Sekjen PBNU Gus Ipul: Ilmu dan Barokah adalah Kunci Berkhidmat Kader Pemimpin NU

JOMBANG –Ilmu dan barokah merupakan kunci utama dalam membangun kepemimpinan kader NU yang kuat, berkarakter, dan istiqamah dalam khidmat.

“Kunci utama dalam berkhidmat di NU adalah ilmu dan barokah. Ilmu harus terus ditambah, dan barokah harus dicari. Kalau tidak dapat ilmunya, minimal dapat barokahnya. Karena mencari berkah itu juga penting,”.

Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal PBNU, H. Saifullah Yusuf (Gus Ipul), saat memberi pembekalan dalam Pelatihan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMK NU) yang digelar di Pesantren Darul Ulum Jombang, Kamis (29/05/2025).

Ikut hadir dalam acara itu, KH Abdul Hakim Mahfudz Ketua PWNU Jawa Timur. KH. Ahmad Hasan Rois Syuriah NU Jombang, KH. Fahmi Ketua Tanfidziyah NU Jombang. KH. Afifuddin Dimyathi pengasuh PP. Darul Ulum Rejoso Jombang.

Menurut Gus Ipul, NU bukan sekadar organisasi, melainkan instrumen peradaban yang berdiri di atas fondasi nilai keilmuan, tradisi, dan keberkahan. Oleh karena itu, semangat khidmat harus melekat dalam diri setiap kader.

“Ingat, kita yang butuh NU, bukan NU yang butuh kita. Maka, di mana pun berada, kader NU harus siap mengabdi dengan ilmu dan keikhlasan,” tegasnya.

Gus Ipul juga mengingatkan tantangan zaman yang kompleks tak boleh melunturkan akar tradisi keagamaan NU. Ia menyoroti pentingnya menjaga amaliyah klasik seperti tahlil dan kegiatan keagamaan lainnya di tengah arus modernisasi.

“Jangan sampai, atas nama teknologi dan kemajuan, tahlil rutin dan amalan khas warga NU justru ditinggalkan. NU ini berdiri di atas ilmu, tradisi, dan barokah. Ketiganya tidak boleh dipisahkan,” katanya

Dalam perspektif keulamaan, ia mendorong para kader untuk menjadi generasi liyatafaqqahu fiddin—mereka yang sungguh-sungguh memperdalam agama agar mampu menjawab berbagai tantangan sosial, kebangsaan, dan keumatan.

Gus Ipul yang juga Menteri Sosial ini, tak hanya berbicara soal keagamaan, namun juga menyoroti persoalan ketimpangan sosial dan pendidikan di kalangan masyarakat miskin ekstrem. Ia mengusulkan agar pesantren mulai terlibat lebih jauh dalam solusi pendidikan berbasis sekolah rakyat.

“Mengapa tidak kita tempatkan sekolah rakyat di pesantren? Anak-anak dari kalangan miskin ekstrem butuh penanganan khusus, baik dari sisi akademik maupun kesehatan. Mereka tak bisa disamaratakan. Tes akademik tak relevan bagi mereka, yang lebih penting justru tes kesehatan dan pendampingan khusus,” jelasnya.

Gus Ipul juga memaparkan data terkait bantuan sosial yang telah dijalankan pemerintah, khususnya untuk keluarga miskin. Ia menekankan bahwa keberhasilan program tersebut memerlukan sinergi antara pemerintah dengan jajaran NU di akar rumput, termasuk pengurus Ranting dan MWC.

“Pendampingan dari pengurus NU sangat dibutuhkan untuk menyukseskan program-program sosial pemerintah. Karena NU memiliki kepedulian terhadap tiga isu penting: ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Ini adalah fokus kita bersama yang harus ditangani secara serius,” ungkapnya.

Acara ini sangat menarik, terbukti beberapa peserta sangat antusias mengikuti pemaparan dari beliau dengan melontarkan berbagai pertanyaan. Gus Ipul dengan gaya lugas dan humorisnya, mampu menghidupkan suasana acara pembekalan dalam pengkaderan ini.*Imam Kusnin Ahmad*