
JOMBANG–Menjelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026 di Pondok Pesantren Ploso Mojo Kediri di gaungkan Maklumat Tambakberas 2026.

Maklumat yang dicetuskan pada saat Muktamar Kebudayaan Lesbumi NU di Tambakberas Jombang, 12-14 Juni 2026 lalu, merupakan tonggak penting bagi Nahdlatul Ulama (NU) dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat.
Dalam dokumen ini, NU menegaskan kembali pijakan nilai keulamaan dan kebudayaan sebagai fondasi utama untuk menghadapi krisis sosial, ekonomi, ekologi, dan spiritual yang melanda bangsa Indonesia.
Maklumat mengingatkan bahwa identitas keislaman NU harus berdiri teguh di atas dasar teologi yang kuat, menjunjung prinsip moderasi, keseimbangan, toleransi, dan keadilan. NU menolak peran kecerdasan buatan (AI) sebagai otoritas dalam fatwa agama dan menekankan pentingnya otoritas manusia yang bermoral dalam penafsiran agama.
Sebagaimana ditegaskan dalam maklumat, “AI hanya boleh dijadikan alat bantu, bukan otoritas fatwa. Otoritas tetap pada manusia bermoral,” ujar Sastro Adi mewakili teman-teman Lesbumi PBNU.
Selain itu, Maklumat Tambakberas mendorong moratorium penerimaan konsesi tambang hingga ada kajian ekologis dan sosial yang lengkap dan transparan. Hal ini menegaskan komitmen NU terhadap keberlanjutan lingkungan hidup dan keadilan antargenerasi.
Melalui gerakan “Kembali ke Akar,” NU mengajak seluruh elemen masyarakat dan lembaga pendidikan untuk memperkuat integrasi antara ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan spiritualitas. Pendekatan holistik ini dirancang untuk membangun peradaban Nusantara yang adil, beradab, dan berkelanjutan.
Maklumat ini bukan sekadar seruan akademik, tetapi panduan praktis bagi umat dalam menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai luhur Islam Nusantara. Dengan meneguhkan jiwa NU, Maklumat Tambakberas 2026 menjadi inspirasi untuk terus berkhidmat dalam memperjuangkan keadilan sosial dan kemanusiaan.
Gerakan ‘Kembali ke Akar’ Nahdlatul Ulama: Solusi Modern untuk Krisis Era Kontemporer
Menghadapi kompleksitas krisis global—dari ekologis, ekonomi, hingga spiritual—Nahdlatul Ulama melalui Maklumat Tambakberas 2026 meluncurkan gerakan “Kembali ke Akar” sebagai strategi kebudayaan dan keilmuan yang menyeluruh. Gerakan ini mengajak umat untuk kembali menguatkan nilai-nilai asli yang membangun peradaban Nusantara.
Kembali ke akar bukan berarti mundur dalam perkembangan zaman, melainkan mengambil pijakan kokoh berdasarkan warisan keulamaan, kebudayaan, dan filosofi Indonesia 1945. Pendekatan ini menekankan pentingnya pendidikan kewargaan berbasis nilai Pancasila dan UUD 1945, penguatan tradisi pesantren yang menggabungkan tauhid, fikih, dan tasawuf, serta membangun jihad kebudayaan yang menyinergikan dimensi spiritual dan intelektual.
Dalam menghadapi teknologi baru seperti AI dan robotika, gerakan ini menempatkan prinsip Aswaja—moderasi, keseimbangan, toleransi, dan keadilan—sebagai landasan etika dan metodologi. Ini memastikan teknologi tidak menggeser peran manusia, terutama dalam konteks keagamaan dan sosial budaya.
Selain itu, gerakan ini menuntut pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan, mengingat eksploitasi berlebihan mengancam lingkungan dan kemanusiaan. Moratorium konsesi tambang menjadi sikap konkret sebagai bagian dari integrasi kebudayaan ekologis.
Gerakan “Kembali ke Akar” adalah jawaban komprehensif NU terhadap tantangan modern. Ia menyatukan umat dalam cita-cita membangun bangsa yang berdaulat, beradab, dan bermartabat—memadukan tradisi luhur dengan inovasi tanpa mengorbankan nilai kemanusiaan.
Sebagai penegasan, maklumat menyatakan, “Kembali ke akar bukan berarti mundur ke belakang, tetapi meneguhkan pijakan agar Indonesia mampu melangkah lebih jauh sebagai bangsa berdaulat, beradab, dan bermartabat,” tambah Ketua Lesbumi PBNU KH Muhammad Jadul Maula.
Gerakan ini hendaknya menjadi panggilan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk mengambil bagian aktif dalam menjaga akar budaya dan spiritual sebagai pondasi masa depan Indonesia yang lebih baik dan berkelanjutan.*Imam Kusnin Ahmad*
