بسم الله *Apakah Kamu yang Menumbuhkan Pohon*

 

Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)

Orang kebanyakan mengatakan bahkan meyakini bahwa yang menyebabkan kenyang itu makan. Analog juga api itu menyebabkan panas, pinter itu disebabkan belajar, dan sebagainya. Apakah manusia lahir selalu dari keberadaan Ayah dan Ibu. Sebab dzohir memang iya, tetapi hidup ini ada unsur bathin yang tidak banyak diketahui orang.

QS Al-Wāqi‘ah (56): 71–72 menjelaskan hakekatnya segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT, yakni (Modified AI, 2026):
Ayat: 71
أَفَرَأَيْتُمُ النَّارَ الَّتِي تُورُونَ
Artinya:
Maka apakah kamu memperhatikan api yang kamu nyalakan?

Ayat 72,
أَأَنتُمْ أَنشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا أَمْ نَحْنُ الْمُنشِئُونَ
Artinya:
Kamukah yang menumbuhkan pohon untuk api itu atau Kamikah yang menumbuhkannya?

Tafsir dua ayat ini, Allah SWT mengajak manusia berpikir dan merenung tentang hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu api.

Ayat 71
Allah bertanya secara retoris tentang api yang manusia nyalakan. Api yang tampak sederhana ini sebenarnya adalah nikmat besar yang sering dianggap biasa.

Ayat 72
Allah menegaskan bahwa manusia bukan pencipta sejati dari sumber api tersebut. Pohon (atau bahan bakar) yang darinya api dihasilkan diciptakan dan ditumbuhkan oleh Allah, bukan oleh manusia.

Manusia hanya memanfaatkan, sedangkan pencipta hakiki adalah tetap otoritas tunggal yaitu Allah SWT. Tetapi secara umum Allah SWT menciptakan ciptaannya dengan cara yang masuk akal, tetapi juga ada sebagian kecil sekali yang tidak masuk akal.

Sekian banyak orang tidak pernah makan tetapi merasa tetap kenyang. Sebaliknya sudah makan banyak makanan tetapi masih juga lapar, bahkan aspal semen besi juga dimakan (kinayah, sindiran) masih juga lapar. Ini artinya yang menyebabkan rasa kenyang hakekatnya bukan makan, yakni pemberian rasa dari Allah SWT.

Sekian banyak orang pinter tanpa belajar dan sekian banyak orang sudah banyak belajar tapi tidak/belum juga pinter. Ini artinya jelas bahwa yang memberi kepinteran itu bukan belajar tetapi pemberian Allah SWT. Sedangkan belajar, makan, bekerja dll itu ikhtiyar dzohir yang bersifat wajib. Urusan rizqi, pinter, kenyang itu hal yang berbeda yakni ansikh urusan Allah SWT.

Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS tanpa ayah dan tanpa ibu. Allah SWT menciptakan Siti Hawa tanpa ibu dengan Ayah, menciptakan Nabi Isa AS dengan ibu tanpa ayah. Allah SWT menciptakan sekian milyar selain tiga orang tersebut melalui ayah dan ibu.

Alhasil, semua dinamika ciptaan Allah SWT ini secara umum ditampilkan dalam bentuk dan mekanisme yang masuk akal. Padahal hakekat yang sesungguhnya adalah yang tidak masuk akal seperti yang dicontohkan dalam banyak hal tersebut.

Point-point utama dari artikel ini adalah (Modifief AI, 2026):
1. Menegaskan kekuasaan Allah atas alam.
2. Mengingatkan manusia agar tidak sombong dengan kemampuan teknologi
3. Mengajak untuk bersyukur atas nikmat yang sering diremehkan
4. Menjadi bukti bahwa Allah Maha Kuasa menghidupkan dan mematikan, sebagaimana Allah SWT menciptakan api dari benda mati.
5. Ikhtiyar dzohir (dan bathin) manusia tidak mesti memastikan hasil yang sepadan secara logika, tetapi mutlak bergantung Allah SWT.

Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.

Surabaya,
21 Sya’ban 1447
atau
08 Februari 2026
m.mustain