MENELUSURI JEJAK IBNU BATUTAH: SANG PENJELAJAH MUSLIM TERHEBAT

Diar Mandala: Pembela Aqidah dan Sejarah Islam.

Diar Mandala adalah seorang tokoh yang berdedikasi dalam membela aqidah dan sejarah Islam di Indonesia. Dengan latar belakang keluarga yang religius, Diar Mandala telah menorehkan jejak perjuangannya dalam meluruskan ajaran-ajaran yang menyimpang dan mempertahankan tradisi-tradisi Islam.

Dalam kesempatan ini Sayyid Diar Mandala menceritakan tentang petualangan Ibnu Batutah.
Ibnu Batutah, seorang penjelajah Muslim terhebat sepanjang masa, lahir pada 24 Februari 1304 M di Tangier, Maroko. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Batutah bin Muhammad al-Latwi al-Tanji. Ia berasal dari keluarga berdarah Arab yang menetap di Tangier, Maroko, sejak abad ke-8 M.

Apa yang membuat Ibnu Batutah begitu istimewa? Ia melakukan perjalanan yang lebih luas dan lama daripada Marco Polo, tanpa didanai oleh kerajaan atau negara. Semata-mata karena semangat keilmuan dan keagamaan, ia menjelajahi dunia selama 28 tahun, melintasi lebih dari 120.000 km dan 44 negara.

Perjalanan Awal:
Ibnu Batutah memulai perjalanannya dari Tangier, Maroko, menuju Mesir, lalu ke Jazirah Arab, dan Syam. Ia kemudian menuju Asia Kecil (Turki sekarang), Semenanjung Krimea (Ukraina sekarang), dan Sungai Volga selatan (bagian selatan Rusia sekarang).

Menjelajahi Dunia
Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya ke timur, mengunjungi Khawarizm, Bukhara, Kurdistan, Afganistan, dan India. Di India, ia tinggal selama delapan tahun dan menjadi hakim di Delhi. Ia kemudian menuju Kepulauan Maladewa, Asia Tenggara (termasuk Indonesia dan Malaysia), dan Cina.

Di Indonesia, Ibnu Batutah tiba di Samudra Pasai, Aceh, pada tahun 1345 M. Saat itu, Samudra Pasai merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar di Nusantara. Ia mencatat pengalamannya di Samudra Pasai dalam buku “Rihlah Ibnu Batutah”, dan menyebutkan bahwa masyarakat Samudra Pasai sangat religius dan taat beragama Islam.

Kembali ke Rumah:
Setelah menuntaskan safar panjangnya, Ibnu Batutah kembali ke Maroko pada tahun 1347 M. Ia kemudian menuliskan kisah perjalanannya dalam buku “Rihlah Ibnu Batutah”, yang menjadi salah satu catatan perjalanan terpenting dalam sejarah.

Pelajaran dari Petualangan Ibnu Batutah:
Ibnu Batutah tidak hanya menceritakan hal besar, tetapi juga hal-hal kecil yang detail. Ia mencatat kebudayaan, sejarah, politik, dan kehidupan sehari-hari masyarakat yang ia kunjungi. Petualangannya mengajarkan kita tentang keberanian, ketekunan, dan rasa ingin tahu.

Referensi:
[1] Ibn Battuta, Rihlah Ibnu Batutah.