Tuhan Diseret ke Medan Perang

Catatan Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH, MH Ketum PP HPK.

Apa yang selama ini ditakutkan masyarakat dunia akhirnya benar-benar terjadi: konflik bersenjata di Timur Tengah kembali meletus dengan skenario yang lebih mengerikan dan absurditas yang lebih nyata.

Bukan hanya Israel yang semakin brutal menggempur Gaza hingga rata dengan tanah tetapi juga Iran yang akhirnya melepas belenggu embargo puluhan tahun dan mengguyur langit Israel dengan hujan rudal balistik. Amerika Serikat, tentu saja, tidak tinggal diam. Mereka tampil bak juru selamat dalam film fiksi Hollywood dan mengirimkan bom ke Teheran.

Lucu atau tragis?. Masing-masing pemimpin negara yang sedang berperang ini memanggil Tuhan. Berdoa minta diberi kemenangan. Minta lawan diluluhlantakkan. Minta Tuhan berdiri di pihak mereka. Dan yang lebih mencengangkan, ketiga negara ini —Israel, Iran dan Amerika adalah representasi dari tiga agama besar dunia, yaitu Yahudi, Islam dan Kristen.

Tiga agama Abrahamik. Tiga agama yang konon berasal dari satu rumpun. Tiga agama yang katanya bertuhan satu. Tapi sekarang saling berlomba minta izin kepada Tuhan yang sama untuk saling membunuh.

*MONOTEISME Atau MONODUALISME?*
Pertanyaannya sederhana namun membingungkan: Tuhan siapa yang sebenarnya mengabulkan doa pemboman? Apakah Tuhan Kristen lebih suka menyaksikan kehancuran Iran? Atau Tuhan Islam sedang mengangkat Iran sebagai tangan keadilannya untuk menghukum Israel? Ataukah Tuhan Yahudi tengah menguji kesabaran dunia dengan kekejaman yang tak masuk akal?

Jika benar hanya ada satu Tuhan, kenapa Tuhan yang satu itu bisa mengabulkan permohonan bertentangan dari tiga pihak sekaligus?

Apakah Tuhan menggelar undian tiap pagi sebelum perang? “Hari ini giliran Iran menang. Besok Israel. Lusa Amerika. Tuhan juga butuh variasi!”

Atau jangan-jangan, yang mereka panggil-panggil itu bukan Tuhan, melainkan ambisi kekuasaan yang mereka beri nama Tuhan?

Iran, negara yang sejak Revolusi Islam 1979 diboikot, dikucilkan, dan dijatuhkan ekonominya oleh Amerika dan sekutunya, mendadak tampil sebagai kekuatan kejutan. Dalam satu malam, lebih dari 300 rudal dan drone diluncurkan ke jantung pertahanan Israel. Israel panik, sistem pertahanan “Iron Dome” yang selama ini dibanggakan ternyata megap-megap di bawah serbuan yang bertubi-tubi.

Israel yang semula merasa superior akhirnya limbung. Israil yang selama ini punya reputasi sebagai penggempur ulung tiba-tiba meminta bantuan pada Tuhan versi Donald Trump. Dan seperti adegan klimaks dalam film superhero, Amerika pun datang… dengan bom.

Lagi-lagi… mereka mengucap syukur. “Thanks God”. Karena bom mereka berhasil menewaskan jenderal Iran. Bahkan ketika darah belum kering di jalanan Teheran.

Dalam situasi ini, tampaknya Tuhan hanya punya dua pilihan: ikut membenarkan kekerasan atau menonton manusia menggunakan namanya untuk membantai?.

Apa yang membuat dunia benar-benar geleng-geleng kepala adalah kemiripan narasi suci yang digunakan masing-masing pihak. Semuanya merasa perang ini adalah “demi kebenaran”, “atas restu Tuhan”, bahkan merasa “jihad”.

Padahal, jika kita menilik esensi dari tiga agama ini semuanya mengajarkan cinta kasih, moralitas, dan penghargaan terhadap sesama manusia.

Yahudi punya nilai Tikkun Olam—memperbaiki dunia.

Kristen punya pesan kasih Yesus: “Kasihilah musuhmu.”

Islam mengajarkan bahwa membunuh satu manusia tanpa alasan yang benar sama saja dengan membunuh seluruh umat manusia.

Sekarang, apa kabar ajaran-ajaran ini, dan bagaimana para penulis kitab suci itu????
Jika semua pihak menyebut perang ini sebagai misi ilahi maka di atas sana Tuhan pasti sedang kebingungan .

*LOGIKA PURBA*
Ironisnya, di zaman teknologi tinggi ini ketika manusia bisa membuat AI, rudal hipersonik juga bom presisi, dalam hal spiritual mereka tetap menggunakan logika zaman purba. Segala kemenangan dianggap “berkat Tuhan”. Segala kekalahan dianggap “ujian Tuhan”. Aneh bin nyata.

Sebagaimana manusia purba yang belum mengenal sains menjelaskan petir dengan “Tuhan sedang marah”, kini pemimpin negara modern menjelaskan kehancuran musuh dengan “Tuhan merestui”.

Sungguh Tuhan telah “dimanusiakan” dalam bentuk paling sempit: pendendam, partisan, maha brutal, DISKRIMINASI, seluruh ego manusia adalah wujudnya Tuhan….

Padahal kalau Tuhan benar-benar seperti yang digambarkan kitab suci —Maha Pengasih, Maha Adil, Maha Bijaksana —Demokratis, tidak pilih kasih, tentu Ia lebih memilih mencegah peperangan bukan malah mendukungnya. Tapi sayang, Tuhan kini lebih sering dijadikan juru kampanye partai politik, juru kampanye para rohaniawan juru kampanye salesman agama,juru kampanye militer ketimbang sumber moralitas universal dan sumber kemanusiaan sebagai akar perdamaian.

Dalam suasana kacau balau ini, satu suara muncul dari Asia Tenggara. Presiden Prabowo pada Forum Ekonomi Petersburg 2025 berkata, “Politik luar negeri kami sederhana: seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.”

Ia menolak ikut berpihak dalam kegilaan global ini. Indonesia memilih jalur damai. Tapi tentu saja suara Indonesia seperti bisikan di tengah gemuruh rudal, nyaris tak terdengar. Mungkin karena suara “Tuhan-Tuhan” yang mereka dengar jauh lebih keras, apalagi bersenjata.
Tiba-tiba suara mysteri terdengar sayup *” dengarkan aku “*

*TUHAN: KORBAN ATAU TERSANGKA*

Maka dalam segala kebingungan ini kita patut bertanya, apakah Tuhan hanya menjadi korban propaganda atau malah tersangka utama dalam legitimasi kekerasan dan pembunuhan manusia, atau Apakah Tuhan butuh klarifikasi? Atau justru kita yang perlu membenahi cara kita memahami Tuhan????

Jika Tuhan memang maha segalanya maka Dia tidak akan pernah membiarkan diri-Nya diseret ke medan perang Ego oleh manusia-manusia pongah yang gemar berdoa sambil meledakkan kota , berdoa sambil memotong leher saudara nya sendiri, meledakkan supermarket, memuji Muja kemenangan perang,

Tanpa perang hidup kita sudah rumit, Cari uang sulitnya bukan main. Banyak orang sakit, kekurangan makan dimana mana, miskin dan terpinggirkan, ditengah pesta pora para koruptor….hukum dan keadilan sudah mati, Dunia sedang menghadapi krisis iklim, krisis ekosistem alam dan ketimpangan sosial semakin brutal, semakin terasa melebar jurang antara si miskin dan yg kaya raya, hedonistik semakin menjadi tujuan hidup, tetapi Para politisi dan pemimpin rohani bukannya menyadari hal ini untuk ikut menyelesaikan masalah, tetapi para pemimpin malah memanggil Tuhan di rumah rumah besar sucinya untuk membuat masalah baru.

Jika Tuhan benar-benar Maha Pengasih, dan tulisan tulisan Agama itu adalah buku-buku suci, mungkin saatnya Tuhan menjawab doa manusia bukan dengan kemenangan perang tetapi dengan suara-suara lembut kesadaran moral, kesadaran jiwa’, kesadaran nurani….bahwa membunuh atas nama Tuhan adalah kebodohan paling agung, ketersesatan dan bila tidak lagi punya jiwa’ Tuhan Yg mereka ciptakan merupakan Tuhan Kematian bhatin serta Tuhan Yang mereka sembah telah menciptakan DISKRIMINASI dg seluruh ego yang dimiliki nya.

Penulis:
Mysteri Nusantara
Hadi PRAJOKO
Senin 23 Juni 2025