
Oleh: Achmad Jazidie
*Catatan Pembuka*
Dalam suatu kesempatan bincang-bincang santai ngalor-ngidul dengan Dava (anak ragil saya), dia bercerita bahwa ada sebuah perguruan tinggi (tepatnya college of music) di Boston-MA, Amerika, yang mempunyai motto: “Esse Quam Videri”.
Kemudian dia menyebut terjemahan Inggrisnya dan secara ringkas menjelaskan latar belakang pemilihan motto dan makna filosofis dari motto itu.
Dan sejak itu saya sering memikirkannya.
*Pendahuluan*
Di era digital hari ini, tanpa kita sadari bahwa kita sebenarnya hidup dalam sebuah panggung sandiwara besar bernama media sosial.
Setiap hari, kita disuguhi kurasi kehidupan: pencapaian yang dipamerkan, kesalehan yang didokumentasikan, dan kebahagiaan yang dipoles demi meraup tombol like atau pujian.
Tanpa sadar, energi kita habis dikuras untuk memelihara sebuah topeng. Kita terjebak dalam jebakan eksistensi: lebih sibuk *terlihat baik* (to seem) daripada *benar-benar menjadi baik* (to be).
Ribuan tahun lalu, masyarakat Romawi kuno telah mengendus bahaya laten dari kepalsuan ini melalui sebuah pepatah bijak: *”Esse quam videri”*. Artinya sangat menohok: “Lebih baik menjadi nyata, daripada sekadar terlihat” (“To be, rather than to seem”).
Sebuah prinsip yang menuntut kita untuk menanggalkan topeng dan menempuh jalan kesejatian hidup.
*Ketika Ego Bertemu Filosofi Ihsan*
Menariknya, prinsip universal Esse quam videri ini berkelindan erat dengan konsep spiritual tertinggi dalam Islam yang disebut *Ihsan*.
Dalam sebuah hadits terkenal, Nabi Muhammad SAW mendefinisikan Ihsan sebagai kondisi di mana seseorang beribadah seolah-olah melihat Allah, atau minimal, ia hidup dengan kesadaran penuh bahwa Allah selalu melihatnya. Di sinilah jalan kesejatian itu menemukan bentuknya yang paling murni.
Seseorang yang memegang prinsip Ihsan tidak lagi butuh pengakuan dari sesama makhluk. Hal ini karena pusat perhatiannya telah bergeser. Ia tidak lagi peduli apakah penonton di dunia bertepuk tangan atas kebaikannya atau tidak. Baginya, cukuplah Allah yang menjadi saksi atas setiap detak jantung dan ketulusan niatnya.
Dalam Al-Qur’an Surah Al-Mulk ayat 2, Allah menegaskan bahwa hidup dan mati diciptakan untuk menguji: “liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala”, siapa di antara manusia yang memiliki kualitas amal terbaik.
Para ulama sufi menjelaskan bahwa amal yang terbaik (ahsanu) bukanlah yang paling banyak jumlahnya atau paling megah bungkusnya. Amal terbaik adalah amal yang lahir dari jiwa yang jujur, ikhlas, dan merdeka dari keinginan untuk dipuji. Amal yang lahir dari prinsip to be, bukan to seem.
*Khulwah fi al-Jalwah: Sunyi di Tengah Riuh dunia*
Lalu, bagaimana kita bisa menerapkan prinsip kesejatian ini di tengah dunia modern yang menuntut kita untuk selalu tampil menarik ?.
Salah satu metode indah diajarkan dalam tradisi spiritual Tarekat Naqsyabandiyah, yang dikenal dengan istilah *Khulwah fi al-Jalwah*— “sunyi di tengah keramaian”.
Metode ini tidak meminta kita untuk melarikan diri ke gua atau mengasingkan diri dari peradaban. Kita tetap boleh bekerja di kantor, berbisnis di pasar, aktif di masyarakat, atau bahkan menggunakan teknologi. Namun, di saat fisik kita sibuk berinteraksi dengan dunia luar, batin kita tetap “bersembunyi” dalam keheningan bersama Sang Pencipta.
Setiap kali ego kita berbisik untuk memamerkan diri agar terlihat hebat, penganut jalan kesejatian akan berhenti sejenak. Mereka melatih hati untuk berzikir secara senyap (zikir khafi), menyelaraskan napas dengan kesadaran bahwa Allah Maha Hadir (Omnipresent).
Dengan cara ini, aktivitas sehari-hari tidak lagi menjadi ajang pencarian panggung ego, melainkan menjelma menjadi sajadah ibadah yang sunyi.
*Kemerdekaan Jiwa yang Sejati*
Memilih jalan Esse quam videri adalah memilih jalan kemerdekaan jiwa. Ketika kita memutuskan untuk fokus “menjadi” (being) daripada sekadar “terlihat” (seeming), kita akan merasakan kedamaian internal yang luar biasa. Kita menjadi merdeka dari penilaian manusia.
Pujian tidak lagi membuat kita terbang melambung tinggi, dan cacian tidak lagi membuat kita tumbang tersungkur. Sebab, kita tahu bahwa nilai diri kita yang sesungguhnya ditentukan oleh apa yang ada di dalam hati kita saat kita menghadap Sang Pencipta, bukan apa yang tampak di mata manusia.
*Penutup*
Pada akhirnya, jalan kesejatian adalah perjalanan pulang ke dalam diri sendiri. Menemukan kembali fitrah yang bersih, menghidupkan kembali lentera Ihsan, dan berani melangkah dengan satu keyakinan penuh: *”Cukuplah Allah bagiku”*.
