Hari Anak Nasional: Momentum Menjaga Generasi, Mewujudkan Sistem Kampus Berdampak

 

Oleh: Dr. Sukma Sahadewa ( Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat & Kedokteran Keluarga Layanan Primer FK UWKS )

 

Setiap tanggal 23 Juli, bangsa Indonesia memperingati Hari Anak Nasional. Momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan kesadaran kolektif untuk melindungi, membimbing, dan memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan berkarakter. Anak adalah kelompok usia rentan, tetapi sekaligus aset strategis masa depan bangsa. Maka, mewujudkan derajat kesehatan anak yang optimal adalah investasi jangka panjang yang tak bisa ditunda.

Masalah kesehatan anak di Indonesia hingga hari ini masih menyimpan pekerjaan rumah besar. Stunting, gizi buruk, infeksi menular, kekerasan, hingga gangguan kesehatan mental pada anak menjadi isu yang terus membayangi. Data dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa meskipun tren perbaikan ada, prevalensi stunting dan kekurangan gizi akut pada anak balita masih berada di atas ambang batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Selain itu, semakin banyak ditemukan kasus gangguan kecemasan, trauma, dan stres pada anak yang muncul sejak dini, sebagian besar tidak terdeteksi karena minimnya pemahaman dan kurangnya akses layanan.

Tantangan ini tidak hanya bisa diselesaikan oleh sektor kesehatan semata. Diperlukan pendekatan lintas sektor yang melibatkan pendidikan, keluarga, masyarakat, dan institusi-institusi akademik. Dalam konteks inilah, Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FK UWKS) memandang bahwa tanggung jawab menjaga kesehatan anak bukan hanya tugas pemerintah atau dokter anak di rumah sakit, tetapi merupakan misi kolektif yang harus menjadi bagian dari visi institusi pendidikan kedokteran.

FK UWKS membawa visi sebagai kampus yang berdampak—yakni institusi yang tidak hanya mencetak dokter yang andal secara akademik, tetapi juga hadir di tengah masyarakat dengan kontribusi nyata. Salah satu fokus utama adalah upaya penanggulangan masalah kesehatan di usia rentan, khususnya anak-anak, melalui pendekatan promotif, preventif, dan intervensi berbasis komunitas.

Mahasiswa FK UWKS dibekali pemahaman bahwa anak-anak bukan sekadar objek dalam praktik klinik, tetapi subjek pembangunan kesehatan yang harus didengar, dipahami, dan dilibatkan. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat, misalnya, FK UWKS aktif menyelenggarakan skrining gizi balita, pemeriksaan tumbuh kembang, edukasi ASI eksklusif, hingga penyuluhan kesehatan reproduksi remaja di sekolah-sekolah. Kegiatan ini dilakukan bukan sekadar formalitas KKN atau tugas akademik, tetapi sebagai upaya nyata membangun kedekatan dengan komunitas dan mengenali tantangan di lapangan.

Lebih dari itu, pendekatan kesehatan anak yang dibangun FK UWKS tidak hanya berorientasi pada tubuh fisik, tetapi juga pada aspek mental dan sosial. Dalam kurikulum kedokteran komunitas dan kesehatan jiwa, mahasiswa diajak memahami dinamika psikososial anak—termasuk dampak kekerasan dalam rumah tangga, pola asuh toksik, dan tekanan akademik—yang diam-diam dapat memengaruhi kualitas hidup dan masa depan anak. Mahasiswa diajak untuk berpikir lintas disiplin, bekerja bersama psikolog, guru, dan tokoh masyarakat, agar bisa memberikan layanan yang menyeluruh dan berkelanjutan.

FK UWKS juga mulai mengembangkan model pendekatan keluarga dan komunitas berbasis data. Melalui kolaborasi dengan puskesmas, kader posyandu, dan RT/RW, data mengenai status gizi, imunisasi, dan kondisi psikososial anak di wilayah tertentu dikumpulkan dan dianalisis. Ini bukan sekadar proyek riset, tetapi upaya membangun intervensi yang tepat sasaran dan berdampak nyata. Sistem digital pencatatan berbasis komunitas juga sedang dikembangkan sebagai bagian dari transformasi layanan kesehatan primer yang didukung teknologi.

Dalam visi besar Kampus Berdampak, FK UWKS menyadari bahwa membangun masa depan kesehatan bangsa berarti membangun kesehatan anak sejak dini. Melindungi mereka dari stunting, kekurangan gizi, TBC, infeksi saluran pernapasan, gangguan mental, dan bahaya kekerasan adalah bentuk nyata dari cinta terhadap generasi penerus. Ini bukan kerja satu dua tahun, melainkan komitmen jangka panjang yang harus terus diperkuat melalui pendidikan, pelayanan, dan riset.

Hari Anak Nasional bukan sekadar momen untuk mengucapkan slogan “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”, melainkan panggilan untuk bertindak. Bagi FK UWKS, bertindak berarti hadir di komunitas, membangun kolaborasi, dan menciptakan dokter-dokter masa depan yang peka, peduli, dan berdedikasi. Pendidikan kedokteran bukan hanya tentang menghafal penyakit, tetapi tentang memahami manusia secara utuh—terutama mereka yang paling lemah dan paling butuh perlindungan: anak-anak.