
Kediri-MenaraMadinah. Com Sabtu Wage, 2 Mei 2026 “Anak-anak hari ini, akan aku jelaskan tentang ‘POINTILISME’:kata Pak Habib didepan kelas sambil memegang sebuah lukisan cekakik.
Secara teoritis menurut nya ‘pointilisme’ adalah aliran/gaya yang lahir dari penganalisaan yang lebih jauh dari impresionisme, yang menjadi ciri khas dari aliran ini adalah penggunaan titik-titik, tutul-tutul ataupun blok-blok yang tampak seperti mozaik.
Kelas menjadi hening, anak-anak penuh perhatiaan. “Anak-anak contoh lukisan cekakik nya seperti ini”:kata Pak Habib sambil menunjukkan lukisan wajah ‘ dr. Sulantari’, anak-anak pun memandanginya penuh perhatiaan.
Sebelum lebih jauh menjelaskan siap sosok dr. Sulantari dalam Lukisan Cekakik tersebut anak-anak mendapatkan penjelasan yang sangat prinsip bahwa pertama: ‘titik’ adalah dinisbatkan sebagai sang pencipta artinya bahwa kita ada adalah diciptakan oleh Alloh SWT, yang menjadi asal-muasal kita ada, lebih luas lagi apapun yang ada di alam raya ini adalah ciptaanNya. Kedua: serumit apapun sebuah lukisan pasti di mulai dari sebuah ‘titik’, jadi titik-titik itu akan memjadi bentuk gambar seperti apapun nantinya tergantung ‘bagaimana kita menyambungnya’, apapun bentuk dan wujutnya, hal ini juga berlalaku bagi kehidupan kita! akan seperti apa gambaran ‘titik-titik kehidupan kita’ tergantung dan terserah Alloh SWT yang mencipkan kita.
Titik-titik dalam kehidupan kita sebagai ‘penanda’ bahwa kita dari titik mana, menuju kemana dan bentuk nya seperti apa? Anak-anak mungkin masih dipenuhi banyak tanda tanya.
Pak Habib melanjutkan keterangannya bahwa masing-masing kita secara umum memiliki perjalanan kehidupan yang sama yaitu: kita lahir, ada dan hidup kemudian mati artinya tidak ada, nah yang berbeda adalah cerita liku-liku saat dalam hidup kita itu, artinya cerita nya yang berbeda. “Jadi kita ini dari Alloh SWT, kembali lagi kepada Alloh SWT”, :jelas Pak Habib, diukuti anak-anak dengan serempak:” Alloh SWT “.
“Okay, anak-anak Lukisan Cekakik dr. Sulantari ini, titik awalnya adalah sebagai seorang sahabat pena, artinya sahabat yang kenalnya lewat surat-menyurat”: jelas Pak Habib.
Lebih lanjut Pak Habib menjelaskan bahwa surat-menyurat itu bermula sejak tahun 1988, saat sebelum kuliah, sementara Sulantari sudah menjadi seorang dokter dan menjadi kowal dengan pangkat Lettu Laut K/W Lantamal Surabaya, sedangkan dia seorang guru madrasah yaitu MTs Wali Songo Tambakrejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur. Bermuda dari titik inilah kemudian seiring waktu berkembang ke titik-titik berikutnya dengan berbagai kisah yang indah dengan pesonanya masing-masing.
“Anak-anak titik awalnya kamu semuanya bertemu dengan Pak Habib adalah pelajaran ektrakulikuler ‘Lukisan Cekakik’ ini, nah bagaimana nanti titik-titik berikutnya akan menjadi lukisan apa kita belum tahu?”: kata Pak Habib dengan senyum khasnya.
Anak-anak di kelas menjadi betah, Pak Habib mengharapkan agar tugas nya melukis ‘Wajah Gus Iqdam” segera di selesaikan, bagi yang sudah selesai sudah dipasang pigoranya bagi yang belum secepatnya dikerjakan. Pak Habib berkata:
“Anak-anak yang belum selesai bisa men contoh cara teman mu yang sudah selesai, atau men contoh seperti karya Pak Habib ini (sambil menunjukkan lukisan cekakik tutul-tutul/pointilissme dr. Sulantari)”.
“Insyaallah, Pak Habib cerita kan kisah-kisah indah ‘persahatan dengan Bu dokter Sulantari’ pada kesempatan yang berikutnya”: kata Pak Habib.
Pada akhir pelajan anak-anak yang mengalami kendala dipersilahkan mengungkapkan, apa saja kendala nya, dengan santai dan tenang masalah nya anak-anak itu diberikan alternativ pemecahannya misalnya masalah ‘cekakik’ dengan ‘ngopi’ diwarung kopi, habis minum kopi cekakik nya minta dinawa pulang, mendengar keterangannya itu anak-anak sontak ketawa-tawa, namun ketika ada yang bilang belum dapat kanvasnya, langsung disnggupi untuk diambikan, selesai mengajar Pak Habib, langsung pulang mengambil 2 kanvasnya dan balik lagi ke sekolahan, walaupun jaraknya tidak dekat, dua anak tersebut sehabis sholat dhuhur sudah menerima kanvasnya.
Semoga mereka semuanya bersemangat menyelesaikan Lukisan Cekakik nya bertema Gus Iqdam.
Nur Habib, mengabarkan.
