PBVSI Resmi Panggil 12 Talenta Muda untuk Pelatnas Timnas Voli Putri U-18: Momentum Emas Regenerasi Bola Voli Indonesia. Ol.

 

Oleh : Imam Kusnin Ahmad SH. Jurnalis Senior Matan Wartawan Olah Raga Jawa Pos.

Suasana Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, pagi itu penuh semangat. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memimpin langsung program tanam tebu perdana dalam rangka bongkar ratoon serentak, menandai langkah nyata Jatim untuk menggenjot swasembada gula nasional.

Ditemani Plt Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Ali Jamil, Direktur Utama Sinergi Gula Nusantara Mahmudi, hingga Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa dan pejabat lain secara daring, acara ini bukan sekadar seremoni.

Ini adalah bukti komitmen kuat untuk memperluas lahan tebu dan meningkatkan produktivitas di tengah target ambisius pemerintah. Tahun ini, Jatim mendapat kepercayaan terbesar dengan luas tanam tebu mencapai 54.897 hektare tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.

“Hari ini, kita bongkar ratoon serentak di 11 kabupaten dengan 15 titik tanam, dimana Kediri jadi yang terbesar. Bersama kelompok tani Tebu Semoga Jaya, kami menanam dengan harapan bukan hanya produktif, tapi juga diberkahi,” ujar Khofifah penuh keyakinan.

Ia turut menegaskan, target swasembada gula konsumsi tahun ini adalah langkah awal. Tahun depan, Jatim siap menyongsong swasembada gula konsumsi sekaligus industri. Namun, kata Khofifah, perjuangan tidak berhenti di ladang tebu saja.

“Pasca panen, penggilingan dan penyerapan pasar harus berjalan mulus,” ujar Khofifah, menyoroti pentingnya ekosistem yang sehat agar petani tidak dirugikan.

Salah satu tantangan yang dihadapi, menurutnya, adalah tumpukan gula rafinasi impor yang menggangu kelancaran pasar gula lokal.

“Pemerintah kini membatasi impor gula rafinasi dan memantau ketat agar gula tersebut tidak masuk ke pasar konsumsi. Ini langkah penting agar gula petani Jatim bisa bersaing sehat,” jelasnya.

Kerjasama, sinergi, dan niat baik dari seluruh elemen menjadi kunci keberhasilan program ini. “Kita jalankan dengan ikhtiar lahir dan batin (dhahiran wa batinan), mulai dari penanaman, proses penggilingan hingga distribusi lewat sistem lelang yang sehat,” tambah Khofifah.

Keseriusan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terlihat nyata dengan kehadiran intens para pimpinan utama dalam berbagai koordinasi. “Saya, Wakil Gubernur, dan Sekda selalu hadir bersama, ini bukti kesungguhan kami,” ujarnya.

Sebagai provinsi penghasil tebu terbesar di Indonesia, Jawa Timur mendominasi produksi gula nasional dengan kontribusi hampir 51%. Bahkan pada 2025, produksi gula kristal putih mencapai angka tertinggi dalam satu dekade terakhir, 1.343.995 ton.

“Prestasi ini hasil dari kerja keras bersama petani, pabrik gula, pemerintah, serta institusi riset dan pendidikan,” katanya.

Khofifah juga mengakui tantangan besar seperti perubahan iklim dan alih fungsi lahan yang mesti dihadapi. Namun, dengan inovasi dan kolaborasi yang kuat, ia yakin industri gula Jatim akan terus berkembang.

“Kediri khususnya, dengan luas lahan tebu mencapai 25 ribu hektare dan tiga pabrik gula, punya potensi luar biasa untuk jadi pusat industri gula nasional,” tambahnya.

Tidak kalah penting, Gubernur menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian modern, mulai dari pompa air hingga rice transplanter, untuk mempermudah kerja petani dan meningkatkan produktivitas.

Plt Dirjen Perkebunan Kementan Ali Jamil menyanjung kinerja Jatim. “Produktivitas Jatim di komoditas gula, beras, dan jagung luar biasa. Dukungan Gubernur dan Dirut SGN sangat krusial demi suksesnya program ini,” katanya.

Sementara Dirut SGN Mahmudi menekankan program bongkar ratoon adalah langkah strategis untuk meningkatkan produksi gula di tingkat regional dan nasional. “Dengan 11 kabupaten dan 15 titik tanam yang terlibat, kami optimis target swasembada 2026 tercapai,” pungkasnya.

Dengan momentum tanam tebu perdana di Kediri ini, semangat baru pun terkobarkan untuk membangkitkan sektor pergulaan Jawa Timur. Kita semua berharap petani makin sejahtera dan industri gula Indonesia yang makin berjaya.*Imam Kusnin Ahmad*