
Prof. Mahmud Mustain, AI-Assisted Writing
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
Pernahkah kita menyadari bahwa jutaan manusia yang berputar mengelilingi Ka’bah setiap hari memiliki pola yang serupa dengan gerakan planet di alam semesta?
Pernahkah kita berhenti sejenak saat melihat jutaan manusia berputar mengelilingi Ka’bah?
Tidak ada komando pusat. Tidak ada aba-aba yang terdengar. Namun, semuanya bergerak dengan arah yang sama—melingkar, tertib, dan nyaris tanpa tabrakan. Sebuah pemandangan yang bukan hanya menggetarkan hati, tetapi juga mengundang akal untuk berpikir.
Fenomena ini disebut thowaf. Secara spiritual, ia adalah bentuk ketaatan total kepada Allah SWT. Namun jika kita renungkan lebih dalam, gerakan ini menyimpan pesan yang jauh lebih luas—bahkan menyentuh rahasia keteraturan alam semesta.
Di langit yang luas, planet-planet berputar mengelilingi matahari. Elektron bergerak mengelilingi inti atom. Galaksi pun berputar dalam struktur kosmik yang sangat besar. Semuanya bergerak dalam pola yang sama: melingkar, teratur, dan memiliki pusat.
Lalu kita bertanya: kebetulan atau isyarat?
Thowaf tidak sedang mengajarkan fisika. Ia bukan laboratorium sains. Namun ia menghadirkan sebuah simbol kuat—bahwa kehidupan yang seimbang membutuhkan pusat orientasi.
Dalam thowaf, pusat itu adalah Ka’bah. Dalam kehidupan, pusat itu adalah nilai. Dalam Islam, pusat itu adalah tauhid.
Tanpa pusat, gerakan menjadi kacau. Tanpa arah, energi menjadi destruktif. Inilah yang kita saksikan hari-hari ini: konflik, krisis moral, dan ketidakseimbangan sosial—semuanya berakar pada hilangnya pusat nilai dalam kehidupan manusia.
Menariknya, jutaan manusia dalam thowaf mampu bergerak harmonis tanpa koordinasi teknis yang rumit. Ini menunjukkan bahwa keteraturan tidak selalu lahir dari kontrol eksternal, tetapi dari kesadaran internal yang sama.
Dalam bahasa modern, ini mirip dengan konsep “self-organizing system”—di mana keteraturan muncul secara alami karena setiap bagian memahami perannya.
Bayangkan jika prinsip ini diterapkan dalam kehidupan sosial.
Jika manusia memiliki “pusat nilai” yang sama—keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan—maka harmoni bukanlah utopia. Ia menjadi keniscayaan.
Di sinilah kita melihat bahwa agama dan sains tidak selalu harus berseberangan. Keduanya bisa saling menyinari.
Sains membantu kita memahami “bagaimana” alam bekerja.
Agama membantu kita memahami “untuk apa” kita hidup.
Ketika keduanya bertemu, lahirlah kesadaran baru: bahwa manusia bukan sekadar bagian dari alam, tetapi juga penjaga harmoni di dalamnya.
Thowaf, dalam konteks ini, bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah pelajaran hidup. Ia adalah metafora peradaban.
Kita semua sedang bergerak. Pertanyaannya: apakah kita memiliki pusat?
Jika tidak, kita hanya berputar tanpa arah.
Jika ya, kita sedang membangun orbit kehidupan yang stabil.
Dari sinilah, mungkin, perdamaian dunia bisa dimulai—bukan dari kekuatan senjata, tetapi dari kesadaran bersama akan satu pusat nilai.
Dan mungkin, dari lingkaran kecil orang-orang yang berpikir, merenung, dan mencari makna—akan lahir perubahan besar. Semoga bisa demikian aamiin.
Wallahu a’lam bish-showab.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Mekkah,
03 Syawal 1447
atau
23 Maret 2026
m.mustain
