“Jelang Muktamar NU: Saatnya Kita Jaga Dapur Indonesia Bhinneka Tunggal Ika dari meja lebaran orang Pandeglang”

Oleh: Diar Mandala
Kolumnis kampung dari Pandeglang.

Tulisan ini opini pribadi untuk merawat persatuan jelang Muktamar NU. Bukan sikap resmi organisasi mana pun.

Muktamar Nahdlatul Ulama sebentar lagi. Di tengah riuh persiapan, ada satu hal yang tak boleh lupa kita jaga: dapur Indonesia.

Sejak 1926, NU berdiri bukan hanya untuk mengurus fikih dan akidah, tapi juga menjaga dapur ini tetap menyala. Pesan KH. M. Hasyim Asy’ari jelas: “Barangsiapa mengurus NU saya anggap santriku. Siapa yang jadi santriku saya doakan husnul khatimah.” Mengurus NU artinya mengurus ukhuwah dan kebangsaan sekaligus. Mengurus dapur agar semua kebagian makan.

Saya orang kampung. Di Pandeglang, tiap Lebaran meja kita penuh: ada opak dari Malingping, gipang dari Menes, apem dari Kadubumbang. Beda desa, beda resep. Opak pakai ketan, gipang pakai jahe, apem pakai tepung beras. Rasanya tidak sama. Tapi semua duduk bareng di satu nampan. Namanya tetap kue Lebaran.

Dapur Indonesia juga begitu. Bahannya macam-macam: Jawa, Sunda, Batak, Bugis, Papua. Resepnya beragam: Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu. Tapi kita masak di satu dapur yang sama, namanya NKRI. Itulah Bhinneka Tunggal Ika.

Kalimat itu lahir dari Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular abad ke-14: “Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”. Artinya: berbeda-beda itu, satu itu, tak ada kebenaran yang mendua.

Maksudnya bukan semua resep dicampur jadi satu adonan. Tapi: beda itu takdir Allah, tujuan kita satu: dapur yang adil dan masakan yang halal. Opak tetap opak, gipang tetap gipang. Tidak perlu saling memaksa. Tapi semua sepakat: kita buat Lebaran jadi manis.

Prinsip inilah yang dipegang NU dalam sejarah. Hasilnya nyata: Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang menggerakkan santri menjaga dapur Indonesia dari penjajah, penerimaan Pancasila sebagai mitsaqan ghalizan atau perjanjian luhur, hingga tiga pilar ukhuwah: ukhuwah islamiyah persaudaraan sesama Muslim, ukhuwah wathaniyah persaudaraan sebangsa, dan ukhuwah basyariyah persaudaraan sesama manusia karena kita sama-sama ciptaan Allah.

Hari ini, menjelang Muktamar, tantangan di dapur kita masih sama: ada yang suka mengadu resep. Dulu Belanda pakai politik devide et impera. Sekarang, modusnya berganti wajah jadi hoaks dan provokasi di media sosial. Tujuannya tetap satu: membuat kita lupa kalau kita satu nampan.

Ciri-cirinya mudah dikenali: akun anonim yang gemar mengkafirkan, judul berita yang memancing amarah, dan ajakan untuk membenci sesama koki di dapur ini. Padahal, Allah sudah perintahkan di QS. Al-Hujurat ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti…” Itulah tabayyun, kompor yang harus kita kecilkan apinya sebelum gosong.

Aturan main di dapur Indonesia ini sudah ditulis para pendiri bangsa. Namanya Pancasila. Sila Pertama: boleh beda Tuhan, tapi tidak boleh memaksa resep orang. Sila Ketiga: Persatuan Indonesia. Artinya boleh debat bumbu dalam bahtsul masail, tapi jangan bakar dapurnya. Sila Kelima: Keadilan sosial. Artinya semua harus kebagian nasi, jangan hanya yang dekat kompor.

Karena itu, Muktamar bukan sekadar forum memilih ketua umum. Ini momentum meneguhkan kembali khittah 1926: NU sebagai penjaga dapur agar apinya tidak mati dan pancinya tidak gosong.

Sebagai warga nahdliyin, tugas kita sederhana:
1. Setop sebarkan kabar yang mengadu domba, apalagi sesama penghuni dapur NU.
2. Bedakan lawan diskusi dengan lawan akidah. Beda pilihan di Muktamar itu wajar, tapi jangan sampai menuduh sesat.
3. Jaga marwah Muktamar sebagai musyawarah tertinggi, bukan panggung saling melempar panci.

Saya hanya kolumnis kampung. Tapi saya tahu: kalau dapur ini kotor dan ribut, yang lapar kita semua. Yang senang hanya tikus yang ingin maling berasnya.

Kita boleh beda resep. Tapi jangan pernah lupa: kita satu dapur. Namanya Nahdlatul Ulama, baktinya untuk Indonesia. Kalau dapur ini kebakaran, kita semua tidak akan kebagian Lebaran kemerdekaan.

Wallahu a’lam bishawab.