Trah Bhuju’ Abdul Qidam Arsojih Berkumpul di Asembakor Probolinggo. Ada apa?

 

​Probolinggo– Suasana penuh kehangatan menyelimuti Desa Asembakor, Probolinggo, saat ratusan dzurriyah Bhuju’ Abdul Qidam Arsojih dari seluruh Jawa dan Madura berkumpul dalam agenda silaturahim rutin caturwulanan (26/4/2026).

​Ashabul bait diantaranya KHM Zainullah, KHM Hamsun (Petinggi Desa Asembakor), KH Arief Rahman Hakim (Pengasih Nurul Abror), KH Subhan Mawardi (Pengawas Nurul Abror), dan KH Abdus Sattar. Menariknya, kepemimpinan di Desa Asembakor sendiri secara turun-temurun memang diamanahkan kepada anggota Bani Abdul Qidam.

Diantara tokoh keluarga yang hadir adalah KH Suhdi Minhaji Sumenep, Firman Syah Ali Surabaya, KH Ahmad Yasid Jember, KH Ahmad Zaini Bondowoso, KH Abdul Mughits Mlokorejo Jember, KH Imdad Fahmi Jenggawah Jember, KH Ahmad Syah Torjun Sampang, KH M Husni Kebunagung Kraksaan dll

​Momen mengharukan terjadi saat panitia memberikan apresiasi kepada para sesepuh, salah satunya adalah seorang Nyai berusia 90 tahun yang tetap aktif hadir. Semangat serupa juga ditunjukkan oleh anggota keluarga yang sedang sakit maupun yang harus menggunakan tongkat, namun tetap semangat hadir demi menyambung sanad saudara.

​Pada kesempatan itu, KH Muh Hasyim Wafir dari Kaseyan, Puger, Jember, menekankan pentingnya dokumentasi silsilah. Beliau mengusulkan agar susunan nasab dibuat rapi dalam format digital (PDF) agar mudah diakses oleh generasi muda melalui grup koordinasi keluarga.

​Selain urusan silsilah, pertemuan ini juga diharapkan menjadi ajang ta’arruf bagi pemuda-pemudi Dzurriyah Abdul Qidam Arsojih yang belum menikah. Muncul harapan besar agar para Potoh Bhuju’ (cucu buyut) bisa berjodoh di dalam lingkaran keluarga sendiri. Hal ini didasari filosofi bahwa hubungan sepupu yang jauh pun bisa kembali menjadi sangat dekat melalui ikatan pernikahan.

Sementara Firman Syah Ali, yang hadir sebagai Sub Batuampar, Arsojih dan Rabah menyatakan bahwa Trah Walisongo di Madura harus solid dan sering silaturahim.

“Kegiatan caturwulanan ini merupakan bagian dari ikhtiar Trah Walisongo di Madura untuk selalu solid, kompak dan silaturahim. Pertama, agar terjadi internalisasi ajaran walisongo. Kedua, agar keaslian genealogi trah Walisongo tidak dirusak orang luar. Ketiga, agar Bani Walisongo selalu dapat pahala silaturahim dan barokah yang besar. Trah Bhuju’ Abdul Qidam Arsojih sebagai salah satu ranting dari Bani Walisongo terus bersilaturahim dalam rangka itu semua” ucap keponakan Mahfud MD.

​Sebagai penutup, panitia menyampaikan wacana bahwa pertemuan caturwulan berikutnya akan dilaksanakan di Kudus, Jawa Tengah.