*Rasa Kangen yang Dahsyat*

 

Oleh : Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS

Alhamdulillah kita telah diberi rasa kangen sebagaimana rasa-rasa yang lain. Seperti betapa besarnya nikmat rasa kantuk, ketika kita bayangkan bila kita tidak punya rasa kantuk yang ada hanya tidur dan jaga, maka ketika beraktifitas misalnya mengajar dan sampai pada batas kemampuan jaga habis maka yang terjadi adalah langsung tidur tanpa ada tanda-tanda sehingga betapa bahayanya. Bisa kita bayangkan ketika kita mengendarai mobil atau motor dan kehabisan kemampuan jaga, maka sangat berbahaya. Alhasil terbayang bagaimana pentingnya dan bermaknanya pemberian nikmat berupa rasa kantuk.

Beda halnya dengan rasa kangen, ketika kita telah selesai bekerja maka sesuatu yang kita tunggu dan kita kangeni adalah upah atau gaji dari paket pekerjaan yang telah kita selesaikan. Apabila kita tidak punya rasa kangen, maka yang ada adalah ketidak jelasan terhadap niat untuk melakukan kerja tersebut. Hal ini bisa dilebarkan untuk segala sesuatu perbuatan. Kita perlu mengkritisi di mana sudut pentingnya rasa kangen sehingga kita bisa merasakan arti besarnya nilai kangen.

Kesepakatan atau kontrak kerja menjadi kata kunci dalam menelaah rasa kangen dalam suatu aktivitas yang kita lakukan. Kita langsung sambung dengan kontek penerimaan hak ketika kewajiban telah kita selesaikan sesuai dengan kontrak. Sehingga kita bisa ilustrasikan rasa kangen di sini sungguh sangat menyenangkan yakni kita tunggu hak kita yang seharusnya segera kita terima, bahkan dalam kontek ini majikan segera memberikan upahnya sebelum keringat kering. Hal ini terkait dengan kedua pihak yakni yang memberikan pekerjaan agar supaya cepat membayar, dan menerima hak yakni pekerja yang merasakan nikmat setelah haknya diperoleh.

Kontrak dalam hidup dan kehidupan kita sebagai manusia ini juga demikian, manusia berperan sebagai calon penerima hak upah sedangkan pencipta yakni Al-Kholiq berperan sebagai pemberi hak. Ketika kita sudah merasa telah melaksanakan kewajiban beribadah dan akan tiba saat terakhir pelaksaan ibadah, yang disebut Sakaratul Maut, maka yang terpikir adalah upah-sekali lagi upah. Sungguh Allah SWT tidak akan mengingkari janji bagi hambanya yang telah taat menjalankan ibadah. Upah akan segera ditampilkan di sa’at sakaratul maut, yakni Gambaran berupa ke mana kita akan pergi ke surga atau neraka. Sudah tidak asing bagi kita bahwa orang yang sudah melakukan kewajiban dalam kontrak maka akan wafat dengan kondisi senyum. Indikasi lain adalah Ketika janazah dibawa ke pemakaman maka janazah tersebut akan lari, meskipun yang terlihat yang lari adalah pemikulnya, sungguh hakekatnya janazahnya yang minta dibawa lari. Hal ini sesungguhnya makna sebenarnya arti kangen yang sangat dahsyat dalam kehidupan kita, kangen yang sangat Bronto untuk ingin cepat mendapatkan upah dari Allah SWT berupa SURGA. Semoga kita semua akan berkisah seperti ini Allahumma aamiin.

Semoga manfaat barokah slamet aamiin.
Surabaya, 2 Muharrom 1447 /28 Juni 2025
m.mustain