
By : Jacob Ereste :
Tradisi pulang mudik telah menjadi bagian dari budaya warga masyarakat Indonesia untuk merayakan hari-hari tertentu seperti Lebaran maupun hari raya Natal dan tahun baru bersama sanak keluarga, famili dan handai taulan lainnya. Tradisi mudik sungguh baik secara ekonomi maupun budaya, karena peredaran uang dan roda ekonomi akan menggelinding sampa ke pelosok desa, dimana sebelumnya — pada hari biasa — nyaris tidak terjamah dan tidak merata distribusi secara ekonomi pada hari-hari biasa. Maka itu, momentum Lebaran atau perayaan Natal bersama keluarga di kampung halaman, memiliki nilai yang baik, setidaknya untuk merekatkan kembali jalinan persaudaraan dan pertemanan yang ada di desa atau kampung halaman agar tidak sampai melekang.
Kecuali itu, dalam perspektif budaya, acara pulang mudik membuktikan adanya keterikakan spiritual maupun emosional dari masyarakat urban di perkotaan dengan sahabat, kerabat serta keluarga yang masih ada di kampung halaman. Artinya, akar budaya dari warga masyarakat yang merasa memiliki nilai tambah dari acara mudik ini masih terpelihara, dan belum sepenuhnya tercerabut dari akar budaya tradisional dari tempat asal kelahiran.
Karena itu, berbahagialah bagi siapa saja yang masih memiliki kesempatan mudik. Sekalian untuk menjaga dan memperkyat tradisi mudik, sebagai bagian dari kekayaan budaya yang khas, meski acapkali harus dilakukan dalam kondisi yang terpaksa, lantaran tidak cukup mempunyai dana ekstra untuk memenuhi segenap hasrat selama mudik di kampung halaman serta keinginan untuk berbagi kepadakeluarga, saudara serta sahabat pada masa lalu yang sangat mungkin akan pulang ke kampung juga pada saat yangsama, setekah sekian lama — seperti kita — yang telah merantau atau mencari oeng hidupan di daerah lain.
Karena itu banyak hal — tak hanya sekedar finansial atau semacam buah tangah yang perlu dipersiapkan — untuk semua anggota keluarga, saudara dan sahabat yang masih setia menunggu kampung halaman hingga tidak kosong dan merana ditinggal oleh semua warga untuk merantau, tapi juga bisa memberi banyak peluang untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik dan membahagiakan. Tidak hanya dalam arti finansial, tetapi juga untuk hal-hal yang bermakna dan bernilai spiritual.
Apalagi momentum untuk pulang mudik ke kampung halaman ini tidak semua dapat dilakukan oleh warga masyarakat lantaran berbagai alasan, mulai dari masalah dana, waktu hingga alasan lain yang memungkinkan tidak dapat melakukan pulang kampung untuk menikmati acara yang pasti membahagiakan dan juga menyenangkan, karena bisa mengenang sejumlah nostalgia masa lalu yang mungkinsudah samar-samat dalam memori ingatan yang nyaris hilang. Maka itu, kesempatan pulang mudik ke kampung halaman yang tepat waktunya — namun tidak bisa dilakukan ketika itu juga — bisa membua rasa kecewa dan nelangsa yang perlu untuk dijinakkan agar tidak berkembang liar hingga menimbulkan kerugian yang tidak perlu menambah beban hidup hari ini yang semakin terasa berat.
Kendati begitu, acara mudik ke kampung halaman — meskipun mahal dan capek — tetap membahagiakan hati. Sebab pengalaman bathin yang baru akan diperoleh, setidaknya memperkaya khazanah kejiwaan yang tidak bisa dikonversikan dalam bentuk apapun. Karan acara pulang mudik ke kampung halaman seperti upacara ritual yang tersamar antara realitas historikal yang menyimpan energi dan gairah hidup dan kehidupan selanjutnya untuk etos dan semangat menggamit masa depan yang lebih baik dan membahagiakan.
Rawa Gelam, 20 Maret 2026
