
Tokoh PWI LS Nasional KRT. Faqih Wirahadiningrat wawancara langsung dengan KRT. Dr. Husnu Mufid, M.PdI Pemimpin Redaksi menaramadinah.com setelah Bertemu Sayyid Anas Al Kutbi Al Idrisi Al Hasani Naqib di Madinah. Begini hasil wawancaranya :

Bagaimana kesan bertemu dengan Sayyid Anas ?
Jawab :
Berjumpa dengan Sayyid Anas Al Kutbi Al Idrisi Al Hasani adalah bagian dari silaturahmi yang sangat penting, bermanfaat san strategis. Dikarenakan posisi beliau sebagai Ketua Naqib dari Naqobah Saadatul Asyrof Madinatul Munawwaroh. Yaitu Ketua Pencatat Nasab Nabi SAW di Kota Madinah.
Mengapa bisa dikatakan demikian?
Jawab :
Karena Kota Madinah adalah tempat Rosulullah menghabiskan sisa usianya dan hidup bahagia setelah sebelumnya mengalami perjuangan dan tantangan di dalam memperjuangkan risalahnya di Mekkah sebagai Kota Kelahirannya. Islam juga menemukan titik balik kejayaan dan kemenangan demi kemenangan pasca Rosulullah hijrah ke Madinah. Dan pada akhirnya Rosulullah wafat dan dimakamkan di kota yang bercahaya tersebut. Sosok manusia paling agung sepanjang sejarah tersebut menjadikan Madinah sebagai pusat pergerakan dan pemerintahan hingga jaman era Khulafaur Rosyidin. Hingga nantinya era tersebut berakhir dengan diganti oleh Dinasti Umayyah pasca Sayyidina Ali bin Abi Tholib (Khalifah ke-4).
Di seluruh Negara Saudi Arabia memang Naqobah memang berpusat di Madinah. Artinya sosok Sayyid Anas benar-benar strategis dalam urusan pencatatan nasab keturunan Nabi SAW.
Apa bedanya ?
Jawab :
Hal ini berbeda dengan era Kesyarifan Makkah, yaitu daerah otoritatif setingkat Gubernur di jaman Dinasti Ustmani bagi penguasa Hijaz (termasuk Haromain, Makkah-Madinah). Karena dahulu kala pusat pemerintahan dan kenaqiban berada di Kota Suci Makkah.
Apa pernah menghukum Habib Ba’alawi ?
Jawab :
Tercatat pada tahun 1882, pada jaman Syarif Mekkah yaitu Syarif Aun Arrafiq, pernah menghukum takzir (cambuk) kepada beberapa oknum Habaib klan Ba’alawi dari Yaman, dan dilarang memakai gelar Sayyid-Syarif pada mereka.
Gelar Sayyid-Syarif ini adalah gelar resmi bagi keturunan Baginda Nabi SAW. Artinya dengan dilarangnya mereka memakai gelar tersebut maka berarti Klan Ba’alawi Yaman tidak diakui sebagai keturunan dari Baginda Nabi SAW.
Apa berdiskusi dalam pertemuan itu ?
Jawab :
Dalam silaturahmi tersebut terjadi diskusi yang hangat dan ilmiah dengan beliau (Sayyid Anas). Terutama terkait adanya pertanyaan bahwa beliau dikenal sebagai Naqib yang sangat lunak kepada Klan Ba’alawi. Terutama dalam kitabnya yang berjudul Al Ushul beliau dianggap mengakui keabsahan nasab Ba’alawi. Dan viral pula beliau dikenal menolak tes DNA untuk penetapan nasab seseorang terutama untuk nasab jauh.
Selama Diskusi gimana beliaunya ?
Jawab :
Dalam diskusi yang sangat bersahabat dan penuh suasana persaudaraan tersebut, karena Sayyid Zulfikar Al Idrisi dari Indonesia sempat gabung dengan video call, maka diperoleh keterangan yang sangat jelas dan gamblang.
Apa keterangannya ?
Jawab :
Yaitu yang pertama :
1. Beliau sebagai Naqib tentu saja menjaga ‘akhlaqun nabawiyah’, atau ketauladanan akhlaq dari Baginda SAW. Yaitu menghindari vonis yang membabi-buta dan menyakiti hati orang lain. Terlebih Ba’alawi tidak banyak membuat ulah seperti di Indonesia (rasis dan dongeng khurofat).
2. Beliau seorang yang sangat ilmiah, dan cinta akan ilmu pengetahuan. Kami diajak ke ruang perpustakaan pribadinya di lantai paling atas, dimana terdiri dari sekitar 25.000 kitab dari berbagai jenis bidang ilmu keagamaan. Bahkan ada beberapa kitab yang usianya hampir 500 tahunan. Jadi ketika beliau menulis sesuatu selama ada dasarnya maka itu syah-syah saja sebagai kajian ilmiah.
3. Dalam salah satu kajiannya beliau menulis bahwa Nasab Ba’alawi tercatat dalam sejarah diakui oleh Naqobah Mesir. Hal ini tidak aneh karena Naqobah Mesir pernah diakuisisi oleh Dinasti Fathimiyyah pada jaman Muiz Lidinillah. Dinasti ini terkenal sebagai pengikut Syiah Rafidah yang sangat keras dan palsu. Mereka mengaku-ngaku sebagai dzurriyah Nabi padahal bukan. Mereka juga menyongsong Sekte Qoromithah dari Bahrain. Dimana di era tersebut sering membuat kekacauan berdarah, termasuk pembunuhan 30 ribu jamah Haji di Masjidil Haram pada tahun 317 Hijriah. Selanjutnya Hajar Aswad dicongkel dan dibawa ke Bahrain selama 22 tahun sebelum dikembalikan ke Ka’bah Baitullah. Segala kejahatan tersebut layak menjadi catatan kelam bagi Dinasti Fathimiyyah yang nantinya dihancurkan oleh Pasukan Salahuddin Al Ayyubi atas fatwa Syekh Abdul Qodir Al Jilani Al Hasani. Tentunya semua sejarah diatas risak pernah luput dalam kajian kitisnya Jadi misal beliau mengupas segala sesuatu pasti harus sesuai dengan data yang ada saja. Bahwa di jaman Fathimiyyah Nasab Ba’alawi diakui karena untuk mengukuhkan kekuasaannya maka segala cara dan dukungan digalang oleh Fathimiyyah. Sebagai sarjana Islam alumni dari Mesir tentunya literasi History Mesir termasuk Fathimiyyah pasti menjadi bagian dari
4. Apabila ada tuduhan bahwa beliau mengakui nasab Ba’alawi maka boleh dibalik dengan pertanyaan, adakah isbat nasab yang pernah beliau keluarkan untuk Klan Ba’alawi? Kalo tidak ada, maka sesungguhnya wacana tidak akan pernah mengalahkan aksi nyata.
5. Yang terakhir, terkait tes DNA. Memang tidak semua.
Bagaimana Saat Bahas Ba’alawi ?
Jawab :
Ketika membahas terkait Klan Ba’alawi di Nusantara, beliau dengan tegas mengatakan bahwa apa yang dilakukan mereka adalah jelas-jelas batil.
Karena :
1. Nasab itu bukan untuk kebanggaan, tetapi hanya untuk silaturahmi dan ketauladanan.
2. Dalam konsep keadilan Islam, siapa saja yang bersalah maka tidak akan terlepas dari hukuman. Dan manusia dinilai dari sisi ketaqwaannya di hadapan Allah SWT.
3. Cerita khurofat yang tidak masuk akal dan menabrak syariat seperti beberapa datuk Ba’alawi yang pernah Mi’raj jelas itu batil dan tidak boleh dipercaya.
4. Sikap rasis yang merasa rasnya lebih mulia juga jelas dikecam oleh Islam. Karena Islam mengajarkan kesetaraan dan persaudaraan sejati karena Allah, bukan karena takdir keturunan.
5. Apalagi setelah melihat video dan unggahan di Medsos terkait caci-maki Klan Ba’alwi termasuk arogansi oknum-oknumnya hingga dicium kakinya sebagai bentuk. kebaktian, maka berkaca-kacalah mata beliau. Entah ini bagian dari sedih melihat hal tersebut atau ada hal lain, penulis tidak kuasa untuk memberi penafsiran lebih jauh. Tetapi setelah melihat banyak hal tersebut beliau menjadi sangat bersemangat untuk mengajak rombongan penulis melihat-lihat rumah beliau dan perpustakaannya.
6. Penulis merasa tersanjung ketika tuan rumah menyampaikan bahwa kapanpun kami ke Madinah dipersilahkan menginap dan mampir. Beliau berkata, anda sejak saat ini menjadi raja bagi saya dan rumah saya adalah rumah anda juga, jangan ragu dan sungkan untuk kapanpun mampir kesini.
7. Yang berikutnya, beliau siap menerima undangan kami ke Indonesia seandainya dibutuhkan untuk memberi pencerahan dan meluruskan terkait kaidah penetapan nasab yang benar dan bagaimana seharusnya berakhlaq sesuai ketauladanan dari Nabi SAW. Apalagi mengaku sebagai keturunan Nabi, maka seharusnya menjadi yang terutama dan terdepan di dalam mentauladaninya. Dan apabila melakukan sebaliknya, maka tentu saja hal tersebut akan sangat-sangat memalukan dan mencoreng kesucian Nabi SAW itu sendiri.
Demikian yang bisa disampaikan terkait kunjungan dan silaturahmi di kediaman Sayyid Anas Al Kutbi Al Idrisi Al Hasani, seorang Naqib yang rendah hati dan sangat ramah. Semoga ke depannya atas dukungan pemerintah Saudi maupun secara mandiri, Kenaqiban Madinah dapat lebih aktif menyuarakan kebenaran, sekaligus dapat lebih terbuka dan modern di dalam pengkajian terkait pernasaban, terlebih itu adalah Nasab Nabi SAW yang menyangkut kesuciannya. Karena sekali terjadi pemalsuan nasab, maka rentan untuk terjadi Perbudakan Spiritual dan Kapitalisasi berkedok agama.
Akhirul kalam, Salam Sejahtera untuk semuanya dari Kota Suci Madinah Al Munawwaroh,
Faqih Wirahadiningrat (sebagaimana dituturkan kepada Redaktur Menarah Madinah)
