
Oleh Dr Ir Hadi Prajaka SH MH.
*Bangun kesadaran*
_Sejarah mencatat kehilangan jati diri_
π Sebelum masyarakat Nusantara mengenal kitab-kitab tertulis, agama asing dan huruf huruf Asing dari Bangsa pendatang yang merubah akar tradisi dan adat istiadat seperti sekarang, leluhur menggunakan metode bahasa simbol.
Mereka telah melakukan hubungan harmonis dengan alam dan Tuhan Yang Esa.
Mereka berbicara, Dan menyampaikan pesan bukan dengan tulisan, melainkan dengan sandi berupa, bentuk, warna, aroma, dan benda-benda aneka alam. πΏ
β© Karena itu sesaji pada awalnya satu piranti yang mengandung banyak makna, lebih dekat kepada “bahasa simbolik” dalam menyampaikan suatu pesan jiwa’ kepada semesta daripada “penyembahan”.
βοΈ Kelapa.
βοΈ Air putih.
βοΈ Padi.
βοΈ Buah-buahan.
βοΈ Bunga.
βοΈ Tumpeng.
Semuanya memiliki makna tertentu.
Bukan karena benda itu mistis.
β© Tetapi karena benda itu dipakai sebagai bahasa untuk menyampaikan pesan dan harapan.
π
ββββββββββββββ
π΄ *Leluhur melihat alam sebagai kitab kehidupan*.
Kelapa misalnya…
π memberi air segar,
π memberi santan,
π memberi minyak,
π memberi gula,
π memberi serat.
Dari satu pohon lahir banyak manfaat.
Maka kelapa menjadi simbol berkah, lambang awal mula, pikiran bersih dan kemanfaatan hidup, piranti Yang aneka makna
Yang dicari bukan buahnya.
Tetapi makna yg diwakilinya. π±
π
ββββββββββββββ
πΈ *MAKNA BUNGA DAN WEWANGIAN*
β© Manusia sejak dulu memahami bahwa aroma alami dapat mempengaruhi suasana batin, pengindra intuitif tumbuh kembang
Hari ini orang membeli parfum ruangan.
βοΈ Membeli aromaterapi sintetis
βοΈ Membeli lilin wangi kimia
Padahal itu wanginya kimia buatan dan banyak menimbulkan racun’ tubuh
_Tidak pernah ada yg menganggap itu memanggil setan. π Atau roh halus_
β© Namun ketika leluhur membakar kemenyan atau dupa harum…
_tiba-tiba dianggap mistis._
Padahal fungsi awalnya sering kali sama:
π menciptakan suasana hening, tentram, damai
π khusyuk, konsentrasi dan kontemplasi
π dan penuh penghormatan.
π
ββββββββββββββ
π *KENAPA DITARUH DI LAUT, GUNUNG, ATAU POHON BESAR?*
Nah di sinilah banyak kesalahpahaman muncul.
_Ketika masyarakat melihat sesaji di laut, mereka langsung berkata:_
π “Itu untuk hantu laut.”
Ketika melihat sesaji di gunung:
π “Itu untuk penunggu gunung.”
Padahal belum tentu demikian.
β© Dalam banyak tradisi Nusantara, laut dan gunung dipandang sebagai simbol kebesaran alam ciptaan Tuhan.
_Manusia menaruh sesaji sebagai ungkapan syukur._
β© Bukan karena laut dianggap Tuhan.
β© Bukan karena gunung dianggap Tuhan.
*Tetapi karena manusia sadar hidupnya bergantung pada alam. πΏ*
βοΈ Seorang nelayan hidup dari laut.
βοΈ Seorang petani hidup dari lahan sawah.
Maka lahirlah tradisi luhur penghormatan dan rasa terima kasih kepada alam yg memberi kehidupan.
π
ββββββββββββββ
*π TUMPENG JUGA SESAJI?”*
Ini yg sering tidak disadari.
_Banyak orang memotong tumpeng saat peresmian kantor._
Syukuran rumah.
Perayaan ulang tahun.
Acara pemerintah.
β© Namun saat melihat sesaji mereka berkata:
“Itu ritual syirik dan aneh.”
_Padahal tumpeng sendiri berasal dari tradisi simbolik yg sangat tua di Nusantara._ πΎ
Aneh tapi nyata, bukan?
Sebagian simbol diterima.
Sebagian simbol ditolak.
β© Padahal akarnya sama-sama produk budaya.
π
ββββββββββββββ
ποΈ _Seiring waktu.._.
makna sesaji mengalami pergeseran.
βοΈ Ada yg tetap sebagai dan menjadikannya simbol syukur atas nikmat Tuhan
βοΈ Ada yg mencampurnya dgn praktik mistis.
βοΈ Ada yg menjadikannya mitos stigma mencari kekayaan instan.
βοΈ Ada pula yg memanfaatkannya untuk menakut-nakuti rohani masyarakat.
Akibatnya masyarakat modern melihat semuanya sebagai satu paket yg sama.
_Padahal tidak sesederhana itu._
β© Karena antara simbol budaya, tradisi leluhur, adat penglaris, pesugihan, dan praktik-praktik tertentu adalah hal yg berbeda walaupun medianya mungkin mirip. πΏ
π
ββββββββββββββ
*π± JADI SESAJI ITU APA?*
Mungkin jawaban paling sederhana adalah:
β© Sesaji pada awalnya adalah bahasa simbolik.
π Bahasa yg dipakai leluhur untuk mengungkapkan syukur, harapan, doa, penghormatan, dan hubungan manusia dengan alam semesta serta Sang Maha Pencipta.
Masalahnya…
ketika manusia mulai lupa makna simbolnya, yg tersisa hanya benda-bendanya.
_Dan saat makna hilang…_
lahirlah prasangka.
βοΈ Orang melihat kelapa, lalu takut.
βοΈ Melihat bunga, lalu curiga.
βοΈ Melihat kemenyan, lalu marah.
Padahal yg perlu dipahami bukan bendanya.
Tetapi pesan yg ingin disampaikan melalui benda itu.
π
ββββββββββββββ
*Maka pertanyaannya hari ini bukan:*
“_Apakah sesaji itu mistis?”_
Tetapi:
β© _”Apakah kita masih mampu memahami bahasa simbol yg diwariskan leluhur, atau kita sudah terlalu jauh dari akar budaya kita sendiri?” πΏποΈ_
…
Rahayu πβ¨
GUS NALAR WARAS
