
Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
Jika kita membuat model konseptual (bukan angka pasti), dengan asumsi:
1. Perdamaian global hanya dapat bertahan jika berbasis moral dan spiritualitas.
2. Perpecahan mencapai puncaknya dalam bentuk perang.
Maka kita bisa memperkirakan rasio progres perdamaian vs perpecahan melalui beberapa indikator sejarah dan sosial.
REALITAS HISTORIS PERADABAN
Jika melihat sejarah manusia selama ribuan tahun:
1. Masa perang dan konflik sangat dominan dalam sejarah politik manusia.
2. Masa perdamaian stabil biasanya lebih pendek dan bersifat regional.
Namun menariknya, setelah tragedi besar seperti World War I dan World War II, manusia mulai membangun institusi global seperti United Nations untuk menahan konflik. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban belajar dari kehancuran.
MODEL RASIO KONSEPTUAL
Jika dirumuskan secara filosofis:
1. Perpecahan → cepat meningkat
2. Perdamaian → lambat tetapi stabil
Hal ini karena:
1. Konflik dipicu emosi, kepentingan, dan kekuasaan
2. Perdamaian membutuhkan kesadaran moral, pendidikan, dan kedewasaan spiritual
Secara konseptual kita bisa mengestimasi dalam Dimensi sebagai berikut:
1. Rasio Perkembangan
* Perpecahan (menuju konflik/perang) ±60–70% dinamika sejarah
* Perdamaian berbasis moral
±30–40% dinamika sejarah
Artinya:
Perpecahan berkembang lebih cepat daripada perdamaian, tetapi perdamaian lebih berkelanjutan jika fondasinya moral dan spiritual.
2. Paradox Peradaban
Ada paradoks menarik:
* Teknologi berkembang sangat cepat.
* Moralitas global berkembang jauh lebih lambat.
Akibatnya:
kapasitas perang meningkat lebih cepat daripada kapasitas perdamaian.
Contoh nyata terlihat dalam perkembangan senjata sejak abad ke-20 setelah Hiroshima and Nagasaki atomic bombings.
Namun di sisi lain, kesadaran global tentang kemanusiaan juga meningkat melalui hukum internasional, diplomasi, dan kerja sama global.
3. Jika Moral-Spiritual Menguat
Jika moral dan spiritualitas benar-benar menjadi basis global, maka rasio bisa berubah drastis.
Model ideal:
Kondisi Peradaban
Rasio Perdamaian
Tanpa basis moral
±30–40%
Moral parsial
±50–60%
Moral & spiritual kuat
±70–80%
Artinya perdamaian bukan mustahil, tetapi memerlukan transformasi kesadaran manusia, bukan hanya sistem politik.
4. Perspektif Filosofis-Spiritual
Dalam perspektif spiritual, perang sering muncul ketika manusia:
* kehilangan kendali moral
* dikuasai keserakahan
* menjadikan kekuasaan sebagai tujuan utama.
Sedangkan perdamaian lahir ketika manusia:
1. mengakui nilai kemanusiaan universal
2. menahan ego kolektif
3. menghidupkan nilai keadilan dan kasih sayang.
Dengan kata lain:
* perang adalah ekspresi puncak ego kolektif,
* sedangkan perdamaian adalah ekspresi puncak kesadaran moral manusia.
KESIMPULAN KONSEPTUAL
Jika dihitung secara filosofis:
1. Rasio perkembangan perpecahan : perdamaian ≈ 60 : 40
Namun masa depan bisa berubah menjadi:
2. Perdamaian : Perpecahan ≈ 70 : 30
jika moralitas dan spiritualitas benar-benar menjadi fondasi peradaban global. Hal ini sangat logis melihat terus menggeliatnya filsafat bidang aksiologi, moral, dan spiritialitas. Semoga bisa demikian aamiin. WaAllahu a’lam bish-showaab.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Mekkah,
17 Romadlon 1447
atau
06 Februari 2026
m.mustain
