potongan besi bekas bom Belanda yang gagal meledak saat menyerang pondok pesantren pada masa lalu.
Kentheng bersejarah itu ditabuh sembilan kali secara simbolis oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, menandai pembukaan resmi forum besar NU. Kisah kentheng bermula dari karomah pendiri pondok pesantren, KH Ahmad Djazuli Utsman, yang berhasil membuat bom tidak meledak.
Setelah peristiwa itu, bom dipotong menjadi kentheng yang digunakan untuk menandai waktu shalat dan sekolah para santri.
Kentheng ini menjadi simbol penting bahwa serangan dan hambatan yang datang dari musuh dapat diubah menjadi berkah dan pelajaran hidup yang berharga.
Tradisi ini terus dijaga dan dihormati oleh para santri dan alumni Ponpes Al-Falah Ploso sebagai warisan spiritual dan sejarah yang kuat.
Dalam acara tersebut, Rais Aam KH Miftachul Akhyar berharap pengurus NU memperoleh husnul khotimah dalam pengabdian mereka.
“Yang kami harapkan ada setitik debu keberkahan yang bisa kita bawa pulang yang menjadikan semua pengurus tanfidiziyah Syuriyah memperoleh khusnul khotimah dalam khidmah NU,” ujarnya.
Penegasan senada disampaikan oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang mengajak seluruh peserta Munas-Konbes untuk meneguhkan kembali ikhtiar dan ketulusan dalam berkhidmah demi kemajuan organisasi.
“Ini adalah kesempatan bagi kita semua untuk melakukan yang terbaik bagi jam’iyyah ini. Untuk mencurahkan segenap ketulusan khidmah yang kita miliki demi mempersiapkan masa depan yang lebih baik bagi jam’iyyah,” tegas Gus Yahya.
Kentheng besi bekas bom Belanda itu bukan hanya dentingan alat tradisional, melainkan gema sejarah dan simbol kemenangan spiritual yang mengawali rangkaian Munas-Konbes NU 2026 dengan penuh makna dan khidmat.*Imam Kusnin Ahmad*
