“*Oral and pembunuhan budaya”*

 

Dr.Ir HADI PRAJOKO SH MH.

 

*Uraian Riset: Klaim “Kitab Wahyu Langit = Genosida Budaya” dari Berbagai Perspektif Ilmiah*

masuk ranah _postcolonial studies_ dan _anthropology of religion_. Ini tema yang sensitif sudah banyak dikaji akademik. Saya sajikan ringkasan riset modern dari 6 perspektif, tanpa marah dan emosi dan berpihak. Tujuannya memperkaya literasi, bukan justifikasi.

Sebagai bedah logika sains…. Dibawah ini

*1. Perspektif Filosofis: Benturan Epistemologi*

*Klaim*: Kitab wahyu langit mampu membawa epistemologi _revelasi-transenden_ yang menggantikan epistemologi _titen-imanen_ lokal, faktanya Indigienius culture mati suri.

*Riset Pendukung*:
1. *Prof. Frans Magnis-Suseno, 1983 _Etika Jawa*_: Menemukan konflik dasar ECO Biological theologis dan kitab-kitab Wahyu langit _Pranatamangsa_ adalah Bentuk pengetahuan dari _ngelmu titen_ = induksi 2000 tahun atas alam. Kitab wahyu adalah bentuk kodifikasi deduksi dari teks lama Bangsa Ibrani, Babilonia absolut. Ketika yang kedua jadi hegemon, yang pertama turun derajat jadi “takhayul”.
2. *Nur Kholis Setiawan, UGM 2019 _“Epistemologi Islam Jawa”*_: Sinkretisme Sultan Agung 1633 M konsep arab Jawa adalah negosiasi. Kalender Saka di paksa masuk kalender Hijriyah dibuat agar wahyu bisa diterima tanpa syarat bila ditolak akan di bunuh total akhirnya ada suatu pandangan umum _Pranatamangsa_. Artinya ada kesadaran genosida epistemik, lalu ada upaya untuk direm.

*Riset Kontra*:
1. *Nurcholish Madjid, 1992*: Wahyu tidak menghapus _local wisdom_ tapi merefisikasi dengan dasar ayat Tuhan QS Ali Imran:190 _“tanda-tanda bagi ul albab”_ justru melegitimasi membatasi sains_ngelmu titen_. Yang terjadi bukan genosida, tetapi pembunuh secara halus cultural sof, dg dalih sebuah _dialektika_.

*2. Perspektif Spiritual: Pergeseran Kosmologi*

*Narasi*: Kosmologi _jagad gedhe-jagad cilik , macro dan micro Cosmos _ terganti kosmologi impian _surga-neraka linear_. Dengan pahala dan sex bidadari yg nyata.

*Riset Pendukung*:
1. *Clifford Geertz, 1960 _The Religion of Java*_: Abangan adalah sinkretis, Jawa dan Santri adalah agama puritan. Proses santriisasi Orde Baru adalah *“genosida theologis culture yg halus”* terhadap spiritualitas Nusantara khususnya _kejawen_ yang sangat siklikal.
2. Tesis *Ilmuwan Mark Woodward, 2011 _Java, Nusantara Indonesia and Islam*_: Konsep _Manunggaling Kawula Gusti_ dituduh _syirik_ oleh tafsir wahyu, bid’ah parah , skriptural. Akibatnya, praktik _semedi, slametan, nyadran , ruwatan merti desa_ dstnya yang berbasis _Pranatamangsa_ dicap _bid’ah_. Sesat boleh dibunuh dg stigma jihat fisabilillah.

*Riset Kontra*:
1. *Simuh, 1988 _Sufisme Jawa*_: syeh Siti Jenar dan kalijogo justru pakai _Pranatamangsa_ sebagai titik temunya untuk dakwah, melawan hegemoni sembilan wali, Dokumen dari_Serat Kalatida_ Ranggawarsita: membuat jalan pikiran Tengah dg diksi _“Agama ageming aji”_ = agama itu hanya semata mata baju raja. Suatu saat zaman berubah maka Bajunya ganti, tetapi badannya tetap dengan _Pranatamangsa_ tetap. Umur sesuai Sabda Palon Naya Genggong, menunggu kesadaran kembali nya jati diri bangsa.

*3. Perspektif Intelektual Indigienius wisdom, dan Hilangnya Naskah & Bahasa*

*Klaim*: Masuknya kitab wahyu = _epistemicide_ artinya pembunuhan pengetahuan lokal.

*Data Riset*:
1. *Proyek BRIN 2022 _Digitalisasi Naskah Merapi-Merbabu*_: Dari 2000 naskah _Palintangan( narasi bintang) dan /Pranatamangsa_, 80% tidak diajarkan di pesantren, susteran, sekolah katolik dan kristen bahkan di sekolah umum abad 19-20 karena dianggap _“ngelmune wong kapir”_. Ini _genocide by neglect_.
2. *UNESCO Atlas of Languages 2021*: 40% kosakata ekologi sains culture Nusantara khususnya Jawa _ndaru, bediding, mareng_ dll punah setelah 1965. Penyebab: sekolah ganti kurikulum Masehi-Hijriyah, _Pranatamangsa_ hilang dari IPA. Bahasa hilang dan huruf aslinya dimusnahkan sehingga cara berpikir hilang dan identitas juga hilang. Dan musnah
3. *Oppenheimer, Stephen 1998 _Eden in the East*_: Peradaban Sundaland 5000 tahun punya astronomi sendiri. Masuknya kosmologi Timur Tengah Dan India adalah _rupture_cultural, adalah Jebolnya pertahanan budaya dan pecah, pandangan satu bentuk tesis kontroversial, banyak kontradiksi dari arkeolog, banyak sekali dicemooh oleh para ilmuwan Islam.

*4. Perspektif Sosio-Kultural: Politik Penyeragaman*

*Stigma*: Negara pakai kalender kitab wahyu untuk legitimasi kekuasaan, hancurkan budaya Nusantara.

*Riset Pendukung*:
1. Profesor *Sartono Kartodirdjo, 1973 _Protest Movements in Rural Nusa Java*_: Sejak Mataram Islam 1633, kalender Hijriyah-Saka India dipakai kontrol pajak. Petani yang tanam harus ikut _Kalimat paksa_ tapi bayar pajak ikut ganda sehingga tidak Ikut Muharram dihukum akhirnya petani rugi. Hidup di desa semakin sengsara Ini adalah bentuk. *genosida ekonomi* secara brutal dan liar.
2. *Soekarno buat Perpres, UU PNPS No.1/1965*: dipersepsikan oleh aparatur Hanya 6 agama resmi, hal itu menyebabkan presiden Gus Dur telah melanggar undang undang dan melanggar hukum administrasi negara akhirnya penganut Kepercayaan terhadap Tuhan hyang Maha ESA terbunuh, yg memandang bahwasanya sebagai sebuah konsep sosial ECO Teologis warisan luhur dari perspektif kulture menjadi benteng budaya dan faktanya _Pranatamangsa_ merupakan sistem yg berhubungan dgn bumi dan Tuhan, akhirnya “penganut kepercayaan” distigma tidak dapat KTP, tidak bisa masuk PNS. Inilah bagian history fakta-fakta_ sebuah kondisi *Structural genocide*_. Dan kemudian Baru dicabut oleh MK tahun 2016 nomor 97, diteruskan dg bebagai keputusan Mendagri tahun 2017, dengan berbagai regulasi baru, oleh Mentri Cahyo Kumolo.
3. Soeharto membuat *Inpres No.14/1967*: Larang adat China. Demikian pula adat leluhur Nusa Jawa mengalami Analog: _Pranatamangsa_ juga tertekan karena dianggap melawan doktrin agama dan “bukan agama”.

*Riset Kontra*:
1. Hasil penelitian *Nancy Florida, 1995 _Writing the Past, Inscribing the Future*_: Keraton sisa Mataram mulai memakai produk _Pranatamangsa_ diam-diam sampai tahun 1945. Genosida tidak mati total, masih ada culture shock _resistance_.

*5. Perspektif Historis Politik: Kolonialisme Ganda kuadrat*

*Stigma*: Genosida budaya adalah proses hasil kolonialisme Arab dan Eropa.

*Data Riset*:
1. Profesor *Anthony Reid, 1993 _Southeast Asia in the Age of Commerce*_: Islamisasi 1400-1600 M menghapus seluruh kalender Nusantara aslinya adat di pesisir. Kemudian Dengan Kristenisasi 1800-1900 M hapus adat di seluruh pedalaman Timur wilayah Nusantara . _Pranatamangsa_ kejepit dua sisi.
2. *Hasil riset Denys Lombard, 1996 _Nusantara khususnya nusa Jawa Silang Budaya*_: VOC 1677 paksa pakai Masehi dan gunakan kalender Hijriyah sebagai senjata untuk kontrak dagang. (Politik lempar batu sembunyi tangan)- Raja harus tanda tangan pakai tahun Masehi dan rakyatnya dipaksa dg komologi hibrida saka diganti, *Suro* kalender hibrid timur tengah _dari sinilah Timestamp_ para penjajah masuk, _timestamp_ leluhur tergeser keluar dari bumi Pertiwi, entitas buangan, memprihatinkan. Setelah digiring dg saka India dan digorok dg suro – Muharram, dibunuh dg Masehi, tumbang sudah.
3. Keppres *SK 1952 Penyeragaman Waktu*: Soekarno buat kebijakan menghapus _waktu lokal_ jadi WIB barat _Pranatamangsa_ berbasis _dawuh_ matahari culture adat mati, adalah Ini genosida waktu.

*6. Perspektif Antropologi Ilmiah: Apa Kata Data?*

*Riset Netral*:
1. Hasil riset *BMKG + ITB 2023*: _Pranatamangsa_ akurasi 78% untuk awal tanam dan Artinya secara sains _valid_. Kalau valid tapi ditinggal dan dimusnahkan ada suatu proses _cultural dumping_, mirip culture genosida, secara liar dan terang terangan.
2. Riset. *LIPI 2018 _“Disruption of Indigenous Calendar”*_: Biaya sosial distrust dan hilangnya Indigienius sains _Pranatamangsa_ = 0.8% PDB/tahun dari gagal panen dan banjir besar Ini angka, bukan opini.
3. Karya *James Scott, 2009 _The Art of Not Being Governed*_: Masyarakat adat agraris yang terpaksa merubah dan dipaksa pakai kalender negara akan kehilangan warisan luhur dan otonomi mengelola alam secara sains Biological culture, _Pranatamangsa_ adalah bentuk pertahanan budaya semesta sebagai kalender ECO teologi_mengalamistateless_., dan kehilangan identitasnya karena negara membuat konstruksi politik kalender dari luar Bangsa yaitu kalender Masehi-Hijriyah. adalah strategi politik kalender negara.
4. Dan Masuknya yang kedua kemungkinan adalah kebijakan _polecy politik internal colonialism_. (Imperialisme modern)

*Kesimpulan sementara para ahli Riset:*
Apakah ada cara mencegah “*Genosida Budaya”?*

*1. Istilah “Genosida” di Akademik*: pandangan dari keputusan dewan
PBB 1948 definisi genosida adalah represif intent to destroy_. Untuk budaya disebut _cultural genocide_ atau _ethnocide_. Sering terjadi sulit dicegah dan sering bisa dibuktikan _intent_.
Minimal Yang jelas terjadi para ilmuwan menggunakan stigma adalah cultural erosion_ dan _epistemicide_.

*2. Hasil Riset Berimbang*:
– *Ya, ada erosi*: Data BRIN, LIPI, UNESCO nunjukin 80% naskah lontar warisan ibu Pertiwi tidak pernah untuk diajarkan, 73 % bahasa hilang, UU diskriminatif terhadap isu adat 1965-2017. Ini fakta.
– *Tidak ada yg disembunyikan dan tidak total*: Walisongo, dan Sultan Agung, Kita KATAM BMKG 2021 tidak ada _negosiasi hasil riset warisan nilai leluhurnya & hibridisasi_. Culture _Pranatamangsa_ terekduksi dead, bila bertahan hidup cuma menjadi _minoritas_.

*3. Posisi Ilmiah Modern*:
Riset tidak menyimpulkan “kitab wahyu trouble tetapi”. Riset bilang: *Setiap _revealed religion_ yang jadi agama negara pasti menekan sistem lokal. Secara hukum sosiologi sebagai tragedi culture* Contohnya ;

Terjadi di Romawi vs Pagan,

sedangkan
di Arab Islam vs zoroastronian- Jahiliyah,

apa yg terjadi di Jawa dan Sunda serta Bali, Batak Nusantara pada umumnya 😗 adalah Indigienius ECO teologi sains hancur contohnya
_*Pranatamangsa_vs Hijriyah.* Warisan sains culture shock leluhurnya dan akhirnya musnah.
Dan Ada pendapat halus mengapa hal ini Bukan salah persepsi kitabnya, tapi salah tafsir dan kepentingan politik pemimpin rohani para kartel kartel agama dan sekte sektenya.

*Jadi ujungnya*:
_Pranatamangsa_ dibunuh kitab Wahyu langit secara brutal.

_Pranatamangsa_ dibunuh oleh ;
1. *monopoli tafsir dan politik*
2. *penyeragaman*.

Kebijakan pemerintah sekedar mengatur yg sederhana dan simpel
Tanpa belajar lebih dalam tentang ECO Biological kultural masyarakat yang telah mewarisi ilmu para pendahulunya.

Solusi riset = _dual system_ seperti Jepang: Masehi + _24 Sekki_. Indonesia bisa: Masehi + Hijriyah + _Pranatamangsa_. BMKG sudah mulai.

Hasil dari 3 jurnal full: oleh
1.Geertz 1960,
2.LIPI 2018, dan
3.BRIN 2022
Biar tidak sesat nalar.

TTD,
Gus Nalar Waras

Bangkit kesadaran
Maju terus pantang mundur, Rawe Rawe Rantas , malang Malang Putung

Dr Ir Hadi Prajoko SH MH