
BLITAR – Sebanyak 65 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari empat kecamatan di Kabupaten Blitar, yaitu Selorejo, Kesamben, Binangun, dan Doko, berkumpul dalam acara Ngaji Bisnis bertema “Bisnis Jajanan Lebaran”. Kegiatan yang diselenggarakan oleh PC LPNU Kabupaten Blitar bersama MWC LPNU Selorejo ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengusaha lokal sekaligus memperkuat ekonomi umat Nahdlatul Ulama (NU).
Digelar di Balai Desa Ngrejo Selorejo pada Sabtu (31/1/2026) pukul 09.00 hingga 16.00 WIB, acara ini bukan hanya wadah pembelajaran teknis, tetapi juga momentum kolaborasi untuk melestarikan budaya kuliner lokal yang kaya nilai sejarah dan emosional. Acara dibuka langsung oleh Ketua Lembaga Ekonomi PC NU Kabupaten Blitar H. Khumaidi Musafa, yang menyatakan bahwa kegiatan ini hadir sebagai jawaban atas tantangan utama pengusaha jajanan tradisional – kurangnya inovasi produk, strategi pemasaran yang terbatas, dan manajemen usaha yang belum terstruktur.
Menurut Khumaidi, data terbaru menunjukkan permintaan jajanan lebaran seperti kue kering, dodol, dan jenang meningkat hingga 40% setiap tahun menjelang Idul Fitri. Potensi ini menjadi peluang emas yang siap digarap secara profesional melalui empat pilar strategis yang disampaikan oleh narasumber handal.
*Pilar 1: Teknologi Ai Sebagai Alat Game Changer Untuk Produk Dan Promosi*
Disiarkan oleh Endrik Krisanto dari Omah Jenang, materi ini menguraikan bagaimana kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat diintegrasikan ke dalam operasional UMKM dengan biaya minimal, bahkan tanpa keahlian teknis mendalam.
“Pemanfaatan AI Gemini berperan sebagai fotografer dan desainer virtual yang mampu menghasilkan gambar produk dengan kualitas profesional,” jelas Endrik. Pada sesi praktik, peserta diajarkan cara memasukkan deskripsi rinci – mulai dari tekstur jenang yang lembut, warna kue kering yang menarik, hingga kesegaran bahan baku lokal – agar AI menghasilkan visual yang menggugah selera dan menyoroti nilai keaslian produk. Hal ini secara signifikan menghemat biaya jasa profesional dan memberikan fleksibilitas dalam mengikuti tren pasar.
Selain itu, AI ChatGPT digunakan untuk menyusun konten teks promosi yang efektif, seperti caption media sosial yang komunikatif, penjelasan manfaat produk yang mudah dipahami, dan slogan yang mudah diingat. “AI juga memberikan rekomendasi tata letak flyer yang sesuai target pasar – baik untuk konsumen keluarga yang mencari hadiah berkelas, maupun generasi muda yang menyukai kemasan kekinian dengan sentuhan budaya lokal,” tambahnya.
*Pilar 2: Jajanan Lebaran – Dari Warga Tradisional Menjadi Produk Berdaya Saing*
Materi kedua disampaikan oleh Nur Miati dari Daff Copy, yang membuka dengan pemahaman mendasar: jajanan lebaran bukan sekadar makanan, melainkan simbol budaya dan emosional yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi perayaan Idul Fitri.
“Permintaan yang terus meningkat setiap tahun menjadi peluang untuk mengembangkan variasi produk yang seimbang antara klasik dan inovatif,” ungkap Nur Miati. Sebagai contoh, resep dodol khas yang telah ada puluhan tahun dapat dikembangkan dengan varian rasa baru seperti coklat pandan atau buah naga, tanpa mengorbankan cita rasa asli. Strategi ini tidak hanya menarik konsumen lama, tetapi juga menjaring pasar baru dari kalangan muda.
Nur Miati juga menekankan bahwa kemasan adalah alat pemasaran pertama. Kemasan yang baik harus memenuhi tiga syarat utama: aman untuk kesehatan, ramah lingkungan, dan memiliki identitas visual yang jelas. Bagi produk yang digunakan sebagai hadiah, kemasan dengan elemen budaya lokal seperti ukiran khas atau warna tradisional dapat meningkatkan nilai tambah secara signifikan.
Komunikasi produk dilakukan melalui dua saluran utama:
– Media Sosial: Peserta diajarkan membuat konten menarik, menggunakan hashtag relevan seperti #JajananLebaranKhasBlitar atau #ProdukUMKMNU, serta berinteraksi aktif dengan pelanggan.
– Gerai Langsung: Penekanan pada penataan produk yang rapi, pelayanan ramah, dan penyajian informasi lengkap tentang bahan baku dan proses pembuatan – hal yang dicari oleh konsumen yang peduli dengan kualitas dan keamanan makanan.
*Pilar 3: Dari Umkm Ke Ukm – Jalan Konkret Untuk Menaikan Skala Usaha*
Materi ketiga disampaikan oleh Muhtaromin dari Kampung Grabah Kademangan, yang menyatakan bahwa setiap UMKM memiliki potensi untuk berkembang menjadi UKM jika mampu mengidentifikasi kekuatan lokal dan menerapkan langkah pengembangan yang terstruktur.
Ia mengambil contoh sukses Kampung Grabah Kademangan, yang menjadikan keunggulan daerah sebagai modal utama: “Bahan baku lokal yang mudah diperoleh dan berkualitas tinggi, resep tradisional yang dikenal masyarakat, serta nilai budaya yang kuat dapat dijadikan dasar untuk membangun produk dengan ciri khas yang sulit ditiru,” jelas Muhtaromin.
Ia mengajak peserta untuk melakukan riset pasar lokal, berkolaborasi dengan petani dan produsen bahan baku setempat, serta mengembangkan produk yang menjadi “wajah khas” daerah masing-masing. “Kolaborasi antar UMKM juga dapat meningkatkan daya tarik produk lokal, misalnya dengan membuat paket bundling jajanan lebaran dari berbagai usaha yang saling melengkapi,” tuturnya.
Kiat-kiat naik kelas yang teruji yang disampaikan meliputi:
1. Sumber Daya Manusia: Melatih karyawan dengan keterampilan standar industri dan membangun struktur kerja yang jelas.
2. Sistem Produksi: Memperbaiki proses pembuatan agar lebih konsisten, memenuhi standar keamanan pangan nasional, dan mampu memenuhi pesanan dalam jumlah besar.
3. Pemasaran Luas: Mengembangkan jaringan luar daerah melalui kemitraan dengan toko ritel, penjualan daring, dan mengikuti pameran UMKM.
4. Keuangan Profesional: Membuat perencanaan anggaran jelas, mencatat transaksi dengan akurat, dan menjaga likuiditas usaha.
*Pilar 4: Legalitas Sebagai Dasar Kelangsungan Dan Profesionalisme Usaha*
Materi keempat disampaikan oleh Septian Yuga Pramudi, yang menjelaskan bahwa banyak pelaku UMKM tradisional menganggap legalitas sebagai beban, padahal ia adalah fondasi yang menjamin usaha dapat berkembang dengan aman dan mendapatkan akses ke berbagai fasilitas pendukung.
“Standarisasi kualitas produk harus dipenuhi, termasuk prosedur pengajuan izin edar makanan jika diperlukan,” katanya. Pendaftaran merek dagang juga disampaikan sebagai langkah penting untuk melindungi hak kekayaan intelektual, terutama bagi produk dengan resep atau ciri khas unik. “Dengan legalitas yang jelas, konsumen akan lebih percaya dan bersedia membayar harga yang sesuai dengan kualitas,” tambahnya.
Septian juga menjelaskan tentang pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) – identitas resmi usaha yang menjadi kunci untuk mengakses kredit usaha dengan bunga ringan, pelatihan pemerintah gratis, dan kemitraan dengan perusahaan besar. Peserta mendapatkan panduan lengkap cara mengurus NIB secara online melalui portal resmi, mulai dari persiapan dokumen (KTP, NPWP, surat izin lokasi usaha), tahapan verifikasi, hingga penerbitan.
Selain itu, materi membahas tentang Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) – kode yang mengklasifikasikan jenis usaha dan menjadi dasar pemerintah dalam memberikan dukungan yang sesuai. Ia menjelaskan cara memilih KBLI yang cocok dan proses perubahan jika usaha akan diperluas, misalnya dari pembuatan produk menjadi penyedia paket catering atau kelas memasak tradisional. Panduan praktis tentang manajemen keuangan sederhana juga diberikan sebagai kunci untuk memantau perkembangan usaha.
*UNKN NU – Penopang Ekonomi Umat Yang Berdaya Saing*
Acara Ngaji Bisnis ini berhasil memberikan pemahaman komprehensif tentang bagaimana mengoptimalkan bisnis jajanan lebaran melalui empat pilar strategis yang saling terkait. Para peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis, tetapi juga semangat untuk mengembangkan usaha dengan lebih profesional dan penuh kebanggaan akan nilai budaya yang mereka miliki.
“UMKM NU menjadi penopang ekonomi umat dalam menghadapi ekonomi global yang tidak menentu,” ujar H. Khumaidi Musafa. Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat, lanjutnya, inovasi menjadi kunci utama – mulai dari variasi rasa, kemasan ramah lingkungan, penerapan sistem pemesanan online, hingga pemanfaatan teknologi seperti AI.
Dengan semangat gotong royong yang kental dalam komunitas NU, para pelaku UMKM diharapkan mampu saling mendukung dan mengembangkan produk unggulan lokal yang tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjadi pelopor pelestarian budaya kuliner Indonesia di kancah nasional bahkan internasional.*Imam Kusnin Ahmad*
