Keris Kiai Naga Sasra

By :  Ki Ageng Aminoto.

Pusaka Kanjeng Sunan Ampel

Keris Kiyai Naga Sastra dikenal sebagai salah satu pusaka agung yang sarat makna spiritual dan filosofi dakwah. Dalam tradisi tutur Jawa–Islam, keris ini diyakini pernah menjadi pusaka Sunan Ampel (Raden Rahmat), salah satu Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.
Nama “Naga Sastra” berasal dari dua unsur makna:

Naga, melambangkan kekuatan, kewibawaan, penjaga ilmu luhur, serta kesinambungan ajaran leluhur Nusantara.
Sastra, bermakna ilmu, pengetahuan, dan hikmah yang tersurat maupun tersirat.
Perpaduan keduanya menggambarkan ajaran Sunan Ampel yang mengedepankan ilmu, adab, dan kebijaksanaan, bukan kekerasan. Keris ini dipercaya bukan sekadar senjata, melainkan lambang dakwah—bahwa Islam disebarkan dengan keteladanan, akhlak mulia, dan pemahaman yang mendalam.

Secara simbolik, keris Naga Sastra sering digambarkan memiliki unsur naga pada gandik atau pamor, yang dimaknai sebagai penjaga ilmu suci. Hal ini selaras dengan peran Sunan Ampel sebagai pendidik ulama besar, seperti Sunan Giri, Sunan Bonang, dan Raden Patah. Keris ini dianggap sebagai pusaka yang “adem”, berwatak pengayom, menenangkan, dan menuntun pemiliknya agar selalu berada di jalan kebenaran.
Dalam kepercayaan Jawa, Kiyai Naga Sastra juga dikaitkan dengan tuah kawicaksanan, keteguhan iman, serta kemampuan menyatukan perbedaan. Ia menjadi simbol peralihan budaya: dari kepercayaan lama menuju Islam, tanpa menghilangkan kearifan lokal.

Hingga kini, keberadaan fisik keris ini tidak dapat dipastikan secara sejarah tertulis dan lebih hidup dalam tradisi lisan dan spiritual, namun maknanya tetap lestari sebagai lambang perjuangan Sunan Ampel dalam membangun peradaban Islam yang berilmu, beradab, dan berakar kuat di Nusantara. Dawuh _”Ki Wiro Kadeg WJ, Pendiri Yayasan Tlasih 87″_

Editor: Aminoto