
Prof. Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Seperti dipaksakan persoalan ibadah digunakan kata kwantitatif atau jumlah dan kwalitatif atau mutu. Tetapi masih bisa difahami bahwa maksudnya kwantitatif adalah terbilang hitungannya, sedangkan kwalitatif adalah merupakan besaran yang tidak bisa dibilang secara pasti. Contoh besaran kwalitatif jaraknya *jauh*, sedangkan besaran kwantitatif jaraknya *seribu kilometer*. Dengan demikian besaran kwantitatif lebih persis.
Demikian besaran tersebut juga bisa digunakan dalam upaya peningkatan ibadah. Contoh sholat, tidak hanya 17 roka’at yang wajib tetapi bisa ditambahkan sekian macamnya sholat sunat. Zakat, tidak hanya zakat fithrah dan mal saja tetapi bisa ditambahkan shodaqoh, infaq, jariyah, dan hibah. Puasa, juga tidak hanya romadlon saja tetapi sekian banyak macam puasa sunnah seperti puasa arofah dan lainnya. Haji, juga demikian tidak hanya sekali yang wajib saja tetapi bisa ditambahkan haji dan umroh sunnah.
Besaran kwalitatif bila diterapkan pada ibadah, maka setidaknya ada tiga standar ukuran yang juga bersifat kwalitatif yakni; Khusyu’, Khudlu’, dan Tadlorru’.
Referensi Meta AI memberikan, “Chusyu'” (خشوع) atau lebih umum dieja sebagai “Khusyu'” adalah istilah dalam bahasa Arab yang berarti “tenang”, “khidmat”, atau “konsentrasi penuh” dalam melakukan ibadah, terutama shalat. Khusyu’ adalah keadaan hati dan pikiran yang fokus pada Allah saat beribadah, sehingga seseorang dapat merasakan kehadiran Allah dan mendapatkan manfaat spiritual dari ibadahnya. Dalam shalat, khusyu’ berarti memperhatikan setiap gerakan dan bacaan shalat dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan, tanpa gangguan pikiran atau perasaan yang lain.
“Khudlu'”( خضوع ) berarti “merendahkan diri”, “patuh”, atau “tunduk” kepada Allah SWT. Khudlu’ seringkali dikaitkan dengan sikap hati yang rendah hati dan patuh kepada perintah Allah, serta merasa diri hina di hadapan-Nya. Dalam konteks ibadah, khudlu’ merupakan salah satu aspek penting yang menunjukkan kesadaran akan kebesaran Allah dan kelemahan diri sendiri. Sikap khudlu’ dapat membantu seseorang untuk lebih fokus dan khidmat dalam beribadah khususnya sholat.
“Tadlorru'”( تضرع ), Meta AI, berarti “merendahkan diri dengan penuh harap dan ketundukan” kepada Allah SWT. Tadhorru’ seringkali dikaitkan dengan doa atau permohonan yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan kelemahan diri sendiri dan kebesaran Allah, sambil menunjukkan kerendahan hati dan harapan akan rahmat-Nya. Dalam Al-Qur’an, tadhorru’ disebutkan sebagai salah satu sikap yang diharapkan dari seorang hamba ketika berdoa dan memohon kepada Allah, terutama dalam situasi sulit atau ketika menghadapi masalah. Namun, perlu diperhatikan bahwa tadhorru’ bukan hanya tentang mengucapkan kata-kata, tetapi juga tentang sikap hati yang sungguh-sungguh merendahkan diri dan berharap kepada Allah.
Alhasil, alangkah indahnya bila kita bisa menggabungkan peningkatan kwantitas dan kwalitas ibadah. Semoga analisa sedikit ini bisa menjadi tambaham motivasi untuk meningkatkan ibadah kita, Allahumma aamiin.
Semoga manfaat barokah slamet dunia akhirat aamiin.
🤲🤲🤲
Surabaya, 24 Dzulhijjah 1446 / 20 Juni 2025
m.mustain
