Amplop Dakwah Tidak Dikenal Zaman Walisongo. Dikenal Saat Ini

*MENELUSURI JEJAK AMPLOP DALAM BERDAKWAH : TELA’AH HISTORIS DAN SOSIOLOGIS*
*) H. Dien At-Tasiki

*MASA WALISONGO HINGGA ABAD KE 17*
Pada masa Wali Songo hingga abad ke-17: dakwah dilakukan sebagai pengabdian, karena ulama hidup dari :
1. Bertani
2. Wakaf
3. Pesantren mandiri
4. Patronase kerajaan

Ceramah tidak dikomersialkan, karena hubungan ulama dan umat bersifat organik, bukan transaksional.

*Pada masa ini, tidak dikenal “honor ceramah”, apalagi amplop.*

*ZAMAN KOLONIAL DAN MASA LAHIRNYA ORMAS KEAGAMAAN*
Pada masa lahirnya Muhammadiyah (1912) dan NU (1926). Para mubaligh umumnya tokoh lokal, kalaupun diberi sesuatu:
1. Dalam bentuk hidangan atau oleh-oleh.
2. Transport sederhana dan alakadarnya

*Hal itupun diberikan diam-diam, bukan sebagai standar dan belum masuk kategori disebut “amplop mubaligh”, lebih tepat “tanda terima kasih”.*

*TITIK PERUBAHAN: 1970–1980*
Inilah fase penting dan faktor pemicunya adalah:;
1. Urbanisasi masif
2. Dakwah booming di perkotaan
3. Digelar di gedung dengan acara formal
4. Jadwal ceramah padat dan lintas kota

Di era Orde Baru: menjadikan agama bagian dari stabilitas sosial, banyak acara resmi bernuansa keagamaan.

*Dari sinilah mulai honorarium terstruktur ; sehingga amplop menjadi simbol administratif, bukan sekadar hadiah.*

*NORMALISASI PENUH DI ERA 1990– 2000, STATUS MUBALIGH MENJADI :*
1. Profesi
2. Karier
3. Da’i nasional & Da’i Kondang

Tarif ceramah (awalnya diam-diam lalu terang-terangan) dan media televisi mempercepat proses ini.

*Sehingga amplop bukan lagi “jika ada”, tapi “jika tidak ada” Jadi Aneh*

*CATATAN PENTING !*
*Amplop bukan sesuatu hal yang tabu, namun bisa menjadi masalah etika dakwah bila :*
1. Menjadi syarat
2. Menentukan isi ceramah
3. Menghilangkan keikhlasan

# *SALAM : JEJAK DAKWAH DALAM FASE PERUBAHAN ZAMAN*
_______
Sumber FB Miftah Fauzi