Makna Pengorbanan sebagai Bukti Cinta dan Keikhlasan kepada Allah SWT.

0leh Ustadz Abdullah di Masjid Al Musthofa Bakung Udanawu, Kabupaten Blitar, pada Rabu, 27 Mei 2026.

“Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan kita kesempatan berkumpul di hari yang mulia ini, hari Idul Adha penuh berkah. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabat beliau,” buka Ustadz Abdullah Sholeh ( Gus A’ab ).

Menurutnya, Idul Adha adalah momentum bersejarah yang mengajarkan makna pengorbanan, cinta, dan keikhlasan kepada Allah SWT.Setiap tetes darah hewan kurban bukan sekadar darah, melainkan bukti cinta tulus kepada Sang Pencipta.

Allah telah menjanjikan pahala besar atas pengorbanan ini, lanjutnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Hewan kurban akan datang pada hari kiamat dalam keadaan utuh—tanduk, kuku, dan bulunya—sebagai saksi atas amal kebaikan kita” (HR. Muslim).

Pengorbanan hewan kurban mengandung makna mendalam, bukan sekadar tradisi turun-temurun.
“Inilah manifestasi ketakwaan nyata, melepas sebagian harta demi mengharap ridha Allah, bukan pujian manusia,” jelas alumni Pesantren Ploso,Mojo, Kediri ini.

Keikhlasan dalam berkurban sangat penting.Banyak orang menyembelih hewan kurban dengan niat yang tercampur keinginan duniawi.Karenanya, kita diajak membersihkan hati, memurnikan niat hanya karena Allah.

“Sebab keberhasilan ibadah tak hanya tampak lahirnya, tapi terutama dari kedalaman hati dan ketulusan niat,” ujarnya.

Dalam QS Al-Hajj [22]:37, Allah berfirman bahwa daging dan darah hewan kurban tidak sampai kepada-Nya, melainkan ketakwaan yang sampai.

“Oleh karena itu, mari kita perbaiki niat dan maknai kurban sebagai wujud kepatuhan dan rasa syukur atas karunia-Nya,” tuturnya.

Ustadz Abdullah mengajak seluruh jamaah agar tidak ragu berkurban tahun ini dengan hati lapang dan niat tulus.

“Kurban bukan sekadar sunnah, tapi tradisi mulia yang mendekatkan kita pada Allah SWT,” tutupnya.

*Takbir di Hari Raya dalam Perspektif Islam*

Pada kesempatan yang sama, Ustadz Abdullah menjelaskan makna takbir pada hari raya.
Islam mengenal dua hari raya besar, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, keduanya disebut hari raya akbar atau lebaran.
Pada hari-hari ini, umat Islam dianjurkan menghidupkan malam dengan ibadah sunnah, termasuk melantunkan takbir.

Takbir terbagi menjadi dua jenis: takbir mursal dan takbir muqayyad.

Takbir mursal adalah takbir yang waktunya tidak terikat ibadah shalat tertentu.
Ia sunnah dilakukan kapan saja di mana saja—baik di rumah, jalan, masjid, ataupun pasar.

“Walaupun sunnah setiap waktu, takbir mursal paling afdhal dikumandangkan sejak terbenam matahari malam ‘Id sampai imam melaksanakan takbiratul ihram pada shalat ‘Idul Fitri dan Idul Adha,” jelasnya.

Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang waktunya khusus, yakni setelah shalat di bulan Dzulhijjah tanggal 9 hingga 13.

Tanggal 9 dan 10 bertepatan dengan Hari Arafah dan Hari Raya Idul Adha, sedangkan tanggal 11 sampai 13 merupakan hari Tasyriq, masa pelaksanaan kurban.

Takbir dilakukan mulai malam Idul Adha hingga pelaksanaan shalat Idul Adha, dan dibaca setelah shalat wajib maupun sunnah sampai dengan selesai hari Tasyriq.

Semoga amal kurban kita diterima dan menjadi bekal berharga di akhirat kelak.
Marilah kita jadikan momentum Idul Adha untuk hijrah spiritual, memperbaiki diri, dan memperkuat persaudaraan dalam ikatan iman.

“Demikian khutbah pada hari mulia ini. Semoga Allah selalu membimbing dan menerima amal ibadah kita. Aamiin,” pungkas Ustadz Abdullah.*Imam Kusnin Ahmad*