
Oleh : Imam Kusnin Ahmad SH. Wartawan Senior Jawa Timur.
.SEMARANG – Sepak bola Indonesia kembali diguncang insiden memalukan. Kali ini terjadi di ajang Elite Pro Academy (EPA) U-20, saat laga Bhayangkara FC melawan Dewa United di Stadion Citarum, Minggu (19/4/2026). Pemain muda berbakat, Fadly Alberto Hengga, terekam kamera melakukan aksi brutal berupa tendangan kungfu ke arah pemain lawan yang sedang berada di bangku cadangan.
Video yang viral di media sosial langsung memicu kemarahan luas. PSSI bereaksi cepat dengan memerintahkan Komite Disiplin (Komdis) menjatuhkan sanksi seberat-beratnya, bahkan kasus ini disandingkan dengan insiden serupa yang menimpa Muhammad Hilmi di Liga 4 yang berujung larangan bermain seumur hidup. Namun di balik kemarahan publik, pertanyaan besar muncul: Apakah investigasi sudah dilakukan secara menyeluruh mengingat adanya indikasi provokasi sebelumnya? Dan bagaimana nasib pembinaan pemain muda yang pernah mengharumkan nama bangsa di Timnas?
Kronologi dan Dasar Hukum: Pelanggaran Berat yang Tak Bisa Ditoleransi
Insiden bermula dari tensi tinggi pertandingan yang berakhir dengan kemenangan 2-1 untuk Dewa United. Protes terhadap keputusan wasit memicu kericuhan di pinggir lapangan. Di tengah situasi yang memanas, Fadly Alberto yang saat itu menggunakan rompi cadangan tiba-tiba berlari dan melayangkan tendangan keras ke arah tubuh pemain lawan, Rakha Nurkholis.
Aksi ini jelas masuk kategori Violent Conduct atau tindakan kekerasan yang sangat serius dalam aturan sepak bola. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan serangan fisik yang disengaja, apalagi dilakukan terhadap pemain yang tidak sedang bermain dan tidak dalam posisi menguasai bola.
Sebagai perbandingan, kasus serupa pernah terjadi pada awal tahun 2026. Muhammad Hilmi Gimnastiar, pemain Putra Jaya Pasuruan, dihukum larangan bermain seumur hidup oleh Komdis PSSI Jawa Timur setelah melakukan tendangan serupa di Liga 4. Dasar hukumnya jelas: tindakan tersebut dinilai membahayakan keselamatan lawan, mencederai sportivitas, dan merusak citra sepak bola. Logikanya, jika di level akar rumput hukumannya seberat itu, wajar jika publik menuntut standar yang sama bahkan lebih tegas di level kompetisi elit seperti EPA.
Pentingnya Investigasi Menyeluruh: Jangan Lupakan Faktor Pemicu
Meskipun tindakan Fadly salah dan harus dihukum, kita tidak bisa menutup mata terhadap fakta bahwa insiden ini tidak muncul begitu saja. Menurut penjelasan pihak klub dan berbagai sumber, ada indikasi kuat bahwa aksi tersebut dipicu oleh provokasi verbal, bahkan dugaan ujaran rasis yang dilontarkan dari arah bench lawan.
Jika benar demikian, maka proses hukum tidak boleh hanya berhenti pada pelaku fisik. Komdis PSSI harus bekerja ekstra keras melakukan investigasi menyeluruh, memanggil saksi, dan meneliti rekaman suara atau keterangan pihak lain.
Mengapa ini penting? Karena dalam hukum sepak bola, provokasi—terutama yang bersifat rasis atau menghina—juga merupakan pelanggaran berat yang harus disanksi. Jika hanya satu pihak yang dihukum sementara pemicu masalah dibiarkan, keadilan tidak terwujud dan pesan yang disampaikan menjadi tidak utuh. Kekerasan memang salah, tapi membiarkan rasisme atau hinaan berkembang di lapangan juga sama buruknya.
Dilemma Pembinaan: Bakat yang Pernah Mengharumkan Nama Bangsa
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan secara bijak adalah latar belakang Fadly Alberto. Ia bukan pemain sembarangan. Pemain asal Bojonegoro ini adalah mantan penggawa Timnas U-17 dan U-20, sosok yang pernah membela merah-putih dan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ia adalah produk pembinaan yang baik, memiliki bakat alami, dan berada di jalur yang benar menuju karier profesional. Kesalahan fatal yang dilakukan hari ini adalah cerminan dari kegagalan mengendalikan emosi di momen kritis, bukan berarti seluruh karakter dan potensinya buruk.
Di sinilah letak tantangan besar bagi PSSI dan klub. Menjatuhkan hukuman mati atau larangan bermain sangat lama mungkin terlihat adil bagi publik yang marah, namun apakah itu solusi terbaik bagi masa depan sepak bola kita?
Pembinaan pemain muda bukan hanya soal mengajari teknik menendang bola, tapi juga membangun mentalitas dan karakter. Jika seorang pemain muda melakukan kesalahan fatal, hukuman harus tetap diberikan sebagai efek jera, namun harus disertai dengan proses pembinaan ulang yang intensif. Menghapus nama seorang talenta dari peta sepak bola selamanya seolah-olah membuang aset berharga bangsa tanpa memberikan kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri.
Hukuman Tegas, Tetapi Jangan Hilangkan Harapan
Kesimpulannya, tindakan Fadly Alberto memang harus mendapatkan sanksi yang tegas dan berat sesuai aturan yang berlaku sebagai bentuk penegakan hukum dan pelajaran bagi yang lain. Tidak boleh ada kompromi terhadap kekerasan di lapangan hijau.
Namun, prosesnya harus adil dan transparan. Pastikan semua pihak yang terlibat, termasuk yang memprovokasi, juga diproses sesuai kesalahan masing-masing.
Selain itu, mari kita lihat dari sisi kemanusiaan dan pembinaan. Fadly masih muda, masih memiliki banyak waktu untuk belajar dan berubah. Alih-alih langsung memutus nasibnya selamanya, mungkin pendekatan yang lebih bijak adalah memberikan hukuman skorsing yang cukup lama disertai kewajiban mengikuti program pendidikan karakter dan mentalitas.
Sepak bola adalah permainan yang mengajarkan sportivitas, tapi juga memberi kesempatan kedua bagi mereka yang mau berubah. Mari tegakkan aturan, tapi jangan sampai kehilangan bakat berharga hanya karena satu kesalahan fatal.*****
